JawaPos.com - Usaha besi tua di Kota Surabaya dan kota besar lainnya seringkali dikaitkan dengan masyarakat Madura.
Hal ini disebabkan oleh mayoritas pelaku usaha ini berasal dari Pulau Garam yang merantau ke kota besar.
Dikutip dari Radar Surabaya (JawaPos Grup), Menurut Profesor Bagong Suyanto, seorang sosiolog dari Universitas Airlangga Surabaya, banyak masyarakat Madura yang menjadi pengusaha besi tua, terutama di pinggiran kota besar seperti Kenjeran di Surabaya dan Cilincing di Jakarta.
“Kalau di Surabaya seperti di daerah Kenjeran. Sedangkan kalau di Jakarta ada di Cilincing,” katanya.
Prof. Bagong menjelaskan bahwa alasan utama mengapa usaha besi tua banyak dilakukan oleh masyarakat Madura yang merantau adalah karena adanya faktor jaringan kekerabatan.
Mayoritas pelaku usaha ini masih terikat dalam lingkungan keluarga, dari pedagang hingga pengepul, yang memiliki hubungan kekerabatan yang kuat.
“Artinya mulai pedagang hingga pengepul masih memiliki hubungan kekerabatan,” katanya.
Bagi masyarakat Madura, kekerabatan merupakan hal yang sangat penting dan kunci sukses utama dalam strategi bisnis.
Mereka berusaha memaksimalkan hubungan bisnis dalam usaha besi tua untuk mengendalikan harga besi tua melalui organisasi bisnis besi tua yang ada.
Masyarakat Madura melihat peluang menguntungkan dari besi tua yang dianggap tidak memiliki nilai.
“Masyarakat Madura menangkap peluang menguntungkan dari sebuah besi tua yang dianggap tidak ada nilainya,” terangnya.
Prof. Bagong juga menilai bahwa masyarakat Madura memiliki keberanian, ketekunan, dan etos kerja yang tinggi dalam menggeluti usaha besi tua ini.
Keberhasilan dalam bisnis ini tidaklah instan, namun melalui kerja keras, semangat tinggi, dan keterampilan khusus yang dimiliki masyarakat Madura.