← Beranda
Duka Gereja Papua usai Pilot AMA Gugur di Papua: Layanan Kemanusiaan Dibayangi Trauma
Ryandi ZahdomoJumat, 17 Juli 2026 | 02.21 WIB
Pesawat perintis milik PT AMA yang dibakar di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. (Istimewa)

JawaPos.com - Penembakan terhadap Nicholas F. Gosselin, pilot pesawat perintis berkebangsaan Amerika Serikat (AS) milik PT Associated Mission Aviation (AMA) oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) di Lapangan Terbang (Lapter) Balinggama, Yahukimo, Papua Pegunungan pada Kamis (2/7), memicu duka mendalam.

Insiden berdarah ini tidak hanya membuat operasional penerbangan perintis berhenti, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi para petugas kemanusiaan yang telah puluhan tahun mengabdi di pedalaman Papua.

Kecaman keras pun datang dari tokoh-tokoh Gereja Katolik yang menilai aksi kekerasan ini merugikan masyarakat sipil secara langsung.

Sebabkan Trauma Mendalam di Balik Layanan Kemanusiaan

Sekretaris Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Romo Aloysius Budi Purnomo, mengungkapkan bahwa maskapai AMA telah menjalankan misi kemanusiaan selama 67 tahun untuk melayani berbagai keuskupan di Papua. Gugurnya Kapten Nicholas di menjadi pukulan telak bagi misi tersebut.

Baca Juga: Wamendagri Ribka Haluk Kecam Pembakaran Pesawat AMa yang Tewaskan Pilot asal AS

Komisaris PT AMA yang juga menjabat sebagai Uskup Jayapura, Monsinyur Yanuarius Teofilus Matopai You, menegaskan bahwa peristiwa pembakaran pesawat dan pembunuhan pilot ini menorehkan trauma berat bagi para relawan kemanusiaan.

"Dalam konferensi persnya yang menjadi komisaris untuk PT AMA, Monsinyur Yanuarius Theofilus Matopai You warga asli setempat yang menjadi Uskup Jayapura, beliau menyatakan bahwa memang pembakaran pesawat dan terbunuhnya Kapten Nicolas itu memberi trauma untuk para petugas kemanusiaan," ujarnya di Jakarta, Kamis (16/7).

Selama hampir tujuh dekade, akses untuk menyalurkan bahan bantuan logistik dan medis bagi warga pedalaman Papua yang terisolasi sepenuhnya bergantung pada pesawat-pesawat kecil milik PT AMA.

Tanpa transportasi udara ini, wilayah-wilayah tersebut sama sekali tidak memiliki alternatif akses transportasi lain.

Tersendatnya pelayanan akibat trauma ini dipastikan akan membawa dampak buruk dan kerugian besar bagi warga lokal setempat.

Baca Juga: Satgas Damai Cartenz Bantah Tudingan KKB, Pastikan Pesawat AMA Air Hanya Menjalankan Misi Kemanusiaan

"Sehingga ketika trauma muncul, pelayanan tersendat, pada akhirnya warga masyarakat setempat juga yang akan mengalami kerugian. Dan karena itu maka baik para uskup di Papua maupun gereja pada umumnya mengecam tindakan ini," katanya.

Pengakuan OPM dan Tuduhan Pelanggaran Larangan Terbang

Sebelumnya diberitakan, pihak TPNPB-OPM secara terbuka menyatakan bertanggung jawab atas aksi penyerangan dan pembakaran armada pesawat dengan nomor registrasi PK-RCY tersebut.

Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, menjelaskan bahwa operasi penyerangan di Kampung Balinggama dipimpin oleh Kompi Bakusip di bawah komando Kodap XVI Yahukimo atas perintah langsung dari Elkius Kobak.

"Bahwa kami bertanggung jawab atas penembakan terhadap Nicholas F. Gosselin, seorang pilot berkembangsaan Amerika Serikat serta pembakaran satu unit pesawat milik maskapai penerbangan Indonesia milik PT AMA di Kampung Balinggama," kata Sebby dalam keterangan resmi tertulis, Jumat (3/7).

Baca Juga: Pesawat AMA Air Dibakar dan Pilot Ditembak, Polisi: Pelaku Grup Baru KKB di Yahukimo

Sebby mengklaim aksi tersebut dilakukan karena pihak maskapai melanggar ultimatum larangan terbang bagi pesawat sipil yang dikeluarkan oleh OPM.

Pihaknya menuduh pesawat sipil kerap dimanfaatkan untuk kepentingan taktis militer.

"Karena pesawat-pesawat sipil selalu melakukan pendoropan pasukan dan logistik militer Indonesia di pedalaman Papua untuk melakukan operasi militer yang telah menewaskan banyak warga sipil Orang Asli Papua," lanjut Sebby.

Operasi Taktis TNI: Perebutan Cepat Lapangan Terbang Balinggama

Komando Operasi (Koops) TNI Habema langsung bergerak cepat untuk mengamankan lokasi dan mengevakuasi jenazah korban pada Jumat pagi (3/7).

Wakil Panglima Koops TNI Habema, Brigjen TNI Riyanto, mengungkapkan bahwa proses evakuasi jenazah Nicholas F. Gosselin menuntut kesiapsiagaan tinggi.

Baca Juga: Koops TNI Habema Buru Elkius Kobak, Terduga Pelaku Pembakaran dan Penembakan Pilot Pesawat AMA Air

Sebelum evakuasi dilakukan, tim TNI terlebih dahulu harus merebut kembali kontrol atas Lapangan Terbang Balinggama dari tangan OPM.

Operasi perebutan cepat dan SAR taktis ini melibatkan 10 prajurit pilihan Koops TNI Habema dengan dukungan mobilitas dari 2 unit Helikopter Caracal.

Mengingat kondisi geografis yang ekstrem di wilayah pegunungan, operasi taktis ini berjalan dengan koordinasi yang sangat ketat dan presisi.

"Melalui operasi khusus perebutan cepat dan SAR taktis, kami memastikan proses evakuasi dapat dilaksanakan secara cepat, aman, dan profesional," tegas Brigjen TNI Riyanto dalam keterangan resminya.

Selain berhasil mengevakuasi jenazah korban, aparat TNI saat ini tengah melakukan penyisiran dan pengejaran terhadap kelompok bersenjata yang menjadi pelaku penembakan serta pembakaran pesawat tersebut.

Baca Juga: TNI Rebut Lapter Balinggama Yahukimo dari OPM dan Evakuasi Jenazah Pilot Pesawat AMA

Kendati demikian, TNI menegaskan keselamatan masyarakat dan penegakan hukum tetap menjadi prioritas utama pasca-insiden.

"Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga almarhum. Prioritas kami adalah menyelamatkan korban, mengamankan lokasi, melindungi masyarakat, serta mendukung proses penegakan hukum terhadap para pelaku," pungkas Riyanto.

 

EDITOR: Bayu Putra