← Beranda
Empat RW Ini Dua Hari Terendam Air Campur Lumpur
SoejatmikoSelasa, 17 Januari 2017 | 21.34 WIB
BANJIR LAGI: Jalan Raya Kaligawe terendam banjir parah, Senin (16/1).

JawaPos.com - Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) kembali meluap pasca hujan deras yang mengguyur Kota Semarang, Minggu (15/1) malam. Akibatnya, sejumlah rumah warga yang tersebar di 4 RW, yakni RW 5, RW 7, RW 8 dan RW 9  Kelurahan Sawah Besar, Kecamatan Gayamsari, terendam banjir bercampur lumpur. Luapan banjir tersebut terutama merendam rumah warga di sepanjang Sungai Banjir Kanal Timur.


Tidak hanya itu, genangan air meluber hingga merendam Jalan Raya Kaligawe setinggi paha orang dewasa. Titik genangan paling parah, mulai depan SPBU Kaligawe hingga pintu perlintasan kereta api Kaligawe. Akibatnya, arus lalu lintas jalur utama tersebut tersendat.


Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, banyak pengendara memilih putar balik untuk tidak menerobos genangan banjir. Pengguna jalan memilih berbalik arah untuk mencari jalur lain yang aman dari banjir. Di antaranya, melewati Jalan Arteri Yos Sudarso ke arah Pelabuhan Tanjung Emas. Sedangkan dari arah Sayung Demak, memilih berbelok ke Jalan Wolter Monginsidi hingga tembus ke Jalan Arteri Soekarno-Hatta.


Meski begitu, sejumlah pengendara motor dan mobil tetap saja ada yang nekat menerobos genangan banjir Kaligawe. Akibatnya, motor dan mobil mengalami mogok di tengah banjir. ”Saya kira genangannya dekat. Ternyata cukup jauh, mungkin airnya masuk ke knalpot,” ujar seorang pengendara motor, Dewi, 22, mahasiswi asal Kudus yang motornya mogok.


Camat Gayamsari Semarang, Bambang Purnomo Aji, saat ditemui di lokasi mengatakan, genangan banjir merupakan luapan dari Sungai Banjir Kanal Timur. ”Hujan deras terjadi sejak  pukul 22.00 (kemarin malam), membuat air di BKT meluap ke jalan dan perkampungan warga,” kata Bambang.


Dikatakannya, hujan deras kali ini cukup memiliki dampak besar, terutama di daerah Kaligawe dan Sawah Besar. ”Limpasan hujan pukul 22.00 hingga pukul 23.00 telah terasa dampaknya. BKT meluber hingga pukul 01.00. Di Kaligawe Gang 1 hingga Gang 9 terkena dampak luberan,” ujarnya.


Pihaknya mengaku telah melakukan upaya penanganan darurat. Di antaranya, melakukan pengalihan arus sungai yang dilakukan sejak malam. Pihaknya mengaku telah berkoordinasi dengan berbagai pihak. Sedangkan upaya penyedotan menggunakan pompa, baru bisa dilakukan pagi hari. ”Karena memang menunggu BKT surut. Sejak malam, arus lalu lintas di Jalan Kaligawe Raya terputus akibat luapan banjir. Mulai siang telah mulai berkurang,” katanya.


Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Sawah Besar, Mulyadi, mengatakan, dampak luapan banjir Sungai BKT cukup berdampak besar di Kelurahan Sawah Besar. Terutama di 4 RW, yakni RW 5, RW 7, RW 8 dan RW 9. Tidak ada korban jiwa, namun banjir kali ini cukup merepotkan warga karena disertai lumpur. ”Warga baru bisa bersih-bersih rumah setelah banjir surut. Banjir lumpur ini yang merepotkan warga,” ujarnya.


Pihaknya mengaku telah melakukan koordinasi dengan pihak kelurahan dan kecamatan untuk mengindentifikasi jumlah warga yang terkena dampak banjir tersebut. ”Kami berharap supaya pemkot bisa memberikan bantuan kepada warga yang terkena dampak banjir,” katanya.


Menurutnya, banjir akibat Sungai BKT meluap telah terjadi kesekian kalinya. Tetapi kali ini cukup parah, karena bercampur lumpur. ”Ini masih perlu waspada mengingat hujan bisa terjadi sewaktu-waktu,” ujarnya.


Pihaknya berharap, normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur bisa segera direalisasikan pemerintah. ”Sejauh ini sedimentasi BKT sangat dangkal. Kondisi tanggulnya juga memprihatinkan. Begitu hujan turun, warga Sawah Besar waswas kalau BKT kembali meluap,” katanya.


Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Agus Harmunanto, mengatakan, pihaknya mengaku telah melakukan peninjauan di beberapa titik lokasi banjir di Sawah Besar. ”Kami berikan bantuan air bersih. Selain itu, jika diperlukan, kami siap mendirikan dapur umum untuk warga yang terkena dampak,” ujarnya.


Untuk penanganan pascabanjir, pihaknya bekerja sama dengan PDAM Kota Semarang untuk mempersiapkan penyediaan kebutuhan air bersih, dan Dinas Kebakaran Kota Semarang untuk melakukan penyedotan. ”Kami masih terus melakukan pantauan di lapangan, termasuk memantau perkembangan penanganan,” katanya.


Sementara itu, normalisasi Sungai BKT diyakini menjadi obat mujarab untuk mengatasi persoalan banjir di sejumlah wilayah, seperti Kaligawe, Sawah Besar, dan sekitarnya. Utamanya, wilayah selama ini terkena dampak luapan air BKT. Saat ini, Pemkot Semarang masih menunggu lelang normalisasi BKT oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) yang direncanakan pada Agustus 2017, mendatang.


“Banjir di Kaligawe murni 100 persen akibat limpasan sungai BKT yang debit airnya meningkat. Obatnya ya normalisasi BKT,” terang Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, saat melakukan pantauan di sejumlah titik banjir, seperti Kaligawe, dan Perumahan Dinar Indah, Kecamatan Tembalang, Senin (16/1).


Selama ini, lanjut Hendi, sapaan akrab wali kota, pemkot terus berkoordinasi baik dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Satkernya yang ada di Semarang (BBWS). Targetnya, Agustus dilakukan normalisasi BKT. “Kalau itu sudah berjalan, dua tiga tahun anggaran persoalan banjir (akibat luapan BKT) tuntas,” ujarnya optimistis.


Disinggung mengenai pembebasan lahan, mengingat saat ini ada sekitar 4.000 bangunan yang menempati bantaran BKT, pihaknya mengklaim terus melakukan sosialisasi. Pemkot telah menyiapkan sejumlah tempat relokasi bagi warga yang terdampak normalisasi BKT. Seperti Pasar Klitikan Penggaron untuk pedagang Barito, rusunawa bagi warga yang selama ini menghuni bantaran sungai, dan titik lain sesuai exiting yang ada. “Ketika project itu berjalan, mereka bisa ditempatkan sesuai ketentuan ada. Titik-titik sudah kita inventarisir. Begitu lelang selesai, kita geser mereka,” kata Hendi.


Ia menambahkan, ada dua kasus yang berbeda banjir yang melanda jalur Kaligawe. Sebab, dalam pantauannya, ada titik yang tidak banjir akibat limpasan BKT, yakni di bawah jembatan tol Kaligawe. Menurutnya, di titik tersebut tidak terkena limpasan BKT tapi rob air laut. “Untuk mengatasinya dengan normalisasi Kali Tenggang. Hari ini (kemarin) kita buat pekerjaan fisik dengan pemerintah pusat untuk peningkatan parapet Kali Tenggang dengan anggaran pusat sebesar Rp 350 miliar, dan akan selesai dalam satu tahun anggaran,” terang Hendi sembari menambahkan, terkait masalah rob, pemkot akan membuat tanggul laut untuk menutup Kali Sringin, Tenggang, dan Babon, dengan anggaran Rp 550 miliar bantuan pusat dan akan selesai 2 tahun anggaran. “Kami dari pemkot akan lakukan percepatan untuk penanganan rob dan banjir ini,” imbuhnya.


Saat memantau korban banjir di Perumahan Dinar Indah Blok 7 Tembalang, Hendi meminta Dinas Pekerjaan Umum (DPU) segera meninggikan tanggul Kali Pengkol yang berbatasan dengan permukiman warga. “Saya cek ternyata masih ada tanggul yang belum diselesaikan. Saya minta dibangun sampai batas tebing. Kenaikan setengah meter ke atas,” perintahnya.


Dalam pantauan kemarin, sejumlah warga terlihat sibuk membersihkan perabot rumah tangga dan elektronik dari lumpur. Mereka pun berharap pemerintah membantu relokasi. Mengingat kejadian banjir tersebut sudah menjadi langganan setiap musim penghujan. “Padahal hujannya tidak seberapa, tapi air sungai deras dan meluap ke permukiman. Kami tidak bisa berbuat apa-apa,” terang Winarno, Ketua RT setempat.


Menurutnya, banjir yang terjadi akibat luapan Kali Pengkol dalam setahun terakhir sudah empat kali. “Padahal kedalaman tanggulnya tiga meter lebih, tapi masih saja meluap,” keluhnya.


Raras, warga lain menceritakan, kejadiannya begitu cepat. Ketinggian air mencapai 1,5 meter. Dia bersama keluarganya tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga dan perabot. “Air di luar rumah itu sudah sampai dada, kami tidak sempat menyelamatkan barang-barang. Kami berharap pemerintah membantu relokasi, karena banjir di sini sudah sering terjadi,” tandasnya.


Menanggapi permintaan relokasi warga, wali kota menjelaskan, jika terkait relokasi, maka harus melihat regulasi yang ada. “Masuknya hibah dan aset, harus melibatkan dewan. Boleh saja keinginan itu tinggal disesuaikan dengan regulasi yang ada,” jelasnya.


Menurutnya, yang bisa dilakukan pemkot relokasi di aset pemkot, yakni di rusunawa. Namun jika meminta lahan atau perumahan, ranahnya sudah masuk antarswasta.


Kepala DPU Kota Semarang Iswar Aminuddin yang turut dalam tinjauan menambahkan, dalam minggu ini pihaknya akan meninggikan parapet Kali Pengkol setengah meter dari kondisi semula. Pembangunan akan menggunakan dana OM (operasional maintenance). “Sementara untuk titik-titik tanggul rendah yang menjadi aliran luapan BKT akan kita pasang karung-karung pasir, harapannya bisa mengurangi limpasan air sungai di permukiman masyarakat. Sambil menunggu BBWS menyelesaikan lelang pada Agustus-Oktober mendatang,” tandasnya. (amu/zal/aro/ce1)

EDITOR: Soejatmiko