JawaPos.com – Tahun Baru Imlek adalah hari libur paling penting dalam budaya Tiongkok. Festival Musim Semi (Imlek) ini berlangsung selama 15 hari. Di sela-sela aktivitas dan perayaan, masyarakat biasanya hanya bersantai di rumah sambil menonton TV.
Dengan kegiatan santai seperti itu, makanan ringan atau camilan adalah teman yang pas untuk menimati suasana. Tentunya setiap orang mempunyai jajanan favoritnya masing-masing. Dilansir dari Chinese New Year, berikut beberapa camilan yang populer dan umum terlihat dalam perayaan Imlek:
- Biji-bijian Panggang (guā zǐ)
Makan biji-bijian yang dipanggang adalah hobi favorit sebagian besar orang Tionghoa. Mereka bahkan memiliki istilah khusus untuk tindakan membuka benih dengan gigi dan memakannya. Di mana pun mereka berada, mereka dapat mengambil segenggam benih dan mulai membelahnya.
Biji-bijian pilihan untuk Imlek berbeda-beda menurut wilayah dan selera pribadi. Yang paling populer adalah biji bunga matahari. Tidak hanya bisa dijadikan camilan enak, tapi juga bisa ditambahkan ke kue dan makanan penutup.
Biji Diaogua (melon gantung) dikenal sebagai ‘raja benih’ karena daging dan rasanya. Pilihan lainnya adalah biji labu kuning, semangka, labu siam, dan mentimun.
Bumbu dapat ditambahkan setelah bijian digoreng atau dipanggang, tetapi rasa alaminya sudah cukup bagi sebagian besar orang Tionghoa.
Kecintaan terhadap biji-bijian yang dipanggang dimulai pada Dinasti Ming dan paling populer di Utara. Ada banyak waktu luang bagi para petani di musim dingin, mereka berusaha menghangatkan diri di rumah sambil menghabiskan waktu sambil mengobrol.
Hal yang sama juga berlaku di zaman modern. Sepiring atau sekantong biji-bijian dikeluarkan jika ada tamu, ada di meja di antara waktu makan, bahkan ada di dekat TV.
Orang bilang biji panggang adalah camilan yang enak karena kita bisa memulai dan berhenti makan sesuai keinginan. Tapi, itu membuat ketagihan dan kita mungkin tidak akan berhenti sampai tiba waktunya makan utama!
- Permen Malt (mài yá táng)
Meskipun tidak umum dalam makanan sehari-hari saat ini, malt adalah gula tradisional Tiongkok. Sebelum Tahun Baru Imlek (tahun besar) resmi dimulai, ada ‘tahun kecil’. Itu terjadi pada 23 Desember Imlek dan merupakan hari Dewa Kompor.
Orang harus membuat permen malt pada hari itu. Permen ini juga dikenal sebagai permen Guandong.
Biji-bijian, kacang tanah, dan jujube dicampur ke dalam permen malt berbentuk kotak. Ini akan mempermanis mulut Dewa Kompor, sehingga dia akan memuji keluarga ketika dia melapor kepada Kaisar Langit. Dia kembali pada Malam Tahun Baru untuk memberikan berkah atau memberikan hukuman.
Beberapa Inspirasi permen malt diantaranya:
Permen malt melon (táng guā)
Di wilayah lain di Tiongkok, seperti Beijing, malt berbentuk melon adalah persembahan kepada Dewa Kompor, tapi juga camilan selama Festival Musim Semi.
Setelah banyak ditumbuk, dipelintir, dan diregangkan, potongan malt yang berbentuk seperti tabung yang akan meledak seperti kaca. Tabung tersebut dengan cepat dipotong menjadi bola-bola berongga dan sisa malt di ujungnya membentuk batang.
Malt melon ini terasa manis dengan sedikit rasa asam. Jika disimpan di luar saat udara musim dingin, malt tetap keras namun kenyal. Gelembung udara kecil yang terperangkap di malt menambah pengalaman santap camilan yang unik.
Dulunya merupakan camilan yang sangat umum. Namun, karena proses pembuatannya yang lama dan melelahkan, malt melon sudah jarang terlihat saat ini.
Manisan haw (bīng táng hú lú)
Biasanya merupakan camilan musim dingin, manisan haw kini dapat dinikmati di musim apa pun. Bola-bola Hawthorn ditaburi dan dilapisi dengan sirup malt. Bola-bolanya bisa diganti atau ditambah pasta kacang merah, kenari, anggur, buah begonia, bahkan ubi Tiongkok.
Bertemu dengan udara musim dingin yang segar, malt mengeras dengan cepat. Camilan yang dihasilkan terasa dingin, manis, dan asam.
Manisan haw seperti pil ajaib. Menurut cerita rakyat, selir kesayangan kaisar Dinasti Song jatuh sakit. Namun, tidak ada satu pun dokter istana tahu apa yang harus dilakukan. Kaisar mengeluarkan pemberitahuan publik agar semua dokter di negara itu datang dan mencoba.
Yang satu meresepkan es permen dan buah merah. Semua orang ragu, tapi selir menyukai rasa ini. Mereka mencobanya dan setelah makan 10 potong sebelum makan selama setengah bulan, dia benar-benar pulih.
Manisan haw biasanya dijual di pedagang kaki lima, atau di kedai teh dan restoran kecil.
Di masa lalu, ada yang membawa kotak kayu besar atau keranjang bambu. Satu sisi akan memiliki banyak kebab yang tersangkut di dalamnya. Yang lainnya memiliki kompor, panci, talenan, pisau, dan bahan-bahan. Hal ini memungkinkan dia mengadakan pertunjukan dan membuat manisan haw di hadapan penonton yang penasaran.
Permen kacang (huā shēng táng) adalah camilan sederhana namun kuno. Bahan dasarnya hanya kacang tanah dan sirup. Kacang dan wijen Tahun Baru Imlek dicampur menjadi satu dan dipotong kotak, rasanya manis, dan renyah.
Terkadang campuran kacang dan gula ini tidak mengeras dan mempertahankan tekstur gula-gula yang kuat.
Dari semua varietas lokal, permen kacang Zherong adalah yang paling terkenal di Tiongkok. Permen kacang juga terbuat dari malt, ini merupakan persembahan lain untuk mempermanis mulut Dewa Kompor. Ada proses pembuatan 9 langkah dan memiliki cita rasa yang unik.
- Brondong Nasi (bào chǎo mǐ)
Nasi adalah bagian tak terbantahkan dari masakan Tiongkok. Bisa dikukus, dimasak, direbus, difermentasi, digoreng, ditumis, dan masih banyak lagi.
Brondong nasi dibuat dengan cara yang sama seperti popcorn, tetapi jauh lebih sehat. Daripada dimasak dengan direndam dalam mentega, garam, atau karamel, nasi pop lebih enak disantap dengan tetap mempertahankan rasa alaminya.
Brondong nasi adalah camilan sederhana dan mudah dibuat. Anak-anak juga dapat bermain-main dengan nasi, sehingga cocok untuk suasana Festival Musim Semi.
Namun, di Tiongkok banyak yang meninggalkan jajanan rakyat ini demi suguhan yang lebih modis. Kini, selain rasanya yang segar dan harum, brondong nasi juga membawa nostalgia. Permen nasi goreng populer di provinsi Guangxi di Tiongkok Selatan.
Pada Tahun Kecil, orang-orang akan membuat permen dengan nasi dan malt (mirip bipang jika di Indonesia). Camilan ini melambangkan tahun kekayaan dan kemakmuran, dan hari-hari yang indah.
Permen Malt Nasi biasanya dibuat cukup besar untuk membuat kita kenyang di antara waktu makan. Sensasi tekstur renyah dan kenyal pada saat bersamaan, disukai oleh orang dewasa maupun anak-anak.
Proses pembuatannya secara tradisional rumit dan sulit. Ini termasuk merendam, mengukus, meratakan dan meletupkan beras. Sekarang ada mesin yang melakukan semua langkah tersebut. Kita juga bisa mengganti nasi ketan biasa dengan nasi berbiji pendek.
Selama Tahun Baru Imlek modern, permen malt nasi dapat dibeli di toko lokal mana pun. Banyak rumah tangga pedesaan terus mengikuti langkah-langkah kuno dan mewariskan cita rasa tradisional dari camilan Tiongkok tersebut.
- Permen Jahe (táng jiāng piàn)
Berasal dari Changsha, permen jahe sudah ada sejak Dinasti Ming. Permen ini dibuat dengan bawang putih segar, gula putih, garam, dan bumbu alami.
Setelah bahan-bahan tercampur, permen dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering. Dulu, hampir setiap petani jahe mengeringkan atau mengasinkan potongan jahe.
Bagi mereka yang menderita pilek atau sakit perut, jahe juga bisa menjadi resep cepat. Dengan cita rasa yang unik dan mampu menghangatkan tubuh kita, permen jahe menjadi camilan terbaik di musim dingin.
- Gorengan Kepang (má huā)
Di masa lalu, wilayah Daying konon dipenuhi kalajengking beracun. Untuk mengutuk mereka, setiap rumah tangga merentangkan adonan menjadi potongan-potongan panjang. Mereka memelintirnya menjadi bentuk ekor kalajengking, menggorengnya, dan memakannya.
Seiring berjalannya waktu, bentuk ‘ekor kalajengking’ ini berubah menjadi apa yang sekarang kita kenal sebagai bentuk gorengan kepang. Kutukan yang dibawa kalajengking itu dipercaya diberikan pada tanggal 2 Februari Imlek.
Secara tradisional, mereka dimakan pada titik balik matahari musim panas. Di zaman modern, camilan ini bisa dinikmati kapan saja kita menginginkannya. Kaya protein dan rendah lemak, cocok dijadikan camilan di Tahun Baru Imlek.
Bahan dasarnya hanyalah potongan adonan yang dipilin lalu digoreng. Tapi, tentu saja lebih banyak lagi yang bisa ditambahkan ke dalamnya. Gorengan Kepang bisa gurih dan manis. Biasanya digoreng hingga berwarna keemasan.
- Kue Lidah Sapi (niú shé bǐng)
Kue khas ini bentuknya seperti lidah sapi atau lembu. Adonan digulung menjadi potongan datar panjang dan diolesi saus dan biji wijen sebelum dipanggang.
Kue lidah sapi adalah camilan tradisional Beijing. Sejak menyebar ke seluruh Tiongkok, kue khas Beijing ini menjadi populer di Taiwan, Shanxi, dan banyak lagi.
Sebagai camilan, kue lidah sapi bisa dimakan sendiri tanpa makananan atau hidangan lain. Lapisan manisnya memberikan rasa yang cukup.
Terkadang kue lidah sapi bisa juga disantap dengan adonan goreng. Bahkan, bisa diisi dengan daging tumis dan bawang bombay.
Kue-kue dari Yilan dan Lukang, keduanya kota di Taiwan, memiliki perbedaan yang sangat besar:
Kue lidah sapi Yilan (yí lán niú shé bǐng)
Ciri-ciri kue kering ini adalah:
Sempit, panjang, tipis dan renyah.
Potongan panjang dibuat di tengah-tengah kue.
Tanpa isian, mereka lebih seperti kerupuk.
Adonannya dicampur dengan madu dan gula sehingga memberikan rasa yang sangat manis (Beberapa pembuat kue juga menambahkan susu dan krim)
Kue Lidah Lembu Lukang (lù gǎng niú shé bǐng)
Meskipun adonannya mirip dengan kue Yilan, adonan ini juga dilengkapi isian malt.
Ciri-ciri kue kering ini adalah:
Lebar, pendek, tebal dan empuk.
Setelah dibungkus dengan malt, bola-bola tersebut diratakan menjadi telur-telur kecil.
Kue bisa digoreng atau dipanggang.
- Kue Kesemek (shì bǐng)
Sambil menunggu tengah malam di malam tahun baru, banyak orang Tionghoa yang akan makan camilan kue kesemek.
Buah-buahan selalu menjadi suguhan yang membawa keberuntungan dalam budaya Tionghoa. Kesemek (shì zǐ) mewakili frasa ‘semuanya berjalan sesuai keinginanmu’ (shì shì rú yì) karena permainan kata-kata untuk kata ‘shì’.
Ada pula kisah seorang raja bernama Zubing (zǔ bǐng) yang sangat dicintai rakyatnya. Setelah kematiannya, masyarakat memilih tanggal 5 Desember lunar sebagai hari peringatan. Kue kesemek digunakan sebagai persembahan karena namanya terdengar mirip dengan (sī bǐng)—untuk memperingati Zubing.
Untuk dijadikan kue, buah kesemek harus dikuliti, dikeringkan, diratakan, dan dibekukan.
Para petani percaya bahwa kue yang dibuat saat embun beku asli muncul memiliki rasa yang paling enak.
Warnanya mungkin bukan yang paling menarik dari camilan lainnya. Tapi, sekali kue kesemek dimakan, kita mungkin tidak akan bisa berhenti memakannya.
Berhati-hatilah! Makan terlalu banyak kesemek bisa menyebabkan sakit perut.