JawaPos.com - Suasana riuh rendah tampak di Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Gedawang Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Kamis (19/3) sore. Bukan karena ada hajatan atau pasar kaget, melainkan aktivitas jual beli yang terus mengalir.
Satu per satu warga datang silih berganti. Ada yang membawa kantong plastik, tak sedikit pula yang datang dengan membawa kendaraan untuk membeli gas elpiji 3 kilogram dan minyak goreng.
Pantauan Jawa Pos Radar Semarang selama satu jam di lokasi menunjukkan, koperasi yang berlokasi di depan Kantor Kelurahan Gedawang ini tak pernah sepi. Hujan gerimis bahkan tak menyurutkan semangat warga berbelanja. Mereka tetap sibuk memilih dan menimbang telur ayam, ada juga yang membeli minyak, dan beras.
Terlihat tangan salah satu anggota koperasi, Yamini, cekatan membawa tabung gas elpiji tiga kilogram dan menaruhnya pada tempat tabung gas yang kosong. Sementara tangan kirinya mengambil tabung gas yang berisi. Sembari antre Yamini pun mengeluarkan uang untuk membayar pada petugas jaga.
Yamini mengaku memilih untuk menjadi anggota sejak awal berdirinya KKMP Gedawang. Warga Gedawang itu rutin membeli berbagai kebutuhan sehari-hari di KKMP. "Biasanya beli telur, minyak sama beras. Koperasi ini cukup membantu karena harganya agak miring,” ujarnya.
Ia menilai selisih harga yang ditawarkan cukup terasa, terutama untuk komoditas tertentu seperti gas elpiji. “Kalau gas biasanya di warung sekitar Rp 22.000, kalau di KKMP itu Rp 18.000,” imbuhnya.
Menurut dia, keberadaan koperasi ini sangat membantu masyarakat, terutama dalam memenuhi kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau. Ia pun berharap ke depan koperasi bisa semakin berkembang.
“Pengennya program koperasi ini bisa lebih besar dan lebih lengkap dagangannya karena sangat membantu (masyarakat),” harapnya.
Di tengah keramaian, Ketua KKMP Gedawang Rudi M. Alif, terlihat sibuk mondar-mandir. Ia turut melayani pembeli untuk membantu mengambilkan barang.
Baca Juga: Proyek Koperasi Merah Putih di Pacitan Caplok Lahan Pertanian yang Dilindungi
Kepadatan sore itu, menurutnya, sudah menjadi pemandangan biasa, apalagi menjelang bulan puasa seperti sekarang.
"Normalnya kami buka jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Tapi karena puasa dan karyawan enggak ada, saya buka sendiri dari jam 1 siang sampai jam 5. Alhamdulillah, warga sudah pada tahu jam operasionalnya," ujar Rudi.
Ia lantas bercerita tentang perjalanan koperasi yang dirintis bersama 19 tokoh masyarakat lainnya. Berawal dari ide untuk menyediakan kebutuhan pokok murah bagi warga, mereka kemudian mengajukan pendirian koperasi. Tempat yang digunakan pun bukan bangunan baru, melainkan shelter UMKM yang tidak terpakai.
"Kami renovasi pakai pinjaman dari LPMK sekitar Rp3 0 jutaan. Untuk modal kulakan awal, kami pinjam Rp 26 juta buat beli beras 1,5 ton dan kebutuhan lainnya. Alhamdulillah, pinjaman modal sudah hampir lunas, tinggal sisa Rp 20 juta," jelasnya.
Kini, omzet koperasi rata-rata mencapai Rp 100 juta per bulan. Pada momen tertentu, seperti menjelang Natal dan Tahun Baru 2026 lalu. Omzetnya bahkan mencapai Rp 112 juta. "Kemarin paling tinggi itu saat Nataru sampai Rp 112 juta (omzetnya)," tegasnya.
Rudi menjelaskan KKMP Gedawang ini mayoritas menjual bahan pokok dan kebutuhan sehari-hari warga. Seperti minyak goreng, beras, telur, gas elpiji, gula pasir, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Produknya ia dapatkan dari Bulog, Dinas Ketahanan Pangan, dan mitra lainnya.
Kendati demikian, ia juga memberikan wadah bagi para pelaku UMKM di sekitaran Gedawang untuk menjual produknya di KKMP. Ada rak khusus yang menampilkan produk-produk UMKM warga Gedawang. Ada jamu botolan, bawang goreng, peyek, hingga produk pembersih rumah tangga buatan warga.
"Kami terbuka untuk UMKM lokal yang mau menitipkan dagangannya. Tapi kami seleksi, harus layak jual. Sekarang ada sekitar 10 produk UMKM yang rutin nitip di sini. Kalau lagi ada event, bisa lebih," ungkapnya.
Meski berada tidak jauh dari minimarket modern, Rudi menegaskan koperasi memiliki segmen pasar tersendiri. Apalagi bagi masyarakat terutama ibu-ibu yang lebih memilih belanja dekat rumah. Karena itu meski jarak dengan minimarket modern tak terlalu jauh, penjualan di KKMP Gedawang tetap berjalan.
Baca Juga: Distribusi Kendaraan untuk Koperasi Merah Putih di Tuban Dinilai Belum Sesuai Kebutuhan Tiap Desa
"Jarak minimarket modern sekitar satu kilometer ya, nggak begitu jauh. Tapi masing-masing punya pasarnya sendiri. Warga sudah tahu kebutuhan dan harga di sini,” katanya.
Terkait dukungan permodalan, ia menyebut hingga kini koperasi belum menerima bantuan besar seperti isu modal Rp 3 miliar ataupun bantuan mobil India dari pemerintah.
Program impor mobil India untuk koperasi desa merah putih (KDMP) dan KKMP ini merupakan inisiatif pemerintah melalui PT Agrinas Pangan Nusantara. Begitu juga dengan bantuan modal Rp 3 miliar.
Rudi mengaku isu itu memang sempat mencuat. Kendati demikian salah satu syaratnya adalah harus ada lahan kosong 1000 meter persegi. Sementara di wilayahnya sulit ditemukan tanah kosong. Karena itu dia masih mengandalkan modal awal dari LPMK.
"Belum (ada bantuan). Kalau mau dibangun sebelahn mana kita bilang tanah ini (KKMP Gedawang) ke belakang bisa, cuma nggak tahu, sampai sekarang belum ada kabar itu (bantuan modal dan mobil)," bebernya.
Rudi menyebut bantuan modal Rp 3 miliar itu bisa digunakan untuk membangun KKMP atau KDMP. Lalu sisanya digunakan membeli mobil untuk operasional dan belanja bahan pokok yang akan dijual.
"Karena dari Rp 3 miliar itu alokasinya kalau nggak salah Rp 1,6 miliar untuk bangun gedung. Lalu untuk membeli tiga mobil yang truk, pikap, dan kendaraan roda tiga. Nanti Rp 500 juta untuk belanja," akunya.
Kendati demikian Rudi tak mau ambil pusing. Baginya, yang terpenting adalah koperasi bisa berjalan dan membantu warga. Apalagi, KKMP Gedawang diajukan untuk masuk nominasi 10 besar koperasi terbaik se-Indonesia versi Dinas Koperasi.
"Kemarin sempat diajukan Dinkop untuk masuk nominasi 10 besar koperasi terbaik" ujarnya.
Ke depan, pihaknya berharap koperasi bisa terus berkembang, baik dari sisi fasilitas maupun kelengkapan produk. “Kalau nanti ada pengembangan tempat, kita bisa tambah stok dan lebih lengkap lagi,” tandasnya. (kap)