← Beranda
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Ryandi ZahdomoJumat, 29 Mei 2026 | 13.42 WIB
Kondisi empat wisatawan satu keluarga asal Ambarawa yang meninggal di dalam tenda glamping di salah satu objek wisata di Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Duka mendalam menyelimuti objek wisata alam Posong, Temanggung. Liburan hangat satu keluarga asal Ambarawa di lereng Gunung Sindoro berubah menjadi tragedi memilukan. Ayah, ibu, dan kedua anak mereka ditemukan tidak bernyawa di dalam tenda glamping tempat mereka menginap.

Peristiwa tragis ini langsung memicu perhatian publik, terutama mengenai apa yang sebenarnya terjadi di dalam area privat tersebut. Dugaan kuat dari pihak kepolisian menyebutkan bahwa keempat korban tewas akibat mengalami keracunan makanan akut setelah menggelar acara bakar-bakar.

Petunjuk demi petunjuk mulai terungkap dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP). Salah satu aspek yang menjadi sorotan adalah kondisi interior di dalam tenda tempat ditemukannya jasad satu keluarga tersebut yang tampak rapi sebelum maut menjemput.

Intip Kondisi Dalam Tenda Glamping Posong Temanggung

Dikutip dari Radar Magelag (JawaPos Group), berdasarkan foto yang diperoleh dari lokasi kejadian, keempat korban ditemukan terbujur kaku di dalam sebuah tenda glamping berukuran besar dengan dominasi warna coklat. Suasana di dalam tenda tampak layaknya fasilitas penginapan wisata pada umumnya, tanpa ada tanda-tanda kekerasan fisik atau kepanikan massal dari para korban.

Baca Juga: Kronologi Satu Keluarga Meninggal saat Camping di Temanggung, Terindikasi Keracunan BBQ

Di dalam tenda tersebut, terdapat tiga kasur busa yang diletakkan berjajar langsung di atas lantai tenda untuk mengomodasi seluruh anggota keluarga. Kasur paling kiri ditiduri oleh satu orang, kasur tengah diisi oleh satu orang, sedangkan kasur paling kanan digunakan bersama oleh dua orang anggota keluarga.

Perbedaan detail terlihat pada perlengkapan tidur yang digunakan oleh keluarga asal Ambarawa ini. Kasur di sisi kanan dan kiri dibalut dengan sprei berwarna coklat senada dengan warna tenda, sementara kasur bagian tengah yang diduga merupakan kasur tambahan (extrabed) menggunakan alas tidur bermotif kotak-kotak.

Polisi Kantongi Indikasi Keracunan Pesta Barbeque Mandiri

Aparat kepolisian dari Polres Temanggung langsung bergerak cepat melakukan investigasi mendalam untuk mengurai misteri kematian ini. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal dan olah TKP, polisi menemukan sejumlah petunjuk krusial yang mengarah pada kontaminasi berat pada bahan makanan olahan bakar yang dikonsumsi para korban pada Selasa malam.

Pihak berwajib menduga kuat bahwa sumber racun mematikan tersebut berasal dari hidangan pesta barbeque (BBQ) yang disiapkan dan dimasak sendiri oleh para korban di area perkemahan. Hingga kini, sampel sisa makanan masih diteliti secara intensif untuk mengidentifikasi jenis zat beracun yang terkandung di dalamnya.

Kasat Reskrim Polres Temanggung Iptu I Komang Mahendra Deputra mengonfirmasi bahwa indikasi awal penyebab kematian tragis ini memang merujuk pada hidangan makan malam yang mereka siapkan secara mandiri sebelum beristirahat di dalam tenda glamping.

"Ya, indikasinya keracunan makanan. Ya, makanan barbeque yang dibawa sendiri oleh korban," ujar I Komang, dikutip Jumat (29/5).

Meski indikasi keracunan makanan ini sangat kuat, pihak kepolisian menegaskan tidak ingin terburu-buru dalam mengambil kesimpulan akhir. Polisi saat ini masih menunggu hasil otopsi resmi dari Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Tengah guna memastikan penyebab biologis dan medis dari kematian para korban.

Kronologi Penemuan Jasad Satu Keluarga Asal Ambarawa

Tragedi memilukan ini bermula ketika satu keluarga yang terdiri dari Muhamad Ali Munawar, 52, istrinya Maghfirah, 43, serta dua anak laki-laki mereka, AEH, 16, dan Bagas Amar Hakiki, 21, datang ke objek wisata alam Posong pada Selasa sore, 26 Mei 2026. Mereka tiba menggunakan mobil Honda Jazz RS GK 5 putih bernomor polisi H 1609 PT sekitar pukul 21.05 WIB, lalu langsung check-in di tenda glamping Safari nomor 3.

Baca Juga: Ancaman Hoaks Berbasis AI Kian Sulit Dikenali, Guru Diminta Aktif Dampingi Anak

Kecurigaan pertama kali muncul pada Rabu (27/5) pagi, sekitar pukul 09.00 WIB ketika seorang pegawai bernama Anas Mustafirin, 22, mengantarkan sarapan ke tenda korban. Anas sempat menyapa dengan berteriak, "Sarapanya Pak," namun sama sekali tidak mendapatkan respons dari dalam tenda, hingga akhirnya ia hanya meletakkan makanan tersebut di teras glamping.

Rasa penasaran pihak pengelola memuncak ketika batas waktu check-out hampir habis sekitar pukul 11.30 WIB dan berlanjut hingga sore hari pukul 15.45 WIB, karena para tamu tak kunjung keluar. Pegawai lain, Zaki Ambali, 23, akhirnya mendatangi tenda dan memberanikan diri membuka pintu, di mana ia langsung terkejut mendapati keempat korban sudah terbujur kaku tak bernyawa dalam kondisi mulut mengeluarkan busa.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan