← Beranda

Utang Harus Dilunasi? Ini 6 Kepercayaan Menuju Imlek

Novia HerawatiKamis, 22 Januari 2026 | 14.49 WIB
Ilustrasi orang bayar utang sebelum Imlek. (Freepik)

JawaPos.com - Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan suasana hangat, penuh harapan, dan sarat makna simbolis. Di balik kemeriahan lampion, angpao, ada beberapa kepercayaan yang diyakini etnis Tionghoa bisa memengaruhi perjalanan hidup.

Salah satu yang paling sering dibahas adalah anjuran untuk menyelesaikan utang sebelum Imlek tiba. Bagi sebagian etnis Tionghoa, ini bukan sekadar urusan finansial, melainkan bagian dari upaya menata energi dan memulai tahun dengan kondisi yang lebih ringan.

Dalam budaya Tionghoa, pergantian tahun dipandang sebagai momen “reset”. Apa yang dibawa dari tahun lama diyakini akan memengaruhi alur rezeki, hubungan, dan kesejahteraan selama setahun ke depan.

Oleh karena itu, utang baik yang bersifat materi maupun emosional kerap menjadi perhatian khusus menjelang Imlek. Berikut enam kepercayaan yang sering dikaitkan dengan urusan utang dan persiapan menyambut Tahun Baru Imlek:

1. Melunasi Utang Sebelum Tahun Baru Dimulai

Kepercayaan paling umum menyebutkan bahwa memasuki tahun baru dengan utang yang belum terselesaikan sama artinya membawa beban lama ke fase hidup yang baru. Utang dipandang sebagai simbol keterikatan dan tekanan, sehingga banyak keluarga berusaha menyelesaikan kewajiban finansial sebelum malam Imlek agar tahun baru dimulai dengan rasa lega dan optimisme.

2. Tidak Menagih atau Meminjam Uang pada Hari Imlek

Hari pertama Imlek dipercaya sebagai waktu sakral untuk menyambut keberuntungan. Menagih atau meminjam uang pada hari ini dianggap dapat memicu energi negatif, baik dalam hubungan sosial maupun kondisi keuangan. Karena itu, aktivitas finansial semacam ini biasanya dihindari demi menjaga suasana harmonis.

3. Menyelesaikan Konflik dan Utang Emosional

Utang tidak selalu soal uang. Dalam tradisi, konflik yang belum selesai juga dianggap sebagai “beban” yang sebaiknya ditinggalkan sebelum tahun baru. Berdamai, saling memaafkan, dan memperbaiki hubungan diyakini membuka ruang bagi energi positif masuk ke kehidupan pribadi dan keluarga.

4. Menahan Diri dari Transaksi Finansial Besar

Selain utang, transaksi besar seperti pinjam-meminjam uang juga sebaiknya ditunda di hari Imlek. Pengecualian biasanya diberikan untuk angpao, yang dimaknai sebagai simbol berbagi rezeki dan doa baik, bukan sebagai utang yang harus dikembalikan.

5. Membersihkan Beban Lama Sebagai Simbol Awal Baru

Tradisi membersihkan rumah menjelang Imlek sering disandingkan dengan melunasi utang. Keduanya sama-sama melambangkan upaya membuang kesialan dan membuka ruang bagi energi baru. Utang yang diselesaikan dipandang sebagai tanda kesiapan menyambut peluang dan rezeki di tahun mendatang.

6. Menghindari Pembicaraan Soal Utang di Hari Pertama Imlek

Baca Juga: Manchester United Ingin Pertahankan Bruno Fernandes, Negosiasi Digelar Jelang Piala Dunia

Topik utang dan masalah finansial sebaiknya tidak dibahas di hari pertama Imlek. Fokus utama adalah kebahagiaan, kebersamaan, serta ucapan-ucapan baik yang mencerminkan harapan akan masa depan yang lebih sejahtera.

Kepercayaan tentang melunasi utang sebelum Imlek berakar pada filosofi hidup yang menekankan keseimbangan, keharmonisan, dan awal baru. Meski tidak bersifat wajib, tradisi ini masih dijalani banyak orang sebagai bentuk penghormatan budaya sekaligus refleksi diri. 

EDITOR: Bintang Pradewo