JawaPos.com - Dunia seni terus berkembang. Talenta-talenta muda bermunculan dengan membawa idealisme dan menghadirkan karya serta prestasi di bidang masing-masing. Di tangan merekalah masa depan seni Indonesia akan terus bertumbuh dan menggantikan seniman-seniman senior yang sudah mewarnai kanvas dan dunia pertunjukan. Dari bakat, minat, dan kerja keras mereka, dunia seni di Indonesia bisa kita percayakan. (ama/hay/c6/tia)
Leandra Nurhadityo, Seniman Termuda yang Pernah Pameran di Galeri DKS
Ya, Lea memang berusia 17 tahun. Pameran tunggalnya yang perdana itu tentu menjadi pengalaman yang memorable dan sangat berkesan. Sebab, pameran dihelat di kota kelahirannya, yakni Surabaya, saat dia tengah menghabiskan liburan musim panas dari sekolahnya di Massachusetts, Amerika Serikat. ’’Senang sekali. Apalagi karena saya bersekolah di tempat yang jauh, saya merasa bangga bisa berkontribusi untuk dunia seni Surabaya tempat saya dibesarkan. Awalnya, saya sedikit gugup. Tapi saat dijalani, saya merasa lebih santai,’’ ungkap penyuka literasi, terutama mengenai sejarah itu.
Dari 20 lukisan yang dipamerkan, salah satu yang diunggulkan Lea adalah lukisan berjudul Reign. Yakni, lukisan yang bertema eksploitasi perempuan di zaman Romawi kuno hingga sekarang. Sebab, secara detail, lukisan itu membutuhkan waktu paling lama. Secara makna, lukisan tersebut juga butuh banyak riset. ’’Saya ingin berpesan kepada berbagai macam seniman lain, termasuk saya sendiri, untuk terus berkreasi dan menggunakan seni sebagai media menyampaikan pesan-pesan sosial,’’ imbuhnya.
Sementara itu, Charmanty Sverizkia sebagai kurator pameran Lea menceritakan sedikit tentang masa kecil Lea. Dia mengatakan, sejak kecil Lea sudah dikenalkan pada gambar. Bahkan oleh orang tuanya, Lea kecil diajari menggambar terlebih dahulu, baru kemudian menulis. Sejak kecil Lea juga sering diajak ke galeri seni hingga museum. ’’Meskipun belum mengerti, Lea sudah dihadapkan dengan dunia seni sejak kecil. Lambat laun Lea menemukan passion-nya di bidang seni yang didukung penuh oleh kedua orang tuanya yang sangat suportif,’’ ungkap perempuan yang akrab disapa Veve itu.
Di Amerika, imbuh Veve, Lea sudah pernah menggelar pameran namun secara kolektif. Dia pribadi mengaku sangat bangga dengan pencapaian Lea. Di usia yang masih sangat muda, sudah menghasilkan banyak karya yang bagus dan diapresiasi. Veve juga kagum pada Lea yang berkarya dengan melakukan riset terlebih dahulu. Karena itu, semua karyanya punya konsep dari hasil keseimbangan otak kanan dan otak kirinya. ’’Anak-anak sekarang semoga bisa lebih eksploratif dan berani dalam berkesenian. Karena sejatinya seni itu luas sekali. Tidak melulu itu-itu saja,” ujarnya. (hay/c6/tia)
Zeta Ranniry Abidin, Masuk Nominasi Young Artist Award di Usia Belia
Begitu juga yang dilakukannya pada karya yang baru-baru ini ditampilkan di Artjog 2023. Lewat karya bertajuk Cashing My Crown, gadis 19 tahun tersebut melukis 15 figurnya yang tengah berproses untuk meraih mahkota. Karya pertamanya yang akhirnya lolos kurasi pesta seni rupa tahunan itu pun masuk nominasi Young Artist Award.
’’Proses pemilihan buat jadi nominasi sebenarnya aku nggak seberapa paham. Cuma, memang ada juri yang memutuskan itu,” jelas Zeta, Senin (14/8). Namun, dia tahu yang masuk nominasi dalam award tersebut adalah mereka yang lolos open call dan berusia di bawah 35 tahun.
Masuk nominasi dan bersanding dengan seniman-seniman yang jauh lebih senior, baik dari segi umur maupun pengalaman, tentu membuat Zeta sangat senang. ”Jangankan masuk nominasi, bisa masuk Artjog aja sebenernya udah kelewat seneng. Padahal, awalnya aku baru yakin bisa ikut pameran di Artjog itu sekitar 3–5 tahun setelah lulus kuliah. Tapi, ternyata kesempatan tersebut datang lebih cepat,” ungkapnya.
Hal itu pun, diakui Zeta, membuat semua plan berkaryanya berubah. Yang awalnya masih nyantai berkarya, gambar yang senang-senang, sekarang harus lebih serius berpikir untuk membuat karya yang matang. ”Meski belum menang, pameran Artjog ini beneran bikin aku lebih banyak tahu dan punya dampak besar buat pola berkaryaku ke depan,” sambungnya. (ama/c7/tia)
Freya Zaviera Narendra Setya, Rajin Juara sejak 2017, Memulai Balet karena Barbie
Berkat film Barbie, hidup Freya Zaviera Narendra Setya kini terus berkembang dan fokus untuk menggapai mimpinya. Usianya masih 14 tahun. Tapi, prestasinya di bidang balet sudah banyak. Bahkan di level internasional. Tidak hanya itu, studinya di bidang akademik juga tak kalah banyak menghasilkan prestasi.
Semua bermula saat Freya kecil terpesona dengan Barbie yang terlihat cantik saat menari balet. Pada saat itulah dia meminta kepada orang tuanya untuk belajar balet. Dimulai di usia 4 tahun, bagi dia, balet saat itu cuma menari dan bermain dengan gerakan-gerakan yang mudah.
Sampai di usia 8 tahun, Freya memberanikan diri untuk mengikuti kompetisi. Yakni, Dance Prix Indonesia 2016. Sayangnya, kompetisi pertamanya itu tidak berjalan lancar. Kalah dan down pun menghiasi pengalaman pertamanya. Namun, itu tak berlangsung lama. Dia tentu harus bangkit lagi karena perjalanannya masih panjang.
Hal itu pun dibuktikannya pada ajang Hongkong Asian Grand Prix 2017 yang berhasil ditaklukkannya dengan gold medal. ”Terus nggak tahu kenapa setelah itu hampir di kompetisi-kompetisi selanjutnya, pasti dapat juara. Meskipun, nggak semua selalu gold. Tapi, pasti dapat,” cerita Freya saat ditemui Rabu (9/8) lalu di Marlupi Dance Academy.
Terjun di dunia balet kurang lebih 10 tahun membuat Freya kini memiliki banyak pengalaman. Khususnya pengalaman dalam ajang-ajang balet nasional maupun internasional. Gadis yang masih duduk di bangku SMP Al Azhar 13 Surabaya itu mengatakan, ada dua kompetisi yang sangat memorable baginya.
Yang pertama adalah The World Ballet Trial 2018 di Jepang. ”Ini sangat berkesan karena itu kali pertama ketemu orang-orang yang beda dari biasanya. Mulai juri-jurinya sampai yang ikut berpartisipasi. Dan, jurinya itu sangat fun. Jadi, kayak ada di lingkungan baru,” kenangnya.
Yang kedua adalah ajang Youth America Grand Prix 2019. Kompetisi terjauh bagi Freya yang waktu itu baru berusia 10 tahun. ”Di ajang ini sebenarnya aku nggak dapat juara. Tapi, terpilih mewakili Indonesia di ajang itu sudah susah banget. Dan, aku udah ngerasa bangga banget waktu itu karena bisa berhasil jadi salah satu di antara tiga orang yang terpilih dari Indonesia,” imbuhnya.
Pengalaman-pengalaman itulah yang membuatnya terus tumbuh dan semangat untuk meraih cita-citanya kini. Meski masih berusia 14 tahun, Freya tahu betul apa yang dicita-citakannya. ”Kalau nggak jadi guru balet, aku pengin jadi dokter rehab medis,” ungkapnya. (ama/c7/tia)
PRESTASI FREYA DAN GELAR JUARA
• Asian Grand Prix Hongkong 2017–Precompetitive 1–Gold
• Malaysia International Ballet Grand Prix 2017–Primary 1–Gold
• The World Ballet Trial 2018–Junior A–Gold
• Masterpiece International Ballet Competition 2018–Junior A–Silver
• Youth American Grand Prix (YAGP) Finalist 2019
• World Ballet Grand Prix Singapore 2022 (online)–Junior A–Gold
• Dance Prix Indonesia 2023–Junior A–Gold
• Asian Grand Prix 2023 (Indonesia Regional Round)–Junior A–Gold