JawaPos.com – Fenomena kemunculan asap panas di area Depo Lokomotif Sidotopo Surabaya pada 4 Januari 2019 menjadi perhatian banyak pihak. Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 8 Suprapto mengatakan, pihaknya telah melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya untuk meneliti kejadian itu.
’’Minggu pagi sudah diambil contoh tanah untuk diteliti. Selanjutnya kami tunggu saja hasilnya,’’ ujar Suprapto kemarin (5/1). Pihaknya sudah mengukur suhu tanah di lokasi keluarnya asap dengan menggunakan alat temperatur infrared.
’’Untuk itu, kami tunggu hasil penelitian lebih lanjut. Semua informasi yang didapat dibawa ke ITS,’’ ungkapnya. Dia juga menegaskan, selain jauh dari permukiman warga, sumber asap panas itu tidak mengganggu aktivitas perkeretaapian.
Kabid Pelayanan Perizinan dan Kabid PLT Pengawasan dan Pengendalian Lingkungan Hidup Surabaya Ali Murtadho mengungkapkan, pihaknya enggan menduga-duga apakah area tersebut dulunya merupakan timbunan batu bara kereta api atau rawa-rawa yang akibat proses senyawa kimia tertentu menimbulkan asap panas. ’’Tunggu saja hasil pengujiannya,’’ ungkapnya kemarin.
Wagito, warga RW 2 Simokerto, mengatakan bahwa lokasi itu menjadi area bermain anak-anak sebelum diketahui ada asap. ’’Lokasi itu masuk ke wilayah depo dan jauh dari permukiman. Kalau hujan kan lokasinya tergenang air. Anak-anak juga sering main di situ,’’ ucapnya saat ditemui kemarin.
Ketika tahu ada asap panas, beberapa warga menyiramkan air. Selain itu, warga berusaha meletakkan beberapa ranting dan dedaunan. Hasilnya, ranting dan daun tersebut memang terbakar. ’’Terbakarnya nggak langsung, agak lama, baru terbakar dan tidak ada bau-bau menyengat,’’ jelasnya.
Berdasar pantauan Jawa Pos, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, aparat setempat telah meletakkan garis polisi di lokasi tanah yang mengeluarkan asap panas. Wagito berharap fenomena itu segera terpecahkan dan tidak berdampak serius. ’’Semoga tidak ada dampak yang aneh-aneh, ya sekadar begitu saja,’’ paparnya.
Kapolsek Simokerto Kompol Muljono menjelaskan bahwa police line dipasang pada Sabtu (4/1). Selain keamanan masyarakat, garis polisi dipasang untuk mempermudah penyelidikan. ’’Sejak Sabtu ada beberapa saksi yang kami periksa. Ada sekuriti, masyarakat, dan pejabat KAI,’’ kata Muljono.
Menurut dia, sesuai keterangan pegawai KAI, lokasi yang mengeluarkan asap itu dulu pernah dipakai menyimpan batu bara. Namun, kebenaran tersebut masih akan diuji polisi bersama DLH.
Muljono menuturkan bahwa polisi meminta penyelidikan dilakukan selengkap-lengkapnya. Termasuk ada tidaknya jaringan listrik di sekitar sumber panas. Sebab, langkah itu penting untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran.
---
Tentang Asap di Depo Sidotopo
- Muncul asap dari tanah sejak Sabtu (4/1).
- Area yang dicurigai mengalami peningkatan suhu seluas 49 meter persegi.
- Area tersebut dipasangi garis dilarang melintas.
- Pada titik keluar asap, suhu tanah mencapai 180 derajat Celsius.
- Area sekitarnya bersuhu sekitar 80 derajat Celsius.
- Suhu area di luar garis polisi sekitar 45 derajat Celsius.
- Sampel tanah dibawa ke ITS untuk diteliti lebih lanjut.
Sumber: Ali Murtadho, Kabid Pelayanan Perizinan dan Kabid PLT Pengawasan dan Pengendalian Lingkungan Hidup Surabaya