← Beranda

Kesenian Ludruk Butuh Perhatian Pemerintah

Latu Ratri MubyarsahSabtu, 17 September 2022 | 14.11 WIB
TETAP EKSIS: Ludruk Irama Budaya memainkan lakon Babad Alas Suroboyo saat pertunjukan pada Sabtu malam (25/5) di Taman Hiburan Rakyat (THR). (Robertus Risky/Jawa Pos)
JawaPos.com–Almarhum Cak Sapari merupakan salah satu legenda yang memiliki peran penting dalam mempertahankan kesenian ludruk.

Yusuf, pegiat ludruk yang merupakan alumnus Universitas Negeri Surabaya mengakui, Cak Sapari sebagai sosok seniman yang inspiratif. Cak Sapari dan Cak Kartolo adalah maestro pasangan seniman ludruk yang sangat menginspirasi.

”Apalagi saat rekaman di RRI, selalu membawakan lakon klasik yang bahkan sering orang lupakan atau tidak lagi dikuasai. Beliau selalu membawakannya dengan luar biasa,” ucap Yusuf.

Berpulangnya Cak Sapari tentu meninggalkan kesedihan mendalam, khususnya bagi para pegiat kesenian ludruk. Sosok Cak Sapari tak dapat tergantikan.

Meski begitu, Yusuf menyatakan, masih banyak anak muda yang memiliki kemampuan dan ketertarikan pada ludruk. Sehingga, dia berharap anak-anak dapat melestarikan kesenian itu.

”Kalau pengganti yang persis mungkin tidak ada. Tetapi, kalau generasi muda yang mau melestarikan dan menjadikan beliau sebagai inspirator, banyak. Ya di bidang parikan jula juli, dagelan,” terang Yusuf.

Cak Sapari, lanjut Yusuf, juga merupakan sosok yang tak pelit ilmu. Dia dengan senang hati mengajarkan anak-anak muda yang tertarik dengan kesenian ludruk.

”Yang pasti Cak Sapari dan Cak Kartolo tidak pelit ilmu ketika banyak anak muda seperti bertanya terkait pakem-pakem atau aturan dalam bermain ludruk. (Cak Sapari) kalau memaparkan jenis-jenis parikan itu bisa begitu mudah dipahami,” papar Yusuf.

Meski telah kehilangan salah satu legenda, Yusuf tetap optimistis kesenian ludruk akan tetap eksis pada masa depan. ”Tentunya akan tetap eksis. Sekarang contohnya, ada film lokadrama yang tayang di TV nasional, banyak menggunakan pemeran pemain ludruk. Dan masih banyak grup ludruk yang beranggotakan anak muda seperti Marsudi Laras,” ujar Yusuf.

Mengenai upaya pelestarian ludruk, Yusuf mengatakan, pemerintah perlu turut ambil bagian. Pentas kesenian sebagai wadah berekspresi tetap harus dipertahankan. Perlu juga diadakan pembinaan bagi anak muda sebelum satu per satu maestro hilang karena usia.

”Pembinaan generasi muda haruslah tetap dilestarikan pemkot melalui kepanjangan tangannya, seperti dinas pariwisata kota yang dulu sempat punya program pentas di taman-taman atau di balai budaya, tetap diadakan sebagai wadah berekspresi. Pembinaan generasi muda seperti di taman budaya belajar dengan maestro perlu tetap dilaksanakan. Generasi muda senang dan mencintai tradisi, tapi juga perlu diberi kesempatan,” tutur Yusuf.
EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah