← Beranda
Tips Bikin CV Pakai AI, Data Pribadi Jangan Sampai Bocor
Berliana Rizqia Putri• Rabu, 21 Oktober 2026 | 01.55 WIB
Ilustrasi CV. Menyiapkan curriculum vitae (CV) untuk melamar pekerjaan kini bisa memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). (Freepik)

JawaPos.com - Menyiapkan curriculum vitae (CV) untuk melamar pekerjaan kini bisa memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).

Banyak pencari kerja memanfaatkan chatbot untuk merapikan curriculum vitae (CV). Namun, di balik kemudahan itu, ada risiko yang sering luput: data pribadi bisa terpapar ke pihak lain.

Hal tersebut terungkap dalam survei terbaru Kaspersky yang dilakukan pada Maret 2026. Sebanyak 7.200 responden dari 18 negara, termasuk Indonesia, ikut berpartisipasi. Hasilnya, 90 persen responden menggunakan perangkat berbasis AI. Satu dari lima pengguna bahkan secara aktif memakainya saat mencari kerja.

Baca Juga: Demo di Tugu Tani Soroti Program MBG, Ada Ketimpangan Sosial yang Tak Selesai

Peran AI dalam rekrutmen memang memicu perdebatan. Sebagian pihak menilai AI sangat membantu, misalnya untuk menyesuaikan CV dengan tiap lowongan dan menyisipkan kata kunci agar lolos penyaringan otomatis. Namun, ada pula yang khawatir. Ketergantungan pada AI dikhawatirkan membuat bahasa CV terlalu umum dan kehilangan sentuhan personal.

Baca Juga: KMP Batu Mandi Terbakar di Selat Sunda, Penumpang Sempat Dengar Ledakan

Agar AI benar-benar menjadi asisten, Kaspersky merilis panduan praktis meningkatkan kualitas CV tanpa mengorbankan keamanan dan keaslian data. Rilis itu dipublikasikan pada 16 Oktober 2026.

Hapus Data Sensitif Sebelum Diunggah

Kiat pertama menyangkut keamanan data. Sebelum mengirim CV ke chatbot, pencari kerja disarankan menghapus semua informasi rahasia. Mulai nama, nomor telepon, alamat rumah, surel, nama perusahaan, hingga hasil pindai dokumen.

Menurut Kaspersky, model bahasa yang digunakan dilatih berdasarkan data yang diberikan pengguna. Artinya, selalu ada risiko informasi terekspos kepada pengguna lain secara tidak sengaja.

Karena itu, periksa pengaturan chatbot dan nonaktifkan opsi yang mengizinkan AI mempelajari kueri Anda. Pastikan juga layanan tersebut punya kebijakan privasi yang komprehensif. Aturan emasnya: jangan masukkan apa pun ke chatbot jika Anda tidak ingin informasi itu muncul di internet.

CV Bisa Dinilai Mesin, Tapi Tetap Dibaca Manusia

Kiat kedua, bersiaplah bahwa CV Anda dievaluasi AI. Sebagian besar perusahaan skala besar dan menengah sudah memakai Applicant Tracking System (ATS), yakni perangkat lunak SDM yang mengumpulkan dan menyortir lamaran. Sistem ATS modern kini makin banyak diperkuat AI untuk menyaring CV yang masuk.

Meski begitu, CV yang lolos saringan awal tetap akan ditinjau HR secara manual. Gaya tulisan buatan AI bisa memberi kesan kurang baik bagi perekrut. Kaspersky menyarankan pencari kerja tetap mengutamakan pembaca manusia saat menyusun CV.

AI Editor, Bukan Penulis

Kiat ketiga, jadikan AI sebagai penyunting. Susun dulu draf CV sendiri dan tonjolkan poin yang menurut Anda paling penting. Setelah itu, baru minta AI membantu menyempurnakan pilihan kata, memperbaiki struktur, dan menonjolkan pengalaman yang relevan dengan posisi yang dilamar.

Jika tidak, hasil akhirnya bisa berisi frasa klise atau gambaran keliru tentang keterampilan dan pengalaman Anda.

Cek Ulang Sebelum Dikirim

Kiat keempat, periksa kembali CV sebelum sampai ke tangan perekrut. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan:

  • Privasi: hapus detail pribadi yang tidak perlu dan pastikan tidak ada informasi yang dilindungi perjanjian kerahasiaan (NDA).
  • Keterbacaan: cek judul, penanggalan, dan urutan bagian. Gunakan format DOCX atau PDF tanpa grafis rumit.
  • Akurasi: tinjau setiap klaim dan pastikan Anda bisa mempertanggungjawabkannya saat wawancara. AI terkadang melebih-lebihkan pernyataan.

Chatbot Publik Itu ‘Penyerap Data’

Pakar keamanan dan privasi Kaspersky Lama Saqquor mengingatkan agar pengguna tidak sembarangan menyerahkan data ke platform AI.

“Alat bantu penulisan berbasis AI sangat berguna untuk menyusun dan memoles konten. Namun, kita harus ingat bahwa chatbot publik pada dasarnya adalah ‘penyerap data’. Memasukkan riwayat karier lengkap, detail kontak, atau pencapaian yang dilindungi NDA ke platform AI eksternal berarti menyerahkan kendali atas bagaimana informasi sensitif itu disimpan, diproses, atau bahkan berisiko terekspos dalam model pelatihan AI di masa depan,” ujarnya.

Menurut Lama, AI sebaiknya diperlakukan sebagai mitra diskusi untuk analisis. Manfaatkan untuk membantu pengaturan format dan menemukan celah dalam struktur CV. Sementara itu, detail profesional harus tetap autentik dan data pribadi tersimpan secara offline.

Waspada Penipuan Berkedok Lowongan

Selain soal CV, para pakar Kaspersky membagikan kiat agar proses mencari kerja lebih aman:

  • Periksa setiap tautan. Baik tautan lowongan, panggilan video, maupun tugas tes yang dikirim lewat surel atau aplikasi pesan. Sebagian bisa mengarah ke situs phishing atau malware. Gunakan solusi keamanan tepercaya dengan perlindungan anti-penipuan, seperti Kaspersky Premium.
  • Gunakan kata sandi unik dan rumit untuk tiap layanan. Simpan kredensial dan data keuangan di pengelola kata sandi agar lebih aman dan praktis.
  • Curigai tawaran yang terlalu indah. Sebelum menyerahkan data pribadi, cari tahu lebih lanjut soal lowongan dan verifikasi keaslian sumbernya.
  • Jangan unggah CV lengkap secara terbuka di media sosial. Tampilkan profil ringkas saja, dan berikan dokumen lengkap hanya jika diminta.
EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah
Tags:aiCV