← Beranda

SDN Ini Jadi Saksi Ayahanda Bung Karno Mengajar di Surabaya

M SholahuddinSenin, 13 Juni 2022 | 00.24 WIB
Photo
JawaPos.com-Sekolah Dasar Negeri (SDN) Alun-Alun Contong, yang terletak di belakang kantor Gubernur Jawa Timur, juga menjadi satu saksi sejarah penting kehidupan Soekemi Sosrodihardjo. Di sekolah itulah, ayahanda Presiden pertama RI Ir Soekarno itu pernah mengajar. Dia menjad guru sekolah dasar pribumi pada 1901.

Awalnya, Soekemi menjadi guru SD pribumi di Singaraja, Bali. Namun, ayah Bung Karno itu menerima surat pindah tugas ke Surabaya dari pemerintah kolonial Belanda. Dia pun engajar di SDN Alun-Alun Contong, yang kini beralamat di Jalan Sulung Sekolahan Nomor 1.

Soekemi tinggal bersama istrinya, Ida Ayu Nyoman Rai,  di rumah kecil Pandean Gang IV Nonir 40. Jaraknya hanya sekitar 2 kilometer dari SDN Alun-Alun Contong. Nah, pada 6 Juni 1901, di rumah itu, Ida Ayu Nyoman Rai melahirkan bayi laki-laki ketika fajar matahari merekah. Karena itu, Bung Karno juga dapat julukan ’’Putra Sang Fajar”.

Semula, jabang bayi itu diberi nama Koesno. Dalam perjalanannya, berganti nama menjadi Soekarno yang kelak menjadi proklamator Kemerdekaan Indonesia.

Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono menyempatkan berkunjung ke SDN Alun-Alun Contong tersebut. Dia langsung sambut Plt Kepala Sekolah Eddy Santoso beserta para guru. “Selamat datang di sekolah kami,” sapa Eddy Santoso menyambut kedatangan Adi.

Dalam kunjungan itu, Adi ditemani Wakil Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya Budi Leksono. Lantas, Eddy serta para guru pun menceritakan ihwal sekolah tersebut. ’’Dalam sejarahnya ayahanda Bung Karno memang sempat mengajar di sekolah ini pada tahun 1901. Lalu, berpindag ke daerah lain,” ungkapnya.

Dian Nur’ani, salah seorang SDN Alun-Alun Contong, menyebut, pada zaman pemerintahan Belanda sekolahnya bernama Inslandzhe School Soeloeng. Yakni, sekolah khusus pribumi di Sulung. Sekolah itu diresmikan pada 20 Desember 1900 dan dibuka oleh asisten Residern Kontroler. “Itu menurut catatan arsip Belanda,” paparnya.

Kemudian, sekolah berubah nama menjadi Hollandsch Islandsche School (HIS) Nomor 1 Pollackstraat (Soeloeng) pada 1914. Dian menjelaskan, dalam buku Roeslan Abdulgani yang dilahirkan di Peneleh, juga menyebutkan Soekemi Sosrodihardjo mengajar di sekolah itu sebelum dan setelah Soekarno lahir. ‘’Jadi, dari buku itu diceritakan ayahanda Bung Karno pernah mengajar di sekolah kami,” terang Dian bersama guru lain Dwi Asmara.

Photo
Photo
Adi Sutawrijono didampingi Eddy Santoso melihat-lihat foto-foto tentang Bung Karno dan kenangan tempo dulu lainnya.

Roeslan Abdulgani atau akrab dipanggil Cak Roes merupalan salah seorang politisi dan pejuang Surabaya. Almarhum tercatat menjabat menteri luar negeri pada 1956-1957. Selain itu, Cak Roes juga menduduki posisi sebagau menteri penerangan pada 1963-1964. Keduanya, di masa Presiden Soekarno.

Wali Kota Surabaya 2002-2010 Bambang D.H. juga pernah menceritakan bahwa dari hasil penegasan Cak Roes, Bung Karno memang terlahir di Surabaya. “Bukan di Blitar. Cak Roes itu memang salah satu sahabat dekat Bung Karno,’’ ungkap Bambang yang kini menjadi anggota DPR RI itu.

Sebagai arek Peneleh, Cak Roes juga punya kenangan tersendiri dengan SDN Alun-Alun Contong. Dia tercatat menjadi siswa di sekolah itu pada 1921-1928 atau sewaktu bernama HIS Soeloeng di zaman Belanda.

Sementara itu, Eddy Santoso juga menunjukkan sebuah prasasti di dinding SDN Alun-Alun Contong, tertanggal 21 Desember 1997, yang ditandatangani langsung Roeslan Abdulgani. Di situ dituliskan pengakuan Cak Roes pernah belajar di sekolah tersebut.

Kini, SDN Alun-Alun Contong sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya melalui SK Wali Kota Nomor 188.45/242/436.1.2/2014, tertanggal 28 April 2014. Sekolah itu merawat dengan baik sejumlah artefak sejarah, yang disimpan dan dipajang dalam satu ruang kelas. Mulai foto-foto masa lalu, papan tulis lipat, buku-buku zaman Belanda hingga piala-piala tempo dulu.

Pihak sekolah juga menyulap tembok dengan lukisan-lukisan perjuangan bangsa seperti pertempuran 10 Nopember 1945, yang dihadapi Arek-arek Suroboyo melawan tentara sekutu dengan gagah berani. Di beberapa bangunan kelas, jug ada ornamen kayu yang masih asli.

’’Kami mengembangkan kurikulum lokal sejarah. Agar anak-anak paham dengan sejarah bangsanya. Terutama tokoh-tokoh pahlawan dari Surabaya. Bung Karno kan juga lahir di Surabaya,” kata Dian.

Ke depan, lanjut dia, pihaknya ingin ruangan tersebut sebagai laboratorium sejarah dan bisa sebagai destinasi wisata sejarah. ’’Karena sekolah kami memiliki ciri khas. Sekolah tempat Bapak Soekemi, ayahanda Bapak Soekarno, mengajar di Surabaya. Dan, alumni sekolah kami di antaranya Bapak Roeslan Abdulghani, yang pernah menjabat menteri di era kepemimpinan Presiden Soekarno,” tambah Dwi Asmara.

Di sekolah itu, juga terpampang foto ketika Cak Roes kecil dan bersama satu angkatannya belajar. Ada juga foto-foto Presiden Soekarno serta foto Bung Karno dengan Soekemi. Lalu, foto kunjungan Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 RI bersama Cak Roes ke SDN Alun-Alun Contong.

Adi pun memberikan apresiasi dan  terkagum dengan upaya para guru dan kepala SDN Alun-Alun Contong dalam merawat artefak-artefak sejarah tersebut. “Ini cara kreatif untuk memasukkan kurikulum lokal pada pengajaran sejarah bagi para siswa,’’ ujarnya.

Dia menambahkan, dengan tampilan semua itu maka para siswa bisa dibantu untuk cepat memahami sejarah. ‘’Salut dan penghormatan yang luar biasa untuk kepala sekolah dan guru-guru di sini,” pungkas Adi, yang juga ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya.
EDITOR: M Sholahuddin