JawaPos.com - Jumlah korban pasca gempa bumi di wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng) bertambah menjadi 6.458 jiwa. Sebanyak 79 korban tercatat mengalami luka-luka. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama instansi terkait lainnya terus bekerja untuk membantu para korban.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan bahwa data terakhir dilaporkan oleh petugas di lapangan pada Rabu malam (17/6). Berdasar data tersebut, korban terdampak gempa bumi magnitudo 6,7 itu tersebar di Kabupaten Sigi, Donggala, Poso, Parigi Moutong, dan Kota Palu.
”Pendataan yang telah dihimpun hingga saat ini mencatat sedikitnya 2.012 kepala keluarga atau 6.458 jiwa terdampak. Dari jumlah tersebut, 1.991 kepala keluarga atau 6.418 jiwa berada di Kabupaten Sigi, sedangkan 21 kepala keluarga atau 40 jiwa berada di Kabupaten Parigi Moutong,” kata Abdul Muhari pada Kamis (18/6).
BNPB memastikan terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi terkait lain untuk memastikan seluruh korban tertangani dengan baik. Menurut Abdul Muhari, sampai hari ini tidak ada data tambahan korban meninggal dunia. Namun korban luka-luka tercatat bertambah.
”Terdapat 15 korban luka berat dan 64 korban luka ringan. Korban luka terdiri dari 15 luka berat dan 61 luka ringan di Kabupaten Sigi, 1 luka ringan di Kabupaten Poso, serta 2 luka ringan di Kota Palu. Seluruh data korban masih dalam proses verifikasi dan pembaruan,” jelasnya.
Untuk kerusakan yang teridentifikasi hingga saat ini terdiri atas 1.456 unit rumah rusak ringan, yang tersebar di Kabupaten Sigi sebanyak 1.378 unit, Kota Palu 63 unit, dan Kabupaten Poso 15 unit. Selain itu, tercatat 112 unit rumah rusak sedang dan 47 unit rumah rusak berat, seluruhnya berada di Kabupaten Sigi.
”Di Kabupaten Poso juga dilaporkan 5 unit rumah terdampak, sedangkan di Kabupaten Parigi Moutong sedikitnya 15 unit rumah rusak atau terdampak dan masih dalam proses pendataan lebih lanjut,” beber Abdul Muhari.
Tidak hanya rumah warga, kerusakan juga melanda beberapa fasilitas umum. Rinciannya 35 rumah ibadah, 10 fasilitas pendidikan, 11 gedung perkantoran, 2 jembatan, 5 UMKM, 4 hotel, 1 villa, 1 gedung pertemuan, dan 1 rumah adat. Sebagian besar kerusakan fasilitas tersebut berada di Kabupaten Sigi.
Menurut Abdul Muhari, perkembangan terkini di lapangan menunjukkan masih ada beberapa kendala dalam proses penanganan darurat. Misalnya di Kabupaten Poso, akses menuju Kecamatan Lore Utara belum dapat dijangkau akibat terputusnya jaringan komunikasi, keterbatasan personel, dan sarana transportasi.
”Kondisi tersebut menyebabkan asesmen dan pendataan dampak di wilayah tersebut belum dapat dilakukan secara optimal,” imbuhnya.
Baca Juga: Terlibat Kericuhan dalam Eksekusi Hotel Sultan, Polda Metro Jaya Amankan 119 Orang
Sementara di Kota Palu, Jembatan Palu III masih ditutup sementara dan dalam pengkajian teknis lanjutan setelah ditemukan keretakan pada struktur jembatan. Pemerintah daerah setempat melakukan pengaturan lalu lintas di sekitar lokasi untuk menjamin keselamatan masyarakat.
”Dalam rangka mempercepat penanganan darurat, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi melalui Keputusan Gubernur Nomor 300.2.1/199/BPBD-6-ST/2026 selama 7 hari, terhitung sejak 17 hingga 23 Juni 2026. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Sigi tengah mempersiapkan penetapan status darurat selama 14 hari,” bebernya.