JawaPos.com - Pasca gempa bumi yang mengguncang kawasan Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), warga di Desa Latung, Kecamatan Cibal Barat, harus berjuang bertahan hidup dalam kondisi serbaterbatas.
Hingga saat ini, pasokan bantuan resmi dari pihak pemerintah belum merata dan belum menjangkau kawasan permukiman mereka.
Akibatnya, kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia mulai mengalami gangguan kesehatan serius akibat paparan cuaca ekstrem di tempat pengungsian yang mereka bangun mandiri.
Baca Juga: Chelsea Menang, Joao Pedro Ungkap Rahasia Kerja Sama dengan Palmer dan Rogers
Kondisi geografis dan guncangan gempa susulan yang masih terus berulang memaksa masyarakat setempat enggan beraktivitas di dalam rumah.
Bangunan yang mengalami kerusakan struktural retak hingga roboh total membuat warga terpaksa mendirikan tenda mandiri dengan perlengkapan seadanya di depan rumah.
Satu Tenda Disesaki Hingga Tiga KK, Bantuan Pemerintah Masih Nihil
Ketersediaan tenda darurat yang minim membuat pola pengungsian di Desa Latung jauh dari kata layak. Warga terpaksa memanfaatkan bahan bangunan sisa dan bantuan swadaya seadanya dari pihak swasta maupun LSM lokal yang jumlahnya terbatas.
"Kalau di kampung saya ini bahkan ya baru satu atau dua terpal yang ada dari bantuan itu. Ya ada yang gabung 1 sampai 2, 3 KK (dalam satu tenda). Karena memang sesuai dengan bahan yang kita miliki, yang kita punya," ujar Nikolaus Tolen, salah seorang warga terdampak di Kampung Tonggong, Desa Latung, kepada JawaPos.com, Rabu (26/8).
Baca Juga: Ramalan Kesehatan Zodiak Taurus Rabu, 26 Agustus 2026: Perhatikan Kondisi Pencernaan
Niko menambahkan, kecemasan warga bertambah karena frekuensi gempa susulan yang belum mereda.
"Sebenarnya masih layak untuk dihuni tapi karena sering muncul gempa susulan itu yang kita takut, makanya tidak pernah tidur dalam rumah lagi," lanjutnya.
Cuaca Ekstrem Memicu Masalah Kesehatan Kelompok Rentan
Fasilitas pengungsian yang tidak memadai ini langsung berdampak buruk pada kondisi fisik para pengungsi. Perubahan suhu udara yang sangat drastis antara siang dan malam hari menjadi pemicu utama menurunnya daya tahan tubuh warga, khususnya balita dan lansia.
Kondisi tenda yang terasa sangat panas di bawah terik matahari siang berbalik menjadi sangat dingin ketika malam tiba. Akibat paparan kondisi tersebut, berbagai penyakit saluran pernapasan mulai menyerang para penyintas musibah.
"Siang malam itu bertahan di tenda saja. Siangnya panas, malamnya dingin, itu yang bikin drop kondisi fisik badan. Anak saya memang sudah mulai kena sakit, pilek, batuk. Kemudian orang tua-orang tua juga sudah mulai pada batuk, pilek," ungkap Niko.
Baca Juga: Mitra Keluhkan Kepala Dapur SPPG Tak Masuk Lebih Dari Sebulan, Kepala BGN Ancam PTDH
Krisis Obat-Obatan dan Ketiadaan Tenaga Kesehatan Formal
Dampak dari keterbatasan logistik ini kian memprihatinkan karena belum hadirnya petugas medis atau utusan institusi kesehatan resmi dari pemerintah di lokasi pengungsian Desa Latung.
Penanganan kesehatan sementara ini hanya mengandalkan inisiatif mandiri dari warga setempat yang memiliki latar belakang pendidikan kesehatan (nakes), serta pasokan bantuan vitamin darurat yang jumlahnya sangat terbatas.
"Kalau dari institusi (tenaga kesehatan) tidak ada. Ya karena kebetulan ada dari keluarga-keluarga kita juga yang sebagai nakes, ya mereka bantu-bantu kita saja. Paling yang kita dapat itu dari pihak gereja, satu anak dapat dua tablet vitamin, itu saja sudah," katanya.
Desakan Bantuan Logistik dan Logistik Darurat
Melihat kondisi yang semakin mengkhawatirkan di lapangan, warga sangat mengharapkan intervensi cepat dari pemerintah daerah maupun pusat untuk segera meninjau dan mendistribusikan bantuan secara langsung ke Desa Latung.
Kebutuhan yang dinilai paling mendesak saat ini meliputi tenda pengungsian yang layak dan nyaman, perlengkapan tidur, selimut untuk menahan udara dingin malam, serta pasokan obat-obatan dan suplai suplemen vitamin.
"Harapannya yang kami minta sekarang itu ya paling tidak turunlah untuk meninjau kami. Kemudian sebisa mungkin segera turunkan bantuan-bantuan," imbuh Niko.