JawaPos.com- Ruang terbuka hijau (RTH) memiliki fungsi penting sebagai penjaga keseimbangan lingkungan serta pengendali tata air kota. Di Kota Pahlawan, luasan kawasan hijau sudah ideal. Persentasenya lebih dari 20 persen.
Pada 2021, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya mencatat persentase RTH Surabaya 22 persen. Luasnya mencapai 7.357,96 hektare (ha). Sementara itu, luas wilayah metropolis 33.451 ha.
Kepala DLH Surabaya Agus Hebi Djuniantoro menyampaikan batasan RTH. Sesuai UU 26/2007 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) 5/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan, luas minimal RTH 20 persen. ”Surabaya sudah mencapai target itu, bahkan lebih,” katanya.
Kabid Pengendalian Pencemaran dan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati (P3KH) DLH Surabaya Chamida mengatakan, luasan RTH di Surabaya terdiri atas beragam jenis lahan. Mulai makam, boezem, hingga lapangan olahraga. Semuanya dihitung sebagai satu kesatuan yang memiliki manfaat utama sebagai RTH.
”Yang paling luas adalah area kawasan lindung. Yakni, mencapai 4.570 hektare. Sementara yang paling kecil adalah hutan kota, luasnya hanya 66,03 hektare,” katanya.
Tiap tahun luasan RTH di Surabaya terus bertambah. Peningkatan luasan itu, antara lain, dipicu penyerahan prasarana, sarana, dan utilitas umum (PSU) dari pengembang ke pemkot. Contohnya, taman yang semula dikelola perumahan diserahkan ke pemkot. ”Agar luasan RTH terus bertambah, pemkot berupaya PSU bisa segera diserahkan,” ucap Chamida.
Keberadaan RTH, kata Chamida, sangat dibutuhkan untuk mengimbangi pembangunan kawasan. Ada sejumlah manfaat RTH yang didapatkan kota. Di antaranya, pengendalian pencemaran udara, kerusakan tanah dan air, serta sebagai perlindungan plasma nutfah dan keanekaragaman hayati.
Sementara itu, pakar geologi ITS Dr Ir Amien Widodo menjelaskan, RTH berfungsi menjaga resapan air tanah. Tanah akan stabil jika ketersediaan air tanah melimpah. ”Keberadaan air tanah bisa meredam intrusi air laut. Intrusi air laut sangat berbahaya bagi struktur bangunan kota,” ujarnya.
Ketersediaan air tanah juga menguatkan struktur tanah. Tanah tidak mudah ambles. ”Tanah harus dikuatkan karena rumah tangga masih ada yang memakai air tanah,” terangnya.