← Beranda

Pajak Malam Pertama

Ilham SafutraMinggu, 13 Juni 2021 | 20.34 WIB
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Malam pertamamu buatlah tak ternilai agar bebas dari pajak pertambahan nilai.

---

TUJUH purnama sebelum Pendekar Bra merayu Sastrajendra agar kembali ke dunia persilatan. Tujuh rembulan bundar sebelum pendekar muda melalui Tingting Bocah anak angkat Sastra itu membujuk Sastra agar kembali bersilat. Saat ia kembali bertakhta sebagai orang nomor wahid dunia rawan tersebut, saat itu Bra selaku penantangnya akan bertambah martabatnya.

Martabatnya, lho, ya, bukan nilainya. Kalau yang bertambah nilainya, gawat! Nanti bisa dikenai pajak pertambahan nilai. Sekarang jagabaya yang merangkap sebagai pemulung pajak sedang mengintai di mana-mana. Para pengantin baru yang cintanya bernilai pun tak luput dari cengkeraman pajak pertambahan nilai. Itu sebabnya para bucin kini berlomba-lomba agar cintanya tak ternilai. Petani dan pedagang terinspirasi itu. Mereka berlomba-lomba agar sembakonya tak ternilai laksana cinta.

***

Langit tak ternilai saat itu. Rintik hujan sedikit ada. Terasa, tapi tak ternilai.

Di rerumputan Bra dan Tingting Bocah sedang berbincang. Obrolan mereka pun tak ternilai. Sosok berjubah berkelebat di rumpun pohon pisang. Tampaknya sudah berumur. Di setiap pisang yang ia berhenti, pinggulnya maju-mundur merapat dan menjauhi pohon hingga tongkol-tongkol pisang berguguran. Rupanya ia menampilkan jurus Rohaniwan Mewah Mencintai Bocah-Bocah. Daun-daun pisang bergetar-getar mengaduh. Melenguh dan mengaduh.

Bra lekas-lekas menutupi telinga Tingting Bocah. Tingting Jahe yang sudah menjadi semacam bulek Tingting Bocah menyaksikannya dari kejauhan. ”Jaga-jaga agar gendang telingamu tak pecah,” isyarat Bra kepada Bocah. Jahe, walau berjarak sekian tumbak, seperti turut mendengarnya. Ia tutup telinganya rapat-rapat dan menunduk.

Jurus ini patut diduga berasal dari perguruan Sang Pembentur Agung dari Gunung Algoritma 4.0. Biasanya akan disambung dengan Jurus Pelemahan KPK.

Benar.

Mencuat dan muncul sudah sosok itu dari rumpun pohon pisang. Raut mukanya sudah sepuh. Ia berpijak pada punggung katak terbang yang sedang mendekam. Lintasan-lintasan jurusnya membentuk huruf Jawa. Kaaaa ….Paaaa….Kaaaa….. Huruf ”Pa”-nya diberi simbol taling dengan penandaan dari lintasan kilat jubahnya. Terbaca ”K P K”. Jurus mematikan ini lama-lama mengarah ke tanah yang bahasa Jawa-nya ”lemah”. Itulah kenapa jurus maut dari Gunung Algoritma 4.0 ini terkenal dijuluki Jurus Pelemahan KPK.

Kuda-kuda awalnya menyerupai bangau berdiri satu kaki. Lelaki sepuh itu membangau di tengah gerimis. Lazimnya Sang Pembentur Agung baru menggunakan jurus ini setelah orang-orang yang dibenturkan sadar bahwa mereka sedang dibenturkan. Lazimnya mereka tak sadar bahwa sedang diantuk-antukkan, disenggol-senggolkan, diseruduk-serudukkan. Wong mereka yang merasa cuma menonton perbenturan itu sambil cekakakan saja sebenarnya juga sedang dibentur-benturkan tanpa menyadarinya.

Bila masyarakat sudah mulai siuman, mulai sadar bahwa sedang diadu domba, mulailah Sang Pembentur Agung menerapkan Jurus Pelemahan KPK.

***

Gerimis masih mengundang. Tingting Jahe masih menyaksikan pertarungan dari jauh. Ia bersaksi Pendekar Bra tak kalah. Hanya disaksikannya bahwa kekasihnya itu menaruh hormat pada lelaki sepuh yang langsung menerapkan jurus pemungkasnya. Artinya, ia tak menganggap remeh Bra.

”Mari kita sudahi pertarungan ini,” kata lelaki sepuh itu setelah menjura. ”Saya datang dengan niat baik, Pendekar Bra. Kami, saya dan rombongan (tiba-tiba dari balik pohon pisang muncul puluhan orang mirip lelaki sepuh ini), meminta Kisanak untuk menjadi juru damai di kadatuan kami.”

Kadatuannya sedang dilanda petaka. Para penganut keyakinan tertentu tak boleh pergi ziarah ke pusat dunia kepercayaan tersebut. Alat barter untuk keberangkatan telah mereka setor ke pengelola, namun pengelola pakai untuk investasi di bidang lain. Begitulah dugaan mereka. Mereka hina pihak-pihak yang patut dihina dalam perkara ini. Sebagian yang lain menyanggahnya. ”Tak seujung jarum pun alat-alat barter itu kami tukar dengan investasi pembangunan jalan, jembatan, waduk, dan lain-lain. Percayalah!” tegasnya. Para pengikut mazhab ini sebaliknya melalui pendengung menghina para penghinanya.

”Mengapa Kisanak tak minta bantuan Hawala Hoha saja?” Pendekar Bra bertanya. Hawala Hoha seorang mahaguru kehormatan. Keahliannya bidang penengahan hina-menghina.

***

Tingting Bocah belum berpacaran dengan Pendekar Bra saat itu. ”Bulek” Tingting Bocah, Tingting Jahe sang kekasih Bra, main percaya saja ketika Bocah dan Bra pergi bersama Kisanak Sepuh. Malah Jahe yang menganjurkan agar Bocah pergi menemani Bra. Ia sendiri sedang ingin melanjutkan perkerjaan di Gua Hantu, merapi-rapikan ini-itu setelah gua runtuh beberapa pekan sebelumnya.

”Mahaguru Halawa Hoha masih ternilai,” Kisanak Sepuh kembali membahas soal mahaguru kehormatan itu saat perjalanan sudah melampaui bukit ketujuh.

Dulu istilah profesor atau guru besar belum ada. Adanya mahaguru. Nah, Hawala Hoha ini tidak pernah mengajar, juga tak punya perguruan yang menjadi basisnya mengajar tetap. Bagaimana beliau bisa mendapat gelar ”Mahaguru Kehormatan”?

”Itu sebabnya saya kurang percaya beliau mampu menangani perpecahan di kadatuan kami walau kami tetap menghormatinya.”

Bra tak mau mendengar itu. Matanya lebih tenggelam dalam tatapannya ke Tingting Bocah yang berlatar dedanauan. (*)




SUJIWO TEJO, Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers
EDITOR: Ilham Safutra