← Beranda
Melihat Hunian dengan Desain Art Deco nan Artistik dengan Sentuhan Modern
Lailatul Fitriani• Senin, 16 Desember 2024 | 18.07 WIB
BAK GALERI: Interior SF Haus yang diperindah beragam karya seni di banyak sudut. Kesan art deco semakin kental dengan furnitur mid century dari kayu jati. (Dokumentasi Saka Studio)

Hunian yang berlokasi di kawasan Cipinang itu banyak terinspirasi dari arsitektur ikonik art deco era kolonial. Tiap detailnya menghadirkan kembali gaya klasik dengan sentuhan modern. Desainnya artistik, clean, dan terlihat mewah.

RUMAH bergaya art deco sering kali memiliki fasad mencolok yang identik dengan bentuk dan pola geometris. Sebagaimana fasad SF HAUS yang memadukan geometri lengkungan dan garis horizontal yang tegas dengan atap datar.

”Elemen kurva pada bidang menjadi daya tarik visual utama. Fasad juga menggunakan glass block sebagai ciri khas desain art deco sekaligus untuk sirkulasi cahaya,” tutur arsitek Saka Studio Kunto Anggoro.

Warna netral dan aksen hijau muda pada pagar serta kanopi menciptakan suasana yang tenang dan mengundang transformasi ruang yang estetis. Fasadnya cukup tertutup dengan carport luas yang dapat menampung dua mobil berukuran sedang.

Dari carport terdapat koridor pintu utama yang mengarah ke ruangan open space. Living, dining, kitchen, dan inner court terhubung jadi satu. Sebuah pintu kamuflase menghubungkan living room dengan area servis dan powder room. ”Titik utama rumah ini terdapat pada inner court yang berfungsi sebagai titik hubung antar-ruang,” ujar Kunto.

Ada tiga akses ruang yang bisa dipilih. Yakni, tangga menuju lantai 2, backyard, dan ruang kerja. Area inner court tersebut juga memiliki void tinggi dengan atap transparan yang dilapisi kisi-kisi kayu.

VIBE TENANG: Living, dining, kitchen, dan inner court terhubung menjadi satu dengan transformasi ruang yang estetis dari area fasad ke sisi dalam. (Dokumentasi Saka Studio)
VIBE TENANG: Living, dining, kitchen, dan inner court terhubung menjadi satu dengan transformasi ruang yang estetis dari area fasad ke sisi dalam. (Dokumentasi Saka Studio)

Pada jam-jam tertentu, cahaya yang masuk memantulkan bayangan tajam yang artistik di dinding sepanjang tangga. Di sisi lain, railing tangga yang menerus memberikan kesan kontinu pada sirkulasi rumah keseluruhan. ”Area void juga berfungsi memastikan terjadinya pertukaran udara secara optimal untuk kenyamanan termal dalam rumah,” sambungnya.

Lantai 2 dikhususkan untuk area yang lebih privat seperti master bedroom dan kamar anak. Semuanya mendapatkan ventilasi silang dengan adanya bukaan jendela dua arah.

”Pada backyard terdapat meja makan sekunder yang jadi dining room-nya semi-outdoor. Atap dining room menggunakan material yang sama dengan kanopi teras, yakni solar flat embossed untuk mendapatkan cahaya yang soft tanpa kontras bayangan,” beber dia.

VIBE TENANG: Living, dining, kitchen, dan inner court terhubung menjadi satu dengan transformasi ruang yang estetis dari area fasad ke sisi dalam. (Dokumentasi Saka Studio)
VIBE TENANG: Living, dining, kitchen, dan inner court terhubung menjadi satu dengan transformasi ruang yang estetis dari area fasad ke sisi dalam. (Dokumentasi Saka Studio)

Permukaan embossed pada material transparan juga dapat mengurangi penyerapan panas matahari hingga 60 persen. Sementara zona taman dibiarkan terbuka untuk menghadirkan suasana hijau yang fresh.

Secara desain, interior SF HAUS begitu artistik dengan karya seni rupa di beberapa sudut. Kesan art deco semakin kental dengan hadirnya loose furniture dari kayu jati bertema mid century. ”Kitchen set dan furnitur lainnya dibuat dengan warna putih gading dan hijau olive untuk memperkuat aksen warna kayu di keseluruhan rumah,” imbuh Kunto.

Pemilihan warna krem yang ​​netral pada ruang tamu dipadukan dengan tekstur berlapis, membentuk ruang yang menarik secara visual dan harmonis. Aksen hijau zaitun dan karpet eklektik menghadirkan energi yang ceria. Ruangan menjadi lebih hidup dan hangat untuk berkumpul bersama keluarga. (lai/c7/nor)

---

SF HAUS

ELEMEN KURVA: Fasad memadukan lengkungan dan garis dengan atap datar. Penggunaan glass block sekaligus untuk sirkulasi cahaya. (Dokumentasi Saka Studio)
ELEMEN KURVA: Fasad memadukan lengkungan dan garis dengan atap datar. Penggunaan glass block sekaligus untuk sirkulasi cahaya. (Dokumentasi Saka Studio)
  • Arsitek: Kunto Anggoro, Anzhari Pratama, Mirza Haikal (Saka Studio)
  • Luas lahan: 140 meter persegi
  • Luas bangunan: 140 meter persegi
  • Lama pembangunan: 18 bulan
  • Lokasi: Cipinang, Jakarta Timur

---

Highlight

• Lantai Conwood

BERMANDI CAHAYA: Area tangga dengan void tinggi. Pada jam-jam tertentu cahaya yang masuk memantulkan bayangan estetis di dinding tangga. (Dokumentasi Saka Studio)
BERMANDI CAHAYA: Area tangga dengan void tinggi. Pada jam-jam tertentu cahaya yang masuk memantulkan bayangan estetis di dinding tangga. (Dokumentasi Saka Studio)

Lantai indoor menggunakan material conwood yang tampilan dan teksturnya mirip kayu solid mahoni. Finishing semigloss dengan warna gelap untuk menyamarkan noda.

• Void

BERMANDI CAHAYA: Area tangga dengan void tinggi. Pada jam-jam tertentu cahaya yang masuk memantulkan bayangan estetis di dinding tangga. (Dokumentasi Saka Studio)
BERMANDI CAHAYA: Area tangga dengan void tinggi. Pada jam-jam tertentu cahaya yang masuk memantulkan bayangan estetis di dinding tangga. (Dokumentasi Saka Studio)

Void di atas tangga menjadi center ruang. Tingginya sekitar 7 meter dengan skylight transparan dan bukaan-bukaan sehingga ruangan bermandikan cahaya. Di bawahnya terdapat inner court dengan pot-pot bunga.

• Open Backyard

VIBE TENANG: Living, dining, kitchen, dan inner court terhubung menjadi satu dengan transformasi ruang yang estetis dari area fasad ke sisi dalam. (Dokumentasi Saka Studio)
VIBE TENANG: Living, dining, kitchen, dan inner court terhubung menjadi satu dengan transformasi ruang yang estetis dari area fasad ke sisi dalam. (Dokumentasi Saka Studio)

Taman halaman belakang dibuat terbuka tanpa atap dan beralas batu karang merah muda. Bangku terakota, tanaman hijau, dan lantai conwood warna akasia menyatu harmonis.

EDITOR: Ilham Safutra