JawaPos.com – Setelah api sempat mendekati permukiman, kebakaran di kawasan sabana Gunung Bromo berangsur padam. Tim gabungan mulai melakukan pendinginan di dua titik di wilayah Kabupaten Probolinggo dan Pasuruan.
Dua titik yang jadi fokus pendinginan adalah kawasan P30 (Pundak Lembu), Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo dan Lembah Dingklik, Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Menurut Danrem 083/Bdj selaku Dansektor Penanganan Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan, kedua titik tersebut merupakan rembetan dari kebakaran sebelumnya.
Pemadaman di area tersebut dilakukan dari udara menggunakan dua unit helikopter water bombing.
Baca Juga: Kebakaran Bromo Hanguskan 550 Hektare Lahan, Api Dekati Permukiman
Meski masih ditemukan asap dan titik api kecil, kondisi secara umum dinyatakan aman dan terkendali.
Dia mengakui, selama proses pemadaman, tim gabungan menghadapi sejumlah kendala terkat kondisi medan dan cuaca.
Titik api yang berada di lereng dengan kemiringan ekstrem menjadi salah satu bagian yang paling sulit dijangkau petugas darat.
"Titik api yang ada di lereng, itu yang sulit dipadamkan. Kalau yang lokasinya datar sudah ditangani langsung," tuturnya, Senin (10/8) sebagaimana dilansir dari Radar Bromo (Jawa Pos Group).
Agar penanganan lebih cepat, dua helikopter kembali dioperasikan untuk water bombing pada Senin (10/8).
Baca Juga: Kawasan Bromo Ditutup Total, Menhut Pastikan Penanganan Karhutla Berjalan Optimal
Namun operasi udara sempat terkendala kabut tebal yang menurunkan jarak pandang secara signifikan.
Jarak pandang yang sebelumnya mencapai sekitar 5-7 kilometer, turun menjadi hanya sekitar 500 meter–1 kilometer.
Kondisi tersebut tentu saja membatasi ruang gerak helikopter saat bermanuver menuju titik api.
"Kabut bisa membatasi manuver heli. Di P30 saja tadi kesulitan karena kabut. Harusnya tadi pagi sudah selesai semua. Namun karena faktor alam, maka kami hanya bisa melakukan dua sortie atau sembilan run," terangnya.
Ambil Air di Ranu Kumbolo
Selain cuaca, pengambilan air untuk kebutuhan water bombing juga mengalami kendala.
Baca Juga: Imbas Karhutla Meluas, TNBTS Tutup Seluruh Jalur Masuk Wisata Gunung Bromo
Pada musim kemarau, area Ranu Pani menjadi dangkal sehingga membuat tim memindahkan lokasi pengambilan air ke Ranu Kumbolo.
Wahyu menargetkan seluruh proses pemadaman dan pendinginan dapat diselesaikan secepat mungkin.
Meskipun api utama telah padam, proses pendinginan tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada bara yang berpotensi kembali memicu kebakaran.
"Karena faktor alam, jadi masih ada asap. Ini harus langsung kami pastikan ke titik tersebut. Kendalanya juga ada di kelerengan yang kemiringannya mencapai 70 sampai 80 derajat," terangnya.
Untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api, petugas masih disiagakan di Area Bromo selama 24 jam.
Baca Juga: 176 Hektare Lahan di Gunung Bromo Terbakar, TNBTS Duga Dipicu Aktivitas Manusia, Bukan Faktor Alam
Patroli dilakukan rutin, baik melalui jalur darat, maupun menggunakan drone untuk memantau kawasan yang sulit dijangkau.
Dari total sekitar 742 hektare kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang terdampak kebakaran, Wahyu memperkirakan titik api aktif hanya tersisa sekitar 10 persen. Yaitu, di P30 dan Lembah Dingklik.
"Tapi kami tetap waspada dan siaga. Patroli darat dan menggunakan drone tetap kami lakukan. Sebab kadang masih ada titik api yang ada di bawah dan bisa saja menyala lagi," pungkasnya.
Ia memastian penanganan akan terus dilakukan hingga kawasan dinyatakan benar-benar aman dari kebakaran.
Setelah kondisi dipastikan terkendali, aktivitas wisata di kawasan Gunung Bromo dapat kembali dibuka.
Baca Juga: Karhutla Bromo Meluas hingga 176 Hektare, Drone dan Dua Helikopter Dikerahkan