← Beranda
Pameran TATAH 2026 Jadi Jalan Ukir Jepara Menuju Pengakuan Dunia
Latu Ratri MubyarsahRabu, 6 Mei 2026 | 18.51 WIB
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut ukir Jepara bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga penggerak ekonomi. (Istimewa)

 

JawaPos.com–Seni ukir Jepara didorang mendapat pengakuan di tingkat internasional, menjadi penggerak ekonomi kreatif nasional. Pemerintah melakukan itu, salah satunya melalui Pameran Seni Ukir Jepara TATAH 2026 di Museum Nasional Indonesia.

Kementerian Kebudayaan menyatakan, pelestarian budaya tidak sebatas menjaga warisan leluhur. Tapi juga harus mampu memberi dampak ekonomi bagi masyarakat.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut ukir Jepara memiliki nilai sejarah, filosofi, sekaligus potensi ekonomi yang besar. Ukir Jepara bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga penggerak ekonomi yang memberdayakan perajin, membuka lapangan kerja, dan memperkuat ekosistem industri kreatif.

Baca Juga: Pecinta Kopi Masuk: dari Jakarta sampai Makassar, Ini 10 Kopi Susu Paling Hits di Indonesia

”Pemerintah siap ajukan ukir Jepara sebagai warisan budaya takbenda dunia ke UNESCO. Ini bagian dari strategi diplomasi budaya Indonesia di level internasional,” ujar Fadli Zon.

Pameran TATAH menghadirkan lebih dari 30 karya ukir, termasuk karya ikonik seperti Macan Kurung dan Kursi Kartini. Mengusung tema Suluk–Sulur–Jepara, pameran itu menampilkan perjalanan panjang tradisi ukir Jepara berbasis riset sejarah sekaligus memperlihatkan perkembangan teknik dan estetika dari masa ke masa.

Tidak hanya menghadirkan karya seni, pameran ini juga dikemas dengan pendekatan edukatif. Pengunjung dapat melihat rekonstruksi ruang kerja pengukir atau brak, hingga mengenal alat dan teknik tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Baca Juga: Yang Terbit, Yang Tenggelam

Pemerintah juga membuka peluang kolaborasi lintas negara untuk memperkuat pengakuan tradisi ukir sebagai warisan budaya dunia. Upaya tersebut dinilai dapat memperluas jejaring kerja sama budaya dan industri kreatif Indonesia.

Bupati Witiarso Utomo menegaskan, ukir Jepara merupakan bagian penting dari identitas masyarakat. Ukiran bukan sekadar produk kerajinan, melainkan bagian dari peradaban dan sumber penghidupan ribuan keluarga di Jepara.

”Di balik setiap ukiran, terdapat makna, sejarah, dan penghidupan ribuan keluarga. Ini bukan sekadar produk, tetapi peradaban,” terang Witiarso Utomo.

Meski demikian, tantangan regenerasi perajin masih menjadi perhatian serius. Menurunnya minat generasi muda untuk menjadi pengukir dinilai membutuhkan dukungan kebijakan dan kolaborasi lintas sektor.

Direktur Pelaksana TATAH 2026 Veronica Rompies mengatakan, pameran tersebut dirancang sebagai ruang refleksi yang mengangkat ukiran sebagai karya seni adiluhung.

”TATAH’ mempertemukan nilai sejarah, keterampilan, dan kemanusiaan dalam proses penciptaan karya. Harapannya, dampak pameran ini dapat berlanjut menjadi solusi nyata bagi keberlanjutan hidup para perajin,” jelas Veronica Rompies.

Baca Juga: Kenali Barongsai, Atraksi Ikonik di Perayaan Tahun Baru Imlek

Kementerian Kebudayaan memastikan akan terus memperkuat ekosistem ukir Jepara melalui sinergi pemerintah, industri, komunitas, dan akademisi. Pameran yang berlangsung hingga awal Juli 2026, diharapkan menjadi momentum penting untuk membawa seni kriya Indonesia ke panggung dunia sekaligus melahirkan generasi baru pengukir Jepara.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah