← Beranda
Fakta-fakta Polemik Pencopotan Kepala SMPN 1 Prabumulih Sumatra Selatan: Dugaan Intervensi Pejabat, Viral, hingga Kembali Bekerja
Rian AlfiantoRabu, 17 September 2025 | 18.52 WIB
Kepala SMP Negeri 1 Prabumulih Sumatra Selatan Roni Ardiansyah berpamitan pada guru dan siswa di sekolahnya. Kini, ia tak jadi dicopot dan bisa kembali bekerja. (Instagram @smpn1prabumulih)

JawaPos.com - Dunia pendidikan di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan, diguncang isu pencopotan Kepala SMP Negeri 1 Prabumulih, Roni Ardiansyah.

Keputusan yang diumumkan pada Senin (15/9) itu memicu kehebohan publik lantaran dilakukan tanpa alasan yang jelas, padahal Roni dikenal sebagai kepala sekolah berprestasi dengan banyak terobosan kreatif.

Kasus ini dengan cepat berubah menjadi sorotan nasional setelah muncul spekulasi bahwa pencopotan Roni berhubungan dengan insiden tegurannya terhadap anak seorang pejabat daerah yang memarkir mobil di lapangan sekolah. Lapangan itu biasanya dipakai murid untuk kegiatan ekstrakurikuler.

Berikut fakta-fakta yang sudah JawaPos.com rangkum terkait pencopotan Kepala SMPN 1 Prabumulih yang viral di media sosial:

1. Video Perpisahan yang Viral

Kabar pencopotan Roni pertama kali meledak di media sosial lewat video perpisahan yang diunggah akun Instagram @awreceh.id. Dalam video tersebut, Roni tampak menitikkan air mata saat berpamitan dengan siswa-siswanya.

Momen haru itu segera memantik simpati publik. Banyak warganet menilai keputusan mutasi ini tidak masuk akal mengingat Roni telah membawa SMPN 1 Prabumulih menorehkan banyak prestasi.

2. Klarifikasi yang Kontradiktif

Pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Prabumulih mencoba menenangkan publik. Kepala Dinas, Darmadi, menyebut mutasi kepala sekolah merupakan hal wajar demi penyegaran organisasi. 

Ia menegaskan pencopotan Roni tidak ada kaitannya dengan kasus teguran terhadap anak pejabat.

Namun, penjelasan berbeda justru datang dari Wali Kota Prabumulih, H. Arlan. Dalam konferensi pers, ia menegaskan kabar pemecatan Roni adalah hoaks. 

Arlan bahkan menyebut hanya menegur Roni terkait masalah lain di sekolah, yakni dugaan pesan tidak pantas dari seorang guru kepada murid. Guru itulah yang dipindahkan, bukan Roni.

Alih-alih meredakan situasi, pernyataan Arlan malah menambah kebingungan. Publik menilai ada kontradiksi antara fakta lapangan, klarifikasi dinas, dan bantahan wali kota. 

Akibatnya, kecurigaan bahwa pencopotan ini bermuatan intervensi pejabat daerah semakin menguat.

3. Roni Kembali ke Jabatan Asal, tak jadi Dicopot

Dramanya berakhir cepat. Ajudan Presiden Prabowo Subianto, Rizky Irmansyah, mengumumkan lewat akun Instagram bahwa pencopotan Roni dibatalkan. 

Roni akan kembali menjabat sebagai kepala SMPN 1 Prabumulih, begitu pula seorang satpam yang sempat diberhentikan dari sekolah tersebut.

“Sudah selesai ya, kepala sekolahnya akan kembali bertugas ke sekolah asal, dan satpamnya juga akan kembali bertugas di sekolah asal,” tulis Rizky, Selasa (16/9) malam.

Keputusan ini disambut lega oleh para siswa dan orang tua murid. Banyak yang menganggapnya sebagai kemenangan moral atas praktik kekuasaan yang tidak transparan.

4. Cermin Buram Tata Kelola Pendidikan

Kasus Roni Ardiansyah membuka diskusi lebih luas tentang problem tata kelola pendidikan di daerah. Pencopotan mendadak tanpa dasar yang jelas menimbulkan pertanyaan: sejauh mana pejabat daerah bisa mengintervensi sekolah demi kepentingan pribadi?

Polemik ini bukan hanya soal jabatan seorang kepala sekolah, tetapi juga menyangkut integritas birokrasi dan kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan. 

Publik kini menunggu apakah kasus ini menjadi titik balik bagi pemerintah daerah untuk lebih transparan, atau sekadar episode viral yang akan cepat dilupakan.

EDITOR: Bayu Putra