← Beranda
Krisis Air, Sampah Plastik, hingga Produk Ilegal Jadi Tantangan Industri AMDK
Banu AdikaraMinggu, 24 Mei 2026 | 16.09 WIB
Ilustrasi AMDK

 

JawaPos.com - Industri air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia menghadapi tantangan yang semakin rumit di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap akses air minum yang aman dan praktis. Mulai dari isu pengelolaan sumber daya air, peredaran produk ilegal, hingga tekanan pengurangan sampah plastik menjadi persoalan yang kini dihadapi pelaku industri.

Ketua Umum AMDATARA, Karyanto Wibowo mengatakan industri AMDK saat ini berada dalam tekanan besar akibat perubahan dinamika global dan domestik yang memengaruhi operasional industri.

“Industri AMDK saat ini dihadapkan pada tantangan pengelolaan sumber daya air, pengawasan terhadap produk ilegal, serta percepatan implementasi ekonomi sirkular,” ujarnya dalam Musyawarah Daerah (Musda) I DPD AMDATARA Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten di Bandung.

Baca Juga: BI Izinkan Mata Uang Selain Dolar untuk Penempatan DHE SDA di Himbara

Selain isu lingkungan, industri juga menghadapi kenaikan biaya energi, bahan baku, dan gangguan rantai pasok global yang berdampak pada biaya produksi.

Menurut Karyanto, kondisi tersebut membuat pelaku industri dituntut semakin adaptif dan efisien, terutama dalam menjaga keberlanjutan usaha sekaligus memenuhi standar keamanan pangan dan lingkungan.

Di sisi lain, kebutuhan masyarakat terhadap produk AMDK terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, urbanisasi, dan perubahan pola konsumsi. Namun peningkatan konsumsi ini juga memunculkan sorotan terhadap penggunaan kemasan plastik dan keberlanjutan pengelolaan sumber air baku.

Baca Juga: Akhirnya Muncul ke Publik, Ratu Sofya Bantah Somasi Orang Tuanya

Karena itu, lanjut Karyanto, pihaknya mendorong implementasi ekonomi sirkular dan skema Extended Producer Responsibility (EPR) untuk memperkuat pengelolaan sampah kemasan pascakonsumsi.

“Kami terus mendorong penguatan kepatuhan terhadap standar BPOM dan SNI, implementasi ekonomi sirkular, serta praktik pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan,” kata Karyanto.

Wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten sendiri menjadi salah satu pusat utama industri AMDK nasional karena tingginya konsumsi dan konsentrasi pelaku usaha di kawasan tersebut.

EDITOR: Banu Adikara
Tags:amdk