← Beranda
KDM Bela Kaum Adat: Wiwitan Disebut Musyrik tapi Berabad-abad Pertahankan Alam dengan Baik
Tazkia Royyan HikmatiarSabtu, 30 Mei 2026 | 19.42 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

 

JawaPos.com - Kaum adat dan penganut kepercayaan lokal seperti Wiwitan di suku Sunda kerap dianggap musyrik, padahal menurut Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, mereka justru terbukti mampu menjaga alam selama berabad-abad jauh sebelum Indonesia merdeka.

Pria yang akrab disapa KDM itu menyampaikan pembelaannya terhadap kaum adat saat berbicara mengenai pendekatan pembangunan yang dinilai kehilangan rasa, cinta, dan penghormatan terhadap pengetahuan leluhur di Papua.

"Leluhur kita yang oleh kita, kalau orang Sunda itu dulu kaum Wiwitan disebut kaum musyrik, itu berabad-abad mampu menjaga alam ini dengan baik, menitipkan alam ini dengan baik, tapi dia tidak merasa menjadi orang pandai," ujarnya dikutip dari YouTube resminya, Sabtu (30/5).

Pembangunan Dinilai Kehilangan Rasa dan Cinta

KDM menilai, saat ini pendekatan pembangunan di Indonesia terlalu mengandalkan teknokrasi dan melupakan nilai kemanusiaan serta budaya lokal. Padahal, keunggulan masyarakat Nusantara terletak pada budi pekerti yang melahirkan pendekatan berbasis rasa.

Baca Juga: WHO: Tingkat Kematian Ebola Bundibugyo Bisa Capai 50 Persen, Wabah Masih Mengkhawatirkan

"Karena keunggulannya budi pekerti, maka pendekatan pembangunan harus menggunakan rasa. Karena dari rasa lahirlah rumasa," kata KDM.

Dalam teologi Sunda, rumasa merupakan sikap untuk tidak merasa lebih tinggi dari orang lain maupun menganggap pihak lain bodoh. KDM pun mengkritik cara pandang birokrasi yang kerap memosisikan masyarakat adat dan kaum tradisi sebagai kelompok tertinggal.

"Apa yang ada dalam pikiran kita yang merasa pintar jadi birokrasi ini adalah menganggap kaum tradisi orang-orang yang tertinggal. Menganggap kaum adat itu orang-orang yang bodoh," tegasnya.

KDM menegaskan bahwa masyarakat adat sesungguhnya merupakan sumber pengetahuan yang selama ini kurang dihargai dalam proses pembangunan.

Ia membandingkan kondisi lingkungan Indonesia selama sekitar 80 tahun kemerdekaan dengan kemampuan leluhur menjaga alam selama berabad-abad.

"Indonesia merdeka sudah berapa tahun? 80 tahun. Dari 80 tahun ini penurunan sumber daya alam, kerusakan hutan, laut, sungai itu sudah berapa," katanya.

Menurunya, kerusakan lingkungan yang terjadi menunjukkan adanya penurunan daya dukung alam akibat model pembangunan modern. Sebaliknya, ia menilai leluhur yang selama ini dipandang rendah justru berhasil mewariskan lingkungan yang terjaga.

Ia menyebut salah satu kekeliruan besar adalah merendahkan pengetahuan yang bersumber dari tradisi dan leluhur.

"Bayangin salah satu kebodohan kita adalah menganggap rendah pengetahuan yang bersumber dari leluhur, menganggap rendah kaum adat," katanya.

Baca Juga: TNI AD Klaim Hormati Kebebasan Berekspresi tapi Kritik Narasi Kebohongan

Dalam pandangan KDM, pembangunan semestinya diawali dengan landasan teologis yang dipahami sebagai nilai membangun relasi harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam.
Ia mencontohkan berbagai sistem nilai lokal seperti Tri Hita Karana di Bali maupun konsep Tritangtu di Buana dalam budaya Sunda.

Menurutnya, berbagai ritual tradisional yang selama ini dianggap kuno atau bahkan musyrik sebetulnya merupakan bentuk penghormatan terhadap alam.

"Kalau melihat pohon itu dikasih sesajen dan itu dianggap sebagai sebuah kemunduran. Padahal itu adalah sebuah tradisi bagaimana menghormati leluhur, bagaimana menghormati alam," ucapnya.

KDM pun menilai penghormatan dalam tradisi lokal memiliki makna serupa dengan simbol penghormatan modern yang juga hidup dalam negara, seperti hormat kepada bendera Merah Putih.

"Maka penghormatan dalam kaum tradisi bagi Jawa adalah sesajen," pungkasnya.

EDITOR: Sabik Aji Taufan