JawaPos.com–Ramai kasus cuci darah karena gagal ginjal kronis di DKI Jakarta, bagaimana dengan Surabaya? Dinas Kesehatan Surabaya ungkap fakta baru terkait kasus gagal ginjal di Kota Pahlawan.
Kepala Dinas Kesehatan Surabaya Nanik Sukristina mengatakan, berdasar laporan Faskes sampai dengan Juli 2024 menunjukkan bahwa kasus gagal ginjal kronis (GGK) pada kelompok usia remaja (17 tahun) sebanyak 1 kasus dan telah menjalani perawatan hemodialisa.
”Hingga Juli 2024, ada satu kasus dan telah menjalani perawatan hemodialisa di faskes Surabaya karena gagal ginjal,” ujar Nanik Sukristina dalam keterangan resmi yang diterima JawaPos.com di Surabaya.
Nanik mengungkapkan, beberapa macam penyebab anak gagal ginjal kronis. Antara lain, karena penyakit kronis seperti diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit autoimun/penyakit lupus, memiliki riwayat penyakit ginjal dalam keluarga atau kelainan ginjal bawaan sejak lahir, adanya infeksi di ginjal, sindrom nefrotik adanya protein dalam urine, pernah mengalami kekurangan cairan dehidrasi berat, anak mengalami obesitas, gaya hidup tak sehat sering konsumsi minuman manis hingga makanan serta minuman kemasan.
”Kami berupaya meningkatkan KIE kepada orang tua dan anak terkait kewaspadaan di Surabaya, dan pencegahan penyakit gagal ginjal pada anak. Lalu, juga meningkatkan kewaspadaan penyakit gagal ginjal melalui pengamatan dan deteksi dini pada kegiatan Bindu PTM pada masyarakat, sekolah, Poskestren, dan pada kegiatan Bindu Jirona (Jiwa, Rokok dan NAPZA),” papar Nanik.
Kasus gagal ginjal kronis seluruh kelompok usia sebagian besar terdapat di wilayah Surabaya utara. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi ikut turun tangan dalam pemantauan kasus gagal ginjal kronis.
”Semua harus terlibat dalam pengawasan. Termasuk bagaimana ini anak mengonsumsi makanan serta minuman,” ucap Eri.