JawaPos.com - Tragedi memilukan menimpa satu keluarga asal Ambarawa, Kabupaten Semarang, yang ditemukan tewas di dalam tenda glamping objek wisata Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung. Polisi kini menemukan bukti baru terkait penyebab kematian empat wisatawan tersebut yang sebelumnya sempat diduga akibat keracunan makanan.
Perkembangan terbaru dari pihak kepolisian menyebutkan bahwa para korban diduga kuat meninggal dunia akibat menghirup gas beracun saat berada di dalam tenda. Dugaan keracunan gas ini menguat setelah petugas melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan menemukan sejumlah barang bukti di lokasi.
Dikutip dari Radar Magelang (JawaPos Group), Kasat Reskrim Polres Temanggung Iptu I Komang Mahendra Deputra mengatakan, dugaan keracunan gas itu menguat setelah penyidik menemukan gas portable yang digunakan korban untuk memasak dan barbeque. Pihaknya kini tengah mendalami dua kemungkinan sumber gas beracun tersebut.
Baca Juga: Bertemu Emmanuel Macron, Prabowo Kagum Prancis jadi Pelopor di Eropa Dukung Kemerdekaan Palestina
"Kemungkinan ada dua, dari gas portable itu sama gas setelah bakar-bakar. Jadi, setelah barbeque-an karena langsung tidur, setelah dia bakar-bakar langsung ditutup pintunya," ujar Mahendra dikutip Jumat (29/5).
Kondisi Tenda Tertutup Rapat Jadi Pemicu Utama
Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, sirkulasi udara di dalam tenda tersebut dinilai menjadi faktor krusial yang memicu terjadinya tragedi ini. Ketika gas dari aktivitas memasak terjebak di ruang minim ventilasi, dampaknya bisa fatal bagi manusia yang ada di dalamnya.
Ia menjelaskan, kondisi tenda glamping yang relatif tertutup diduga membuat sirkulasi udara tidak berjalan maksimal, sehingga gas terperangkap di dalam ruangan. Kurangnya udara segar membuat gas berbahaya memenuhi area tidur korban tanpa disadari.
"Posisi bbq-an memang agak ke luar tapi kemungkinan masuk (ke tenda). Jadi, ada dua kemungkinan," jelas dia.
Dugaan Keracunan Makanan Terbantahkan oleh Karakteristik Gas CO2
Sebelum ditemukannya bukti penggunaan gas portabel, muncul spekulasi awal yang menyebutkan bahwa sekeluarga tersebut meregang nyawa akibat mengonsumsi makanan BBQ yang terkontaminasi. Namun, seiring berjalannya pemeriksaan fisik pada korban, dugaan itu akhirnya gugur.
Dugaan awal polisi sekeluarga itu tewas karena keracunan makanan kini terbantahkan karena tak ditemukan bekas sisa makanan yang dimuntahkan di sekitar area kejadian. Kondisi fisik para korban justru menunjukkan gejala yang sangat identik dengan paparan gas karbon dioksida.
Menurut polisi, ciri-ciri awal penyebab kematiannya pun lebih mirip dengan keracunan CO2. Efek dari gas ini dikenal sangat senyap dan mematikan karena korban tidak merasakan sakit yang ekstrem secara mendadak.
"Tidak ada muntahan, tidak ada perlawanan, jadi ciri khasnya gas CO2 ini lemas, lemas, ngantuk, ngantuk, tiba-tiba hilang," ungkap Mahendra.
Meski indikasi mengarah kuat pada keracunan gas, pihak kepolisian belum mengeluarkan kesimpulan akhir. Polisi saat ini masih menunggu hasil otopsi resmi dari Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Tengah guna memastikan penyebab biologis dan medis dari kematian para korban.
Kronologi Penemuan Jasad Satu Keluarga di Posong Temanggung
Peristiwa kelam ini berawal saat satu keluarga yang terdiri dari Muhamad Ali Munawar, 52, istrinya Maghfirah, 43, serta dua anak laki-laki mereka, AEH, 16, dan Bagas Amar Hakiki, 21, berniat menikmati masa liburan bersama. Mereka memilih objek wisata alam Posong sebagai destinasi tujuan pada Selasa sore.
Rombongan ini tiba di lokasi dengan menggunakan mobil Honda Jazz RS GK 5 putih bernomor polisi H 1609 PT sekitar pukul 21.05 WIB. Begitu tiba, mereka langsung melakukan proses check-in dan menempati tenda glamping Safari nomor 3 tanpa menunjukkan tanda-tanda mencurigakan.
Kecurigaan pengelola wisata baru mulai muncul pada Rabu (27/5) pagi, sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu, seorang pegawai bernama Anas Mustafirin (22) berniat mengantarkan sarapan ke tenda yang ditempati oleh keluarga korban.
Anas sempat menyapa dengan berteriak, "Sarapanya Pak," namun sama sekali tidak mendapatkan respons dari dalam tenda, hingga akhirnya ia hanya meletakkan makanan tersebut di teras glamping. Situasi sunyi ini awalnya dianggap sebagai hal biasa karena mengira tamu masih beristirahat.
Namun, rasa penasaran pihak pengelola memuncak ketika batas waktu check-out hampir habis sekitar pukul 11.30 WIB dan berlanjut hingga sore hari pukul 15.45 WIB. Karena para tamu tak kunjung keluar, pegawai lain bernama Zaki Ambali (23) akhirnya memutuskan untuk mendatangi tenda secara langsung.
Zaki yang penasaran kemudian memberanikan diri membuka pintu tenda dan langsung terkejut mendapati keempat korban sudah terbujur kaku tak bernyawa dalam kondisi mulut mengeluarkan busa dan tubuh mengalami gejala hipotermia. Penemuan histeris ini langsung dilaporkan ke pihak berwajib untuk dievakuasi.