← Beranda

7 Rekomendasi Kuliner Tradisional di Pasar Gede Solo, Wajib Dicoba!

Rizqi Fitriana Arum SariJumat, 12 April 2024 | 00.15 WIB
ILUSTRASI: Pasar Gede Solo. (Istimewa)

JawaPos.com - Pasar Gede merupakan salah satu ikon di Kota Solo. Pasar tradisional ini merupakan pasar tertua di Kota Solo yang dibangun pada tahun 1927.

Dilansir dari laman pasargedhe, Pasar Gede dirancang oleh arsitek Belanda Thomas Karsten dengan gaya perpaduan antara Belanda dan Jawa. Pasar Gede menjadi pusat perdagangan dan kuliner di Kota Solo, serta merupakan tempat wisata budaya yang menarik.

Pasar Gede berlokasi di pusat Kota Solo tepatnya dekat dengan kampung Cina yang dikenal dengan Vihara Avalokitesvara. Pasar Gede beralamat di Jl. Jenderal Urip Sumoharjo, Sudiroprajan, Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57129.

Kuliner tradisional khas Solo banyak ditemukan di dalam Pasar Gede. Berikut rekomendasi kuliner legendaris yang wajib dicoba ketika berkunjung di Pasar Gede Solo.

Baca Juga: 3 Ciri-Ciri Perempuan Narsistik yang Sering Tidak Disadari, Hati-Hati dan Apa Saja?

  1. Dawet Telasih

Penjual dawet telasih yang terkenal, salah satunya adalah Dawet Telasih Bu Dermi. Akan tetapi penjual dawet telasih lainnya yang berjualan di Pasar Gede juga banyak dan tidak kalah enaknya.

Menikmati salah satu kuliner menyegarkan ini harus rela nyempil dan masuk ke dalam pasar yang ramai. Dilansir dari Instagram @infojajansolo, dawet Telasih disajikan pada mangkuk kecil dengan isian cendol hijau, tape ketan hitam, bubur sumsum dan biji selasih, kemudian disiram memakai kuah santan yang gurih dan es batu agar memberikan sensasi dingin.

Beberapa penjual dawet telasih juga sekalian menjual minuman gempol pleret, gempol pleret terbuat dari tepung beras dan tepung tapioka, rasa kuahnya gurih dan manis.

  1. Cabuk Rambak

Dilansir dari laman onosolo.id, cabuk rambak merupakan makanan khas Solo yang terdiri dari potongan ketupat disiram dengan saus wijen. Cabuk rambak memiliki cita rasa yang lezat dan gurih karena sausnya terbuat dari wijen, kelapa parut sangrai dan aneka bumbu. Makanan ini disajikan bersama dengan karak atau kerupuk yang terbuat dari nasi. Cabuk rambak kini merupakan salah satu kuliner tradisional Solo yang mulai langka. Penjual cabuk rambak dapat ditemukan di dalam Pasar Gede.

Baca Juga: H+1 Lebaran, Ocean Dream Samudera di Ancol Dipadati Pengunjung

  1. Tahok

Tahok merupakan minuman tradisional khas Solo yang terbuat dari sari kacang kedelai yang dibuat kental, mempunyai tekstur seperti pudding yang lembut atau sekilas mirip bubur sumsum tapi lebih kokoh dengan diberikan kuah jahe.

Tahok sering disebut sebagai tawa dan kembang tahu. Makanan ini merupakan makanan tradisional Cina yang dibawa oleh pendatang dari Tionghoa yang kini menetap di sekitar Pasar Gede, Solo.

  1. Ayam Panggang Klaten Bu Kas

Ayam panggang Klaten Bu Kas mempunyai cita rasanya gurih dan manis karena dibumbui areh dari santan kelapa. Dilansir dari Instagram @bunda_didi, ayam panggang Bu Kas dijual perbagian kemudian ditusuk dengan tusuk sate. Hampir semua bagian dari ayam dijual disini, seperti usus, ati ampela, kulit, telur muda, kepala, dada ayam dan paha ayam. Pembeli biasanya membeli untuk dibawa pulang atau takeaway. Ayam panggang Klaten Bu Kas bisa ditemukan di sisi timur Pasar Gede, tepatnya di depan toko Kopi Podjok, atau belakang halte BST Timur.

  1. Lenjongan Bu Sum

Lenjongan merupakan jajanan tradisional khas Jawa, salah satu penjual lenjongan yang ramai dan menjadi favorit saat ke Pasar Gede adalah Lenjongan Bu Sum. Lenjongan ini berisi cenil, klepon, ketan hitam, ketan putih, sawut, grontol hingga tiwul dengan taburan kelapa parut dengan siraman gula merah cair.

Lenjongan Bu Sum tidak hanya menjual lenjongan, tapi juga menjual menu brambang asem. Brambang asem merupakan makanan dari daun ubi yang direbus dimakan dengan sambal brambang asem yang terbuat dari gula jawa, cabe dan asem.Brambang asem umumnya disajikan dengan tempe gembus yang sudah dibacem.

  1. Ayam Goreng Pak Ali

Ayam Goreng Pak Ali termasuk legendaris di Pasar Gede, disini menjual ayam pejantan yang digoreng langsung tanpa dibumbui terlebih dahulu, akan tetapi minyaknya yang dibumbui kemudian meresap ke dalam ayam. Rasa ayam gorengnya yang dihasilkan gurih. Dilansir dari Instagram @bunda_didi, pembeli bisa request ayam mau digoreng seberapa matang. Ayam Goreng Pak Ali biasanya digoreng utuh kemudian dibungkus dengan menggunakan kemasan tradisional seperti besek dialasi daun pisang.

Baca Juga: 27 ribu Pengunjung Padati Taman Margasatwa Ragunan dalam Masa Liburan Lebaran

  1. Aneka Sambel Pecel Sedep Ibu Kareni

Aneka Sambal Pecel Ibu Kareni menjual aneka sambal seperti sambel pecel kacang, sambel cabuk rambak dari wijen putih dan sambel pecel ndeso wijen hitam. Dilansir lari laman diahdidi, sambel pecel yang dijual Ibu Kareni tidak dibungkus kecil-kecil, tapi sambel pecel dipajang tinggi-tinggi seperti gunung. Pembeli bebas mau membeli berapa, nanti akan ditimbang oleh penjual. Sambel pecel yang dijual juga mempunya level pedas, sedang dan pedas sekali. Sambal pecel ini bisa bertahan lama jika ingin dibuat oleh-oleh atau untuk stok ketika ingin membuat pecel, bisa disimpan di dalam kulkas.

Selain itu, Ibu Kareni juga menjual aneka lauk kering seperti keripik kentang pedas manis, kremesan, serundeng dan ada juga wedang uwuh kering yang bisa diseduh dengan air panas ketika ingin mengonsumsi.

EDITOR: Bintang Pradewo