← Beranda

Menikmati Berolahraga di Surabaya, Berharap Lapangan Dibuka Lebih Lama dan Terang

Azami RamadhanMinggu, 21 Mei 2023 | 16.50 WIB
KALA PAGI: Warga berlari di lintasan lari lapangan Bogowonto, Sabtu (20/5). Lapangan itu menjadi salah satu alternatif warga untuk melakukan aktivitas olahraga.

 

JawaPos.com – Berolahraga di Surabaya kian hari kian nyaman. Jalan sehat, bersepeda, atau berlari bisa jadi pilihan warga kota. Selain kondisi jalur pedestrian yang lebar, sport enthusiast juga dimanjakan keberadaan lapangan atletik yang mumpuni.

Meski begitu, beberapa catatan menjadi masukan bagi pemkot. Mulai jam operasional lapangan yang tak menentu hingga soal keselamatan pencinta olahraga di jalan.

Salah satu lapangan yang jadi pilihan warga kota adalah Lapangan THOR. Lapangan tersebut kini kian cantik. Apalagi pasca dipoles untuk persiapan event Piala Dunia U-20 kemarin.

Sayangnya, lapangan tersebut kadang bikin pengunjung setia kecele. Misalnya, Sabtu (20/5) pagi THOR ditutup karena ada latihan Persebaya dan perawatan rumput.

Meski demikian, kondisi Lapangan THOR mendapat apresiasi dari beberapa komunitas lari. Jogging track lapangan yang ciamik membuat pelari sangat nyaman. Termasuk fasilitas pendukung lainnya. ’’Fasilitasnya oke,’’ kata Eva Nila, kapten komunitas lari Isomlayu Surabaya.

Menurut Eva, secara keseluruhan fasilitas lari di Surabaya sangat bagus. Beberapa lapangan atletik juga tersedia. Misalnya, lapangan KONI Jatim, Lapangan THOR, dan lapangan Bogowonto. Hanya, runners kerap mengeluhkan jadwal lapangan yang buka tutup. Informasi tersebut sering membuat pelari kecele.

Misalnya, operasional Lapangan THOR. Durasi buka yang kini lebih pendek membuat pelari beralih ke tempat lain. Dulu, kata Eva, Lapangan THOR beroperasi hingga pukul 21.00. Sekarang pukul 20.00 sudah tutup. Bagi pelari kantoran, hal itu cukup mengganggu. Sebab, rata-rata, sport enthusiast baru bisa berolahraga setelah pulang kerja.

Selain itu, kondisi penerangan di THOR kala matahari lenyap juga tidak ada. Akibatnya, lapangan gelap.

Captain Running Is Our Therapy (RIOT) Surabaya Budi Setiawan mengungkapkan hal yang sama. Penerangan dan jam operasional menjadi sedikit kendala. Dulu RIOT Surabaya setiap Minggu menggelar training di Lapangan THOR.

’’Kebanyakan kami kan karyawan. Jadi, larinya setelah kerja,’’ katanya Sabtu (20/5) siang.

Budi mengapresiasi fasilitas lari yang sudah diberikan pemkot. Termasuk kondisi jalur pedestrian di Surabaya yang sudah lebar. Hanya, ada beberapa catatan yang perlu diperbaiki. Yakni, lantai jalur pedestrian yang kadang licin.

Budi juga mengungkapkan, bulan puasa lalu dirinya dan puluhan anggotanya lari malam. Karena jalur pedestrian di Jalan Tunjungan ramai pengunjung, mereka memilih lari di jalan. Tidak diduga, ada aspal yang tidak rata. Akibatnya, salah seorang anggotanya terjatuh, lalu cedera dan harus dibawa ke rumah sakit.

Komunitas lari juga memberi masukan untuk kondisi jalur pedestrian. Di beberapa kawasan penerangannya sangat minim. Pascapandemi, animo masyarakat untuk lari memang sangat tinggi. Mereka memilih jam setelah bekerja. Alhasil, lapangan Bogowonto menjadi jujukan mengingat di sana jam operasionalnya hingga pukul 21.00. Penerangannya juga sangat baik. 

Ingin Pemerataan Pembangunan Skate Park

KOMUNITAS skateboard di Surabaya mengapresiasi dukungan Pemkot Surabaya terhadap olahraga tersebut. Sudah ada enam skate park yang dibangun pemkot. Hanya, mereka ingin penyediaan skate park tidak hanya berfokus di pusat kota.

’’Harapan kami pemerataan pembangunan skate park. Selama ini skate park masih dibangun di pusat kota. Di Surabaya Barat, misalnya, masih belum ada (skate park yang dibangun pemkot),’’ ujar Eddo Ferdianto dari komunitas Holy Skateboard.

ARENA: Eddo Ferdianto mempraktikkan gerakan frontside indie di Skate Park SWK Semolowaru, Sabtu (20/5).
ARENA: Eddo Ferdianto mempraktikkan gerakan frontside indie di Skate Park SWK Semolowaru, Sabtu (20/5).

Kini sekitar 700 pemain skateboard tersebar di seluruh wilayah Surabaya. Mulai anak-anak hingga dewasa. Belum tersedianya skate park di beberapa wilayah menjadi tantangan bagi para pemain. Mereka harus datang ke pusat kota untuk berlatih.

’’Yang dari barat harus ke pusat kota dulu. Seharusnya, setiap hari latihan. Jadi seminggu sekali,’’ katanya.

Keinginan para pemain skateboard tidak muluk-muluk. Mereka hanya ingin skate park kecil asal tersebar di tiap daerah. Menurut Eddo, banyak pemain skateboard berbakat dari Surabaya. Mereka yang sudah atlet profesional kerap menyumbang medali emas di kejuaraan tingkat provinsi dan nasional untuk Kota Surabaya.

’’Pengalaman saya di Inggris dan Singapura, skate park di sana merata ada di setiap daerah,’’ ungkap Eddo.

Meski begitu, dia berterima kasih kepada Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang di masa kepemimpinannya telah membangun lima skate park. Antara lain, di Semolowaru, Ngagel, JMP, dan alun-alun. Kini ada enam skate park setelah satu lagi Skate & BMX Park lebih dulu dibangun.

’’Awalnya sempat tidak sesuai standar karena kontraktor tidak melibatkan pemain skateboard. Setelah kami komplain, sekarang diperbaiki dan sesuai standar,’’ ujarnya.

Hendri Setiawan, atlet BMX, juga punya harapan yang sama. Dia ingin fasilitas skate park untuk BMX semakin ditambah agar para rider tidak balap liar di jalan. Pria yang akrab disapa Bondik itu juga tidak ingin rider bermain di sembarang tempat sehingga merusak properti kota. Bondik yang sudah langganan ikut kejuaraan internasional meyakini banyak rider BMX berbakat di Surabaya yang bisa membanggakan bangsa dan negara.

’’Kalau punya ambisi besar, fasilitas memadai, bisa terwujud. Mereka bisa ikut BMX race. Ikut PON atau event-event besar,’’ tuturnya. (gas/omy/c6/tia)

 

EDITOR: Dhimas Ginanjar