JawaPos.com — Jon Jones adalah salah satu petarung paling legendaris dalam sejarah UFC. Di usia 23 tahun, dia membuat sejarah dengan menjadi juara light heavyweight UFC pada 2011, menjadikannya pemegang sabuk termuda dalam sejarah promosi pertarungan yang telah berjalan tiga dekade.
Namun, perjalanan kariernya tidak selalu mulus. Selain prestasi luar biasa di dalam Octagon, Jones juga dikenal karena berbagai kontroversi dan masalah pribadi yang kerap mencuat ke permukaan.
Dikutip dari ESPN, Jon Jones tengah proses pemulihan dari cedera pectoral yang memaksanya menunda pertarungan untuk mempertahankan gelar heavyweight-nya melawan mantan juara Stipe Miocic. Mari kita lihat kembali beberapa momen penting yang membentuk karier Jones, yang dipenuhi dengan sorotan tinggi dan rendah.
Pada 12 April 2008, Jon Jones memulai debut profesionalnya di ajang Full Force Productions di Massachusetts, menghentikan lawannya, Brad Bernard, lewat TKO di ronde pertama.
Dalam waktu singkat, Jones menunjukkan potensinya dengan dua kemenangan tambahan hanya dalam beberapa minggu setelah debutnya. Kemudian berlanjut pada 9 Agustus 2008, Kurang dari empat bulan setelah debut pro-nya, Jones, dengan rekor 6-0, melakukan debut di UFC menggantikan petarung lain dengan pemberitahuan dua minggu.
Dalam pertarungan itu, Jones mengalahkan Andre Gusmao lewat keputusan bulat. UFC 87 malam itu juga menampilkan juara welterweight Georges St-Pierre dan kemenangan pertama Brock Lesnar di UFC.
Berlanjut ke 5 Desember 2009, meski dominan dalam pertarungan melawan Matt Hamill, Jones mengalami kekalahan teknis pertama dalam kariernya. Dia didiskualifikasi karena menggunakan sikutan 12-to-6 yang ilegal.
Keputusan ini memicu kontroversi, terutama di kalangan penggemar dan Presiden UFC, Dana White, yang tidak setuju dengan keputusan wasit. Lalu pada 5 Februari 2011, Jones mengalahkan petarung yang sebelumnya tidak terkalahkan, Ryan Bader, melalui submission di UFC 126.
Segera setelah kemenangan itu, Jones diberitahu bahwa dia akan menggantikan Rashad Evans, yang cedera, untuk menghadapi Mauricio "Shogun" Rua dalam perebutan gelar.
Akhirnya pada 19 Maret 2011, di usia 23 tahun, Jon Jones mencatatkan namanya dalam sejarah UFC dengan menjadi juara light heavyweight termuda setelah mengalahkan Rua lewat TKO.
Kemenangan di UFC 128 ini bahkan bukan pencapaian pertama Jones hari itu. Pagi sebelum pertarungan, Jones dan pelatihnya menghentikan sebuah percobaan perampokan di Paterson, New Jersey.
Sejak pencapaiannya sebagai juara, kehidupan Jones mulai diterpa berbagai masalah pribadi dan hukum. Peristiwa itu terjadi pada 24 November 2011, Jones ditangkap di tempat parkir sebuah klub malam di Albuquerque karena mengemudi dengan SIM yang ditangguhkan. Meskipun demikian, tuduhan ini kemudian dibatalkan.
Selanjutnya pada 19 Mei 2012, Jones mengalami kecelakaan mobil saat dia menabrakkan Bentley miliknya ke tiang utilitas di New York. Dia ditangkap karena menolak melakukan tes kesadaran diri dan kemudian mengaku bersalah atas DUI, yang mengakibatkan denda dan penangguhan SIM selama enam bulan.
Meskipun menghadapi banyak masalah pribadi, Jon Jones terus mencetak prestasi di dalam Octagon. Prestasinya terbukti pada 22 September 2012, dalam pertarungan melawan Vitor Belfort di UFC 152, Jones hampir kalah karena kuncian armbar yang sangat ketat. Namun, dia berhasil lolos dan akhirnya menang melalui submission di ronde keempat, menunjukkan daya juangnya yang luar biasa.
Salah satu aspek paling terkenal dari karier Jon Jones adalah rivalitasnya dengan Daniel Cormier. Perseteruan mereka tidak hanya terjadi di dalam Octagon, tetapi juga meluas ke luar, dimulai dengan perkelahian di konferensi pers dan komentar pedas di media. Tepatnya pada 3 Januari 2015, Jones akhirnya menghadapi Cormier dalam pertarungan yang sangat dinantikan di UFC 182. Jones mengontrol jalannya pertarungan dari awal hingga akhir dan memenangkan pertarungan melalui keputusan bulat.
Namun, hanya beberapa hari setelah kemenangan itu, Jones kembali terlibat dalam kontroversi besar. Masalah itu datang kepadanya pada 6 Januari 2015, Jones dinyatakan positif menggunakan kokain dalam tes narkoba yang dilakukan sebulan sebelum pertarungan melawan Cormier.
Meskipun UFC mengizinkan pertarungan berlangsung karena kokain tidak termasuk dalam daftar zat terlarang di luar kompetisi, reputasi Jones terkena dampak signifikan.
Jones kemudian mengumumkan bahwa dia akan masuk ke pusat rehabilitasi. Namun, hanya sehari setelah mengumumkan keputusannya, dia memutuskan keluar dari rehabilitasi, sebuah langkah yang mengejutkan banyak orang.
Masalah terbesar dalam karier Jones datang pada 27 April 2015, ketika dia terlibat dalam insiden tabrak lari yang melibatkan seorang wanita hamil di Albuquerque.
Setelah awalnya melarikan diri dari tempat kejadian, Jones menyerahkan diri ke polisi beberapa jam kemudian. Akibatnya, UFC memutuskan untuk mencabut gelarnya dan menangguhkannya secara tidak terbatas.
Namun, Jon Jones bukanlah tipe petarung yang mudah menyerah. Setelah menjalani masa penangguhan, dia kembali ke oktagon dan melanjutkan dominasinya.
Kariernya kemudian berlanjut pada 29 Juli 2017, setelah absen selama 15 bulan, Jones kembali bertarung melawan rival beratnya, Daniel Cormier. Pertarungan ini berakhir dengan kemenangan KO melalui tendangan kepala yang brutal di ronde ketiga, dan Jones kembali merebut gelar light heavyweight UFC.
Namun, hanya sebulan kemudian, Jon Jones sekali lagi terlibat dalam skandal doping. Pada 22 Agustus 2017, Jones diberitahu tentang potensi pelanggaran kebijakan anti-doping UFC karena tes narkoba yang dilakukan sebelum pertarungan melawan Cormier menunjukkan adanya steroid anabolik Turinabol dalam sistemnya. Akibatnya, kemenangan melawan Cormier dibatalkan, dan Jones sekali lagi kehilangan gelarnya.
Meskipun perjalanan kariernya penuh dengan kontroversi, Jon Jones tetap menjadi salah satu petarung terhebat dalam sejarah UFC. Setiap kali dia kembali ke Octagon, Jones menunjukkan kemampuan luar biasa dan mentalitas juara yang membuatnya tetap berada di puncak olahraga ini.
Kini, di usia 37 tahun, Jones sempat akan kembali menghadapi tantangan baru di divisi heavyweight setelah memenangkan gelar dari Ciryl Gane pada awal 2023. Namun, dengan cedera yang dideritanya, memaksanya menunda pertarungan melawan Stipe Miocic, penggemar MMA di seluruh dunia menantikan kembalinya Jones untuk sekali lagi membuktikan bahwa dia masih raja Octagon yang tak terkalahkan.