← Beranda
Direhabilitasi, Pelepasliaran 3 Harimau Sumatera Masih Dikaji
Sari HardiyantoKamis, 28 Maret 2019 | 21.46 WIB
EVAKUASI: Inong Rio harimau sumatera yang terkena jerat dievakuasi oleh tim BBKSDA Riau dari Pelalawan, Riau, akhir pekan lalu.

JawaPos.com - Sebanyak 3 ekor harimau Sumatera yang berasal dari Provinsi Riau, sudah dievakuasi ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PHRSD), Provinsi Sumatera Barat. Para Raja Rimba itu, terpaksa ditempatkan di sana, karena terlibat konflik dengan manusia.


Adapun harimau yang saat ini menginap di PRHSD, yaitu 2 harimau berjenis kelamin jantan, Atan Bintang dan Inung Rio, serta seekor harimau betina Bonita. Ketiganya masuk dalam kurun waktu tahun 2018 dan 2019.


Adalah Bonita, harimau betina dewasa yang terlebih dahulu dievakuasi ke sana. Kucing Besar ini terlibat konflik bahkan menjadi penyebab tewasnya 2 pekerja kebun karet di Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Inhil, Riau pada awal tahun 2018 lalu. Dia terpaksa dievakuasi dari habitatnya karena telah bersikap 'tidak semestinya', yaitu sudah mengarah seperti hewan jinak.


"Kalau Bonita sempat masuk ke dalam kandang rawat lagi karena terlihat agak kurang sehat sehingga dipindahkan ke kandang perawatan lagi," kata Suharyono, Kamis (28/3).


Kemudian di akhir 2018, masyarakat Inhil kembali dihebohkan dengan kemunculan harimau Sumatera. Satwa dengan nama ilmiah Panthera tigris sumatrae tersebut, masuk ke pasar dan terjebak di kolong ruko warga di Pulau Burung. Dia kemudian dievakuasi ke PRHSD untuk diobservasi tingkah lakunya.


"Kabar Atan Bintang dan Bonita masih di kandang habituasi, kandang yang menyerupai habitat aslinya, itu hutan tapi di kandang. Diberikan habitat alam, dilepaskan babi dan lainnya agar dia bisa mengejar dan survive. Karena apapun dia telah mengalami trauma. Ini sedang dilakukan terhadap kedua satwa," sebutnya.


Terakhir adalah Inong Rio. Harimau jantan yang diperkirakan berusia 4 tahun ini, terkena jerat yang dipasang pemburu liar di Kabupaten Pelalawan. Akibatnya, luka kirinya mengalami infeksi bahkan sudah dimakan belatung dan dihinggapi lalat.


Inong berhasil dievakuasi akhir pekan lalu. Dia sudah dibawa ke PRHSD dan sedang menjalani perawatan oleh dokter hewan dan para medis di sana. "Kakinya sudah cenderung kecil daripada sebelumnya saat dievakuasi. Hari ini, rencana akan dilakukan rekam medik secara keseluruhan," kata dia.


Untuk saat ini, BBKSDA Riau bersama dengan PRHSD dan Kemen LHK sedang mengkaji apakah ketiga Raja Rimba ini dapat dilepas liarkan ke alam liar. "Untuk rencana pelepasliaran, kami sedang melakukan observasi lapangan. Agar lokasi pelepasliaran sesuai dengan habitat aslinya dan menjamin ketersediaan pakan," ucapnya.


Habitat asli yang dimaksud adalah hutan dengan rawa-rawa atau lahan gambut. "Karena harimau Sumatera habitat aslinya ada di hutan gambut. Sehingga mau tidak mau alternatif pelepasliaran harus di hutan rawa," bebernya.


Selain habitat, ketersediaan pakan juga harus dijamin tidak kurang. "Pakan liar alami seperti monyet ekor panjang, babi, rusa, ada binatang yang menjadi buruan dia. Kalau tidak ada itu bukan tempat yang layak untuk dia. Itu perlu survei waktu dan pengamatan terhadap lapangan yang cukup. Sehingga tidak kesesuaian jenis habitat tapi juga ketersediaan cadangan pakan," tutupnya.

EDITOR: Sari Hardiyanto