JawaPos.com - Mengaktifkan verifikasi dua langkah di WhatsApp bukan berarti akun sepenuhnya kebal dari pembajakan.
Celah justru dapat muncul ketika pelaku berhasil menautkan perangkat lain ke akun korban melalui fitur Perangkat Tertaut.
Pakar keamanan siber Vaksincom, Alfons Tanujaya, menjelaskan bahwa PIN verifikasi dua langkah tidak selalu diminta ketika perangkat baru ditautkan.
Fitur tersebut terutama berfungsi ketika nomor WhatsApp didaftarkan kembali sebagai perangkat utama.
Baca Juga: Pengguna WhatsApp Keluhkan Akun Mendadak Diblokir, Pakar: Dibajak Judi Online
Artinya, pengguna yang sudah mengaktifkan verifikasi dua langkah tetap berpotensi menjadi korban, jika orang lain sempat memperoleh akses ke ponselnya dan berhasil menautkan perangkat tanpa sepengetahuan pemilik.
Mengapa verifikasi dua langkah tidak cukup?
Banyak pengguna menganggap PIN verifikasi dua langkah sebagai kunci utama untuk mencegah akun WhatsApp diambil alih.
Padahal, mekanisme pendaftaran ulang nomor dan penautan perangkat merupakan dua proses berbeda.
Saat nomor telepon didaftarkan kembali sebagai perangkat utama, PIN verifikasi dua langkah diperlukan.
Namun, ketika perangkat baru ditautkan melalui pemindaian kode QR, PIN tersebut tidak menjadi persyaratan yang sama. Di sinilah salah satu celah yang perlu dipahami pengguna.
Baca Juga: WhatsApp Siapkan Solusi untuk Chat yang Menumpuk, Notifikasi dari Akun Bisnis Besar Akan Dipindahkan
Seseorang yang mendapatkan akses fisik ke ponsel korban dalam waktu singkat berpotensi memanfaatkan proses penautan perangkat.
Jika berhasil, akun dapat digunakan dari perangkat lain tanpa harus mengambil alih nomor telepon korban.
Fenomena pemblokiran akun WhatsApp yang muncul sejak awal Agustus 2026 semakin menarik perhatian, karena sebagian pengguna menemukan aktivitas yang tidak mereka lakukan sendiri setelah akun dipulihkan.
Dalam beberapa laporan, terdapat riwayat pengiriman tautan judi online kepada nomor yang tidak dikenal.
Menurut penelusuran Vaksincom, setidaknya terdapat tiga pola yang perlu diperhatikan terkait aktivitas ini.
Baca Juga: WhatsApp Tambah Fitur Baru Chat Grup, Polling Bisa Dibatasi Waktu hingga Buat Grup Sekali Ketuk
1. Akun WhatsApp disewakan
Pengguna ditawari pekerjaan atau penghasilan harian dengan cara menyewakan akun WhatsApp.
Alih-alih digunakan untuk pekerjaan yang sah, akun tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk mengirim spam, termasuk promosi judi online.
Pemilik akun baru mengetahui penyalahgunaan ketika akun terkena pembatasan atau pemblokiran.
"Modus ini memiliki preseden. Kepolisian pernah mengungkap sindikat di Palembang yang disebut menjual sekitar 50.000 nomor WhatsApp," kata Alfons kepada JawaPos.com.
2. Perangkat ditautkan tanpa disadari
Modus berikutnya memanfaatkan fitur Linked Device, atau perangkat yang ditautkan pada akun WhatsApp.
Baca Juga: WhatsApp Tambah 3 Fitur Baru di Chat Grup, Bisa Hide Voters di Polling
Aplikasi yang mengklaim bisa menyadap atau memantau percakapan WhatsApp dapat memanfaatkan mekanisme resmi penautan perangkat.
Pelaku hanya membutuhkan akses fisik ke ponsel korban untuk melakukan pemindaian kode QR.
Karena proses tersebut berlangsung melalui fitur resmi WhatsApp, pengguna bisa saja tidak menyadari bahwa ada perangkat lain yang telah memperoleh akses ke akunnya.
3. Token sesi dicuri malware
Ancaman lainnya datang dari infostealer atau perangkat lunak yang dirancang mencuri informasi autentikasi.
Dalam sejumlah kasus terdokumentasi, library pengembang yang telah disusupi dapat mencuri token sesi WhatsApp Web.
Baca Juga: Grup WhatsApp 'Teh Gembul', jadi Tempat Koordinasi 27 Pelaku Rudapaksa Anak di Sampang
Token tersebut kemudian berpotensi digunakan untuk mengakses akun tanpa harus melalui proses OTP seperti ketika nomor didaftarkan ulang.
Karena itu, persoalan keamanan WhatsApp tidak hanya berkaitan dengan kode verifikasi yang diterima melalui SMS atau telepon.
Bagaimana cara mengetahui WhatsApp sedang diakses orang lain?
Cara paling sederhana adalah memeriksa daftar perangkat yang terhubung.
Buka WhatsApp lalu ke Setelan dan Perangkat Tertaut, kemudian periksa seluruh perangkat yang tercantum.
Jika ada perangkat, browser, komputer, atau lokasi akses yang tidak dikenali, segera keluarkan dari akun.
Pemeriksaan ini penting terutama bagi pengguna yang tiba-tiba mengalami pemblokiran tanpa merasa melakukan aktivitas spam.
Baca Juga: Jangan Sampai Menyesal! 7 Cara Ampuh Bikin Akun WhatsApp Kamu Sulit Dibajak
Jika setelah akun dipulihkan terdapat riwayat pengiriman tautan judi online atau pesan massal yang tidak pernah dikirim sendiri, pengguna perlu menganggapnya sebagai tanda peringatan.
"Jangan hanya mengganti PIN atau menunggu pemblokiran berakhir. Telusuri terlebih dahulu apakah ada perangkat asing yang masih terhubung," Alfons mengingatkan.
Pengguna juga perlu memperhatikan keamanan fisik perangkat. Menurut Alfons, ancaman tidak selalu berasal dari malware atau peretas yang berada jauh dari korban.
Orang yang sempat memegang ponsel dalam kondisi tertentu juga berpotensi melakukan penautan perangkat.
Karena itu, selain mengaktifkan verifikasi dua langkah, pengguna sebaiknya menjaga akses fisik ke ponsel, menggunakan aplikasi WhatsApp resmi, dan rutin memeriksa daftar Perangkat Tertaut.
Dengan langkah tersebut, pengguna dapat lebih cepat mengetahui apabila akun WhatsApp digunakan dari perangkat yang tidak mereka kenal.
Vaksincom menyatakan masih memantau perkembangan kasus ini dan membuka ruang bagi pengguna yang mengalami kejadian serupa untuk membagikan kronologi.
Data tersebut diperlukan untuk melihat apakah pola pembajakan akun yang ditemukan saat ini merupakan rangkaian modus yang sama atau memiliki variasi baru.