← Beranda

Mesin Gol Malut United David da Silva Ungkap Memori Manis di Persebaya Surabaya

Moch. Rizky Pratama PutraSabtu, 10 Januari 2026 | 21.36 WIB
David da Silva masih jadi striker paling subur di Persebaya Surabaya sejak era Liga 1. (Persebaya Surabaya)

JawaPos.com–David da Silva ungkap memori manis di Persebaya Surabaya, namun tetap fokus jadi mesin gol Malut United. Itu menjadi cerita menarik jelang laga emosional yang mempertemukan dua babak penting dalam perjalanan karirnya membela Malut United menghadapi Persebaya Surabaya, Sabtu (10/1) sore.

Kembali ke kandang Persebaya Surabaya bukan sekadar pertandingan biasa. Itu momen penuh nostalgia yang membangkitkan ingatan lama bagi David da Silva, striker Malut United, menghadapi pekan ke-17 Super League 2025/2026.

Surabaya pernah menjadi rumah bagi David da Silva dalam fase penting karir profesionalnya bersama Persebaya. Kota ini menyimpan banyak cerita, mulai dari perjuangan di lapangan hingga kedekatan emosional dengan suporter setia Bonek sebelum melanjutkan karir bersama Malut United.

“Di sini saya punya cerita. Banyak kenangan. Saya merasa seperti di rumah,” ujar David da Silva dengan nada penuh makna.

Kalimat itu menggambarkan betapa kuat ikatan emosional yang masih tersimpan. Meski demikian, David paham betul sepak bola menuntut profesionalisme tinggi tanpa ruang bagi perasaan personal saat laga dimulai. Kenangan indah dan rasa emosional harus dikesampingkan demi tanggung jawab sebagai pemain Malut United.

“Di dalam lapangan, saya harus melakukan apa yang harus saya lakukan. Dengan rasa hormat, tentu saja. Tapi sebagai pemain profesional, emosi harus ditinggalkan di luar,” lanjut David da Silva.

Pernyataan itu menegaskan komitmennya menjaga fokus penuh selama pertandingan berlangsung. David menilai sepak bola bukan sekadar permainan, melainkan profesi yang menuntut sikap dewasa dan disiplin tinggi.

Hubungan baik dengan klub lama dan suporter tidak boleh mengganggu tugas utama selama 90 menit di lapangan. “Setelah pertandingan, kami bisa berteman lagi,” kata David singkat namun tegas.

Menurut dia, batas antara profesionalisme dan perasaan personal harus jelas agar performa tetap maksimal. Datang ke markas Persebaya, David tidak membawa keraguan soal kesiapan fisik maupun mental. Dia merasa berada dalam kondisi terbaik dan siap memberikan kontribusi nyata bagi Malut United.

“Saya siap. Saya merasa sangat baik. Dan saya berharap bisa mencetak gol,” ucap David penuh keyakinan.

Kalimat itu sekaligus menjadi sinyal ancaman serius bagi lini pertahanan Persebaya. Sebagai striker berpengalaman, David paham gol menjadi bahasa utama seorang penyerang. Kepercayaan diri tersebut lahir dari persiapan matang dan keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri.

Namun di balik ambisi mencetak gol, David tetap menunjukkan rasa hormat tinggi kepada klub yang pernah membesarkan namanya. Dia sadar hubungan emosional dengan publik Persebaya tidak bisa diputus begitu saja.

David menegaskan tidak akan melakukan selebrasi jika berhasil menjebol gawang mantan timnya. Sikap itu dipilih sebagai bentuk penghormatan terhadap suporter yang pernah memberinya dukungan penuh.

“Saya tidak akan selebrasi. Saya sangat menyukai Bonek. Saya tahu mereka juga menghormati saya. Dan saya juga ingin menghormati mereka,” tandas David.

Pernyataan ini memperlihatkan kedewasaan emosional seorang pemain profesional. Hubungan David dengan Bonek memang terjalin kuat sejak lama dan masih terasa hingga kini. Dia menyadari rasa saling menghormati itu menjadi bagian penting dari perjalanan karirnya di sepak bola Indonesia.

Kehadiran David di Surabaya kali ini menghadirkan nuansa berbeda bagi laga tersebut. Dia bukan lagi pahlawan Persebaya, melainkan mesin gol yang siap bekerja untuk Malut United.

Situasi ini menempatkan David pada posisi unik, terjepit antara kenangan masa lalu dan tuntutan masa kini. Dia harus menyeimbangkan rasa hormat dengan ambisi profesional demi tim yang kini dibelanya.

Bagi Malut United, sosok David menjadi tumpuan utama di lini depan. Pengalaman, ketajaman, dan mentalitasnya di laga besar sangat dibutuhkan untuk menghadapi tekanan bermain di kandang lawan.

Sementara bagi Persebaya dan Bonek, kembalinya David menghadirkan perasaan campur aduk. Ada rindu, ada hormat, namun juga ada kewaspadaan terhadap ancaman gol yang bisa dia ciptakan.

Pertandingan ini bukan hanya soal tiga poin, tetapi juga tentang cerita, emosi, dan profesionalisme. David da Silva berdiri di tengah semua itu dengan sikap tenang dan fokus penuh.

Dia memilih membiarkan kenangan tetap hidup di hati, tanpa membiarkannya mengganggu tugas di lapangan. Sikap ini menunjukkan kedewasaan seorang pemain yang telah melewati banyak fase dalam kariernya.

David datang ke Surabaya dengan kepala tegak dan tujuan jelas. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk Malut United tanpa melupakan rasa hormat kepada Persebaya.

Laga ini akan menjadi ujian sejauh mana profesionalisme mampu mengalahkan nostalgia. David da Silva siap membuktikan dirinya tetap tajam, bahkan di tempat yang pernah ia sebut sebagai rumah.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah