JawaPos.com-Tak ada asap jika tak ada api. Ya, kasus match fixing yang terjadi di lndonesian Basketball League (IBL) tak akan terjadi jika tak ada penyulutnya.
Karena itu, pebasket Daniel Wenas meminta semua pihak menelusuri, kenapa enam pemain itu terlibat pengaturan skor? Sebagaimana diketahui, IBL dan PP Perbasi baru saja menjatuhkan sanksi terhadap enam pemain yang terlibat dalam pengaturan skor pertandingan alias match fixing. Tindakan tak sportif itu dilakukan pada musim kompetisi IBL 2021.
Enam pemain tersebut adalah Aga Siedarta Wismaya (AS), Jorge Gabriel Senduk (JS), M. Nur Aziz Wardhana (AW) Yoseph Wijaya (YW), Ariesanda Djauhari (AD), dan Yerikho Tuasela (YT). Lima pemain pertama berasal dari klub Pacific Caesar Surabaya dan nama terakhir adalah pemain Bali United Basketball.
”Jadi, harus ditelusuri sebab akibatnya. Pemain itu bisa seperti itu (terlibat match fixing, Red) karena apa? Apa sih yang mendorong mereka seperti itu? Apakah benar ada yang tidak dibayar (gajinya)?” kata Daniel saat dihubungi Jawa Pos.
Daniel menuturkan, jika tidak mencari benang merahnya, bisa saja kasus seperti ini tidak selesai. ”Nggak pernah selesai sih masalah ini dari dulu ya. Yang namanya tunggakan gaji atau potongan, pandemi atau apa, tapi pemain latihan full,” ujarnya.
Namun, Daniel tetap tidak membenarkan kelakuan pemain yang melakukan match fixing. ”Sebagai pemain kecewa juga kenapa teman-teman kepikiran buat kayak gitu. Mungkin tidak bisa pukul rata. Setiap pemain beda-beda kebutuhan dan finansialnya,” ucapnya.
Sebagai pemain, Daniel pernah merasakan gajinya tertunggak saat bermain di Bogor Siliwangi. ”Tapi, gue nggak pernah ikut-ikutan main match fixing. Teman-teman di tim saat itu juga nggak. Jadi, buat gue harus berkaca dari dua-duanya ya,” bebernya.
Daniel juga mempertanyakan soal Yerikho yang dituduh terlibat pengaturan skor. Bahkan, dikabarkan sebagai orang yang mengenalkan.
”Tapi, dia tidak bermain dan mengatur skor. Namanya aja match fixing berarti pengaturan skor yang dilakukan tim Pacific dan melawan siapa. Nah, Yerikho kan tidak ada di tim itu (Pacific, Red). Yerikho tidak sengaja, nggak masuk salah passing gitu loh. Jadi, menurut gue di kasusnya Yerikho harus ditindaklanjuti lebih lanjut,” ujarnya.
IBL musim 2022 nanti diketahui lebih semarak. Dari sebelumnya 12 tim berubah menjadi 16. Daniel juga ingin seluruh klub memiliki keseriusan untuk mencegah celah pemain untuk melakukan match fixing. Caranya, menyejahterakan pemain.
”Klubnya makin banyak. Kalau nggak sanggup ya udah mundur aja. Gue yakin pasti banyak yang mau gantiin (main di IBL, Red),” sebutnya.
Sementara itu, Direktur Pacific Caesar Surabaya Irsan Pribadi Susanto menegaskan, gaji seluruh pemain terbayarkan. ”Pertanyaan saya, apabila pemain yang gajinya tinggi, apakah menjamin tidak terlibat match fixing,” kata Irsan.
Menurut dia, kenyataan yang ada tidak demikian. ”Apakah pemain yang gaji kecil semuanya terlibat match fixing, tidak begitu juga. Jadi, ini lebih ke inisiatif masing-masing individu. Untuk memenuhi kebutuhan lifestyle atau gaya hidup lebih tepatnya,” ujarnya.
”Apakah kalau gaji kurang dan kurang uang membenarkan melakukan penipuan ataupun pencurian, bahkan perampokan? Kan tidak boleh juga,” sambungnya.
Irsan menjelaskan, kecurigaan pihaknya terhadap adanya match fixing itu sebetulnya tidak hanya di musim 2021. Tapi, juga berlangsung bertahun-tahun. ”Mungkin sejak era NBL. Jauh sebelum Yerikho sebetulnya. Hanya saja, kami baru berhasil menemukan bukti yang cukup sekarang,” tuturnya.