JawaPos.com–Peran arsitek semakin krusial dalam menentukan arah pembangunan yang bertanggung jawab. Arsitek memiliki peran strategis dalam menentukan spesifikasi material yang digunakan dalam setiap proyek.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mempercepat adopsi material ramah lingkungan di berbagai proyek arsitektur. Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Nasional, IAI Jakarta, dan IAI Banten berkolaborasi dengan pelaku dalam ekosistem FSC menghadirkan talkshow bertajuk Understanding FSC for Architects: From Certification to Construction dalam rangkaian ARCH:ID yang merupakan forum dan pameran arsitektur tahunan IAI di BSD City, Tangerang Selatan.
Talkshow ini dirancang sebagai forum edukatif sekaligus praktis bagi arsitek untuk memahami secara menyeluruh penggunaan material kayu bersertifikat FSC, mulai dari aspek sertifikasi, rantai pasok, hingga implementasi dalam desain dan konstruksi. Dengan dukungan IAI sebagai organisasi profesi arsitek, sesi ini menjadi ruang strategis untuk menjembatani kebutuhan antara industri material dan praktisi desain.
Ketua IAI Jakarta Teguh Aryanto mengatakan, melalui kolaborasi seperti ini, pihaknya mendorong anggota IAI untuk semakin memahami dan mengadopsi prinsip keberlanjutan. Termasuk penggunaan material bersertifikat FSC sebagai bagian dari praktik profesional yang bertanggung jawab.
Sementara itu, Shri Chandra Satryotomo, ketua IAI Banten melihat kegiatan ini sebagai langkah konkret dalam memperkuat kapasitas arsitek. Menurut dia, inisiatif ini sangat relevan untuk memperkaya wawasan arsitek, khususnya dalam menjawab tuntutan global terhadap pembangunan berkelanjutan.
Menurut Isra Ruddin, Member FSC & CEO IRCOMM ArchieSpace, kegiatan ini merupakan bagian dari strategi membangun ekosistem kolaboratif yang berorientasi pada keberlanjutan. Talkshow ini bukan hanya forum diskusi, tetapi langkah konkret untuk mempertemukan arsitek dengan pelaku industri dalam satu ekosistem yang terintegrasi.
Baca Juga: Perpaduan Timur Tengah dan Sunda: Intip Keindahan Arsitektur Masjid Agung Karawang
”IRCOMM ArchieSpace kami hadirkan sebagai perusahaan baru di bawah IRCOMM Group yang berfokus sebagai Sustainable Service Provider. Kami secara aktif membangun kolaborasi dengan para FSC Certificate Holder untuk mengembangkan peluang berbagai proyek berkelanjutan yang dapat langsung diimplementasikan di sektor arsitektur dan konstruksi,” papar Isra Ruddin.
Thomas Hidayat Kurniawan, CEO MK Academy menegaskan bahwa kesiapan industri terhadap sertifikasi FSC harus diimbangi dengan pendampingan yang tepat. Saat ini, semakin banyak perusahaan yang dituntut untuk menggunakan material berkelanjutan/Sustainable Product.
”Namun belum memahami sistem sustainability FSC dan proses sertifikasinya. MK Academy hadir sebagai mitra strategis yang membantu perusahaan, baik yang baru memulai maupun yang ingin meningkatkan sistem keberlanjutannya untuk mendapatkan dan mengoptimalkan sertifikasi FSC,” terang Thomas Hidayat Kurniawan.
Dia menyatakan, hal itu bukan hanya tentang kepatuhan, tetapi juga membuka akses pasar yang lebih luas, meningkatkan daya saing bisnis.
Dari sisi industri, Robertus Agung Prasetya, CEO Karya Wahana Sentosa (KWaS) menekankan kesiapan KWaS dalam mendukung kebutuhan proyek berbasis FSC.
”Kami di KWaS telah membangun sistem produksi berbasis FSC secara menyeluruh, mulai dari sourcing bahan baku, desain, produksi hingga distribusi. Dengan meningkatnya kebutuhan pasar terhadap material bersertifikat, kami siap menjadi mitra bagi arsitek dan developer dalam menyediakan solusi interior, furniture, maupun material kayu penunjang konstruksi yang tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga memenuhi standar kualitas dan kebutuhan desain proyek,” ujar Robertus Agung.
Baca Juga: Masjid Agung Banten: Rahasia Arsitek Tionghoa dan Belanda di Balik Menara Mirip Mercusuar