← Beranda
Usai Bencana Alam, Konflik Harimau Sumatera dengan Masyarakat Termasuk Kategori Sangat Tinggi
Syahrul YunizarJumat, 14 Agustus 2026 | 02.43 WIB
Petugas BKSDA Sumbar mengevakuasi Harimau Sumatera di Wilayah Agam pada Rabu (12/8). (BKSDA Sumbar)

JawaPos.com - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat (Sumbar) tengah mencari tahu penyebab meningkatnya konflik antara Harimau Sumatera dengan masyarakat belakangan ini. Berdasar catatan, peningkatan terjadi pasca bencana alam banjir bandang melanda akhir tahun lalu.

Kepala BKSDA Sumbar Hartono saat diwawancarai oleh JawaPos.com. Dia menyampaikan bahwa konflik atau interaksi negatif Harimau Sumatera dengan masyarakat di Sumbar sudah dalam kategori sangat tinggi. Untuk itu, pihaknya melakukan pendalaman.

”Setelah bencana tahun 2025 di bulan November, itu interaksi negatif sangat-sangat luar biasa,” kata dia.

Baca Juga: Mentan Amran Tawarkan KPPG Surabaya Bekerja di Kementan

Hartono belum bisa memastikan penyebab meningkatnya konflik atau interaksi negatif tersebut. Namun, ada dugaan terjadi perubahan pada koridor satwa dilindungi tersebut. Perubahan itu bisa saja terjadi pasca bencana yang memporak-poranda beberapa daerah di Sumatera.

”Apakah karena koridor daripada satwa ini terputus atau mungkin sumber kelimpahan satwa mangsa di dalam kawasan itu sudah tidak mencukupi atau seperti apa,” ujarnya.

Pertanyaan tersebut, lanjut Hartono, bakal dijawab melalui pendalaman yang akan dilakukan oleh BKSDA Sumbar bersama instansi terkait lainnya. Dia memastikan bakal dilakukan kajian secara menyeluruh untuk melihat lebih dalam persoalan di balik meningkatnya interaksi negatif antara Harimau Sumatera dengan masyarakat.

”Dimana interaksi negatif Harimau Sumatera ini yang sangat-sangat luar biasa. Terutama di kecamatan Palupuh dan sekitarnya, landscape Palupuh ini memang pasca bencana sangat luar biasa. Tidak pernah berhenti terkait dengan kemunculan Harimau Sumatera di lokasi tersebut,” terang dia.

BKSDA Sumbar memang tidak menyebutkan secara terperinci peningkatan interaksi negatif tersebut dalam angka. Namun, dari hasil monitoring di lapangan serta laporan dari masyarakat, interaksi itu sangat tinggi bila dibandingkan dengan sebelumnya.

”Kami tidak perlu menyebutkan berapa jumlah (interaksi negatif nya). Tentunya ini SOP kami agar tujuannya adalah tetap menjaga keberadaan satwa itu aman dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” tegas Hartono.

Selain melakukan pendalaman, BKSDA Sumbar memastikan akan turut melakukan evaluasi. Tujuannya untuk memastikan habitat Harimau Sumatera di daerah mereka tetap terjaga. Sehingga upaya melindungi salah satu satwa liar yang terancam punah itu berjalan optimal.

Kemenhut Ungkap Alasan Pasang Kotak Perangkap Harimau Sumatera

Diberitakan sebelumnya, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui BKSDA mengungkap alasan memasang box trap Harimau Sumatera di Nagari Pasia Laweh, Kabupaten Agam. Tindakan itu terpaksa dilakukan karena satwa dilindungi itu memakan ternak warga dan aktivitasnya semakin dekat ke sekolah.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi menyampaikan bahwa pada Senin (10/8), BKSDA Sumbar mendapat laporan dari warga. Dalam laporan tersebut disampaikan bahwa Harimau Sumatera telah menyantap 2 ekor kambing milik warga di Nagari Pasia Laweh.

”Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) segera turun ke lapangan untuk verifikasi,” ucap Ristianto pada Kamis (13/8).

Hasil verifikasi lapangan mendapati pergerakan seekor Harimau Sumatera. Temuan itu diperkuat karena petugas melihat secara langsung bangkai kambing dengan bekas luka gigitan di leher. Kemudian bangkai kambing lain yang diseret ke dalam semak-semak hingga hanya menyisakan 2 kaki bagian depan.

Petugas semakin bulat memasang box trap karena lokasi tersebut berada sangat dekat dengan pemukiman warga. Bahkan jarak dari titik aktivitas Harimau Sumatera dengan sekolah hanya berkisar 50-100 meter. Yakni 50 meter dari SDN 10 Palimbatan dan 100 meter dari SMP Negeri 1 Palupuh.

Sebagai langkah antisipasi, BKSDA Sumbar memasan box trap atau kotak perangkap pada Selasa (11/8). Hasilnya, pada hari yang sama seekor Harimau Sumatera masuk dalam perangkap tersebut. Setelah itu, pada Rabu (12/8), berlangsung proses evakuasi.

”Evakuasi dilakukan dengan mengutamakan keselamatan masyarakat sekaligus meminimalkan risiko terhadap satwa,” kata Ristianto.

Harimau Sumatera dari Agam Dititipkan ke Lembaga Konservasi

Setelah berhasil dievakuasi, Harimau Sumatera tersebut dititipkan kepada lembaga konservasi untuk menjalani pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Pemeriksaan akan dilakukan oleh tim medis dan dokter hewan untuk memastikan kondisi kesehatan satwa sebelum ditentukan langkah penanganan konservasi selanjutnya.

Kemenhut pun menjelaskan bahwa penanganan cepat konflik Harimau Sumatera di Agam tidak hanya diarahkan untuk merespons kejadian setelah konflik dengan masyarakat terjadi, melainkan juga untuk memperkuat sistem deteksi dini, respons lapangan, edukasi masyarakat, serta penanganan satwa secara terukur.

Pemasangan box trap di Palupuh menjadi salah satu langkah mitigasi untuk mengurangi risiko interaksi berulang antara Harimau Sumatera dengan masyarakat. Apalagi lokasi kejadian berdekatan dengan sekolah dan fasilitas umum yang digunakan oleh masyarakat.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah