← Beranda

Kisruh Persela Lamongan: Imran Nahumarury Batal Jadi Pelatih, Pemain Hijrah ke PSIS

Andre Rizal HanafiMinggu, 14 Desember 2025 | 12.38 WIB
Sejumlah pemain Persela diisukan merapat ke PSIS Semarang pada Januari 2026. (www.instagram.com)

JawaPos.com-Persela Lamongan pada 10 November 2025 umumkan menunjuk Imran Nahumarury sebagai pelatih kepala. Namun hal itu batal terealisasi.

Manajemen Persela menyatakan pembatalan ini karena kesepakatan yang sebelumnya dibangun hanya bersifat lisan dengan eks CEO Persela Faris Julinar. Sehingga tidak ada ikatan tertulis yang kuat.

Situasi tersebut menambah panjang daftar kekisruhan di pengelolaan tim Laskar Joko Tingkir jelang putaran kedua Pegadaian Championship.

Di tengah kabar batalnya Imran, isu lain ikut mencuat. Sejumlah pemain Persela disebut-sebut akan hijrah mengikuti Datu Nova, istri Faris Julinar, yang kini menjadi CEO di PSIS Semarang.

Wawan Febrian dan Ocvia Chanigio secara resmi sudah pindah ke PSIS. Nama-nama seperti Beto, Dutra, Viscara dan beberapa pemain Persela dikabarkan sebentar lagi akan bergabung dengan Laskar Mahesa Jenar.

Kondisi ini memancing reaksi keras dari suporter Persela. Terutama di media sosial, yang mempertanyakan status para pemain Persela tersebut.

Akun X @sarwanvanjava melontarkan pertanyaan satir kepada akun @mafiawasit dengan mengungah photo Imran dan Esteban Viscara.

“Karyawan persela atau belikopi mbah?” tulis akun itu.

Ungkapan itu menggambarkan kebingungan suporter apakah para pemain masih terikat kontrak resmi dengan Persela atau terikat kontrak dengan Faris Julinar.

Menanggapi hal tersebut, akun @mafiawasit memberikan jawaban yang cukup lugas dan teknis.

Dia menegaskan bahwa kontrak dan gaji pemain Persela secara formal pasti berada di bawah PT Persela Jaya. Bahkan, durasi kontrak disebut masih menyisakan waktu sekitar tiga hingga empat bulan ke depan.

Namun, persoalan utama menurut akun Mafia Wasit bukan pada legalitas kontrak, melainkan kemampuan finansial klub.

Dia mempertanyakan dari mana PT Persela Jaya akan membayar gaji pemain ke depan. Apakah dari operating expenses, cash flow pendapatan klub, atau kembali mengandalkan talangan donatur seperti yang terjadi sebelumnya.

Apalagi, pendapatan dari penjualan tiket nyaris tidak ada karena Persela terkena hukuman larangan pertandingan kandang tanpa penonton selama 1 musim, imbas kerusuhan musim lalu.

Dalam konteks itu, akun Mafia Wasit menilai keputusan klub untuk mengiklaskan pemain pergi tanpa menuntut kompensasi sisa kontrak justru bisa menjadi langkah yang menguntungkan secara finansial.

Beban gaji berkurang, sementara klub bisa fokus menata ulang struktur keuangan yang sedang tidak ideal. Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan Persela Lamongan saat ini bukan semata soal teknis di lapangan, tetapi juga manajemen dan keberlanjutan klub.

Batalnya Imran Nahumarury, potensi hengkangnya pemain, hingga polemik kontrak menjadi sinyal bahwa Persela membutuhkan kejelasan arah dan transparansi agar kepercayaan suporter tidak terus terkikis.

Bagi pendukung setia Persela, jawaban Mafia Wasit mungkin terasa pahit, tetapi realistis. Kini, harapan besar ada pada langkah konkret manajemen untuk membenahi klub, bukan hanya janji lisan, agar Persela bisa kembali stabil dan kompetitif.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah