JawaPos.com - Siapa yang tidak kenal mantan wonderkid Indonesia, Andik Vermansyah. Pemain yang pernah ditackling oleh David Beckham itu punya banyak cerita menarik di dunia sepak bola. Namun, ada penyesalan yang medalam dirasakan Andik Vermansyah karena tidak jadi merumput bersama DC United.
Sebelum melanglang buana ke luar negeri, Andik Vermansyah dikenal sebagai bintang di Persebaya Surabaya. Para bonek sangat senang dengan permainan dari Andik Vermansyah.
Akan tetapi, dari kisah sukses yang pernah diraih Andik Vermansyah ada penyesalan di balik sinarnya. Hal ini karena Andik tidak melanjutkan kariernya Bersama DC United di Amerika.
Padahal, selama trial atau uji coba bersama DC United, pelatih DC menyukai permainan dari pira dengan julukan Messi dari Indonesia itu. Namun, pada saat itu, rencanannya Andik akan masuk ke DC United B.
"Dia (pelatih) suka saya, skill saya oke, dan saya bisa nambah lagi dibesarin badannya," kata Andik seperti dikutip di Youtube, Rabu (3/12).
Kisahnya bersama DC United menjadi buah bibir masyarakat Indonesia. Namun, Andik menuturkan kalau dirinya tidak mau masuk DC United karena orang dalam. Karena, diketahui saat itu Erick Thohir memiliki saham di DC United.
"Saya bilang jangan dimasuk-masukkan. Jangan mentang-mentan ada pak Erick Thohir disana, terus dipaksa untuk masuk," tutur pria yang pernah memakai jersey Timnas Indonesia no 21 itu.
Namun, dia dirayu agar tetap bisa bermain di DC United. Hati Andik Vermansyah pun galau. Apalagi, saat itu, dirinya fokus untuk membela Timnas Indonesia di Sea Games. "Tapi saya tujuan main bola ingin dapat duit. Ingin membelikan rumah buat ibu saya," ujarnya.
Akhirnya, Andik blak-blakan mengungkapkan penyesalannya tidak menerima tawaran dari DC United. Hal ini karena pemikiran Andik saat itu yang ingin membelikan rumah untuk orang tuanya.
"Saya di DC United dengan Persebaya bedanya Rp 50 juta saja. Lebih tinggi di DC. Tetapi, pikiran saya kok segini? Kok ga kaya di tv-tv yang bermiliar-miliar. Karena waktu itu saya mau belikan ibu rumah," ungkap dia.
Karena pemikiran itu, Andik memilih untuk tetap di Indonesia. Apalagi, banyak sponsor yang akan dia dapatkan selama di Indonesia.
"Kalau di Indonesia saya bisa dapat sponsor dan lain-lain. Itu pemikiran sangat bodoh. Saya sangat menyesal. Karena kalau disana umur 23 dibatasin gajinya. Apalagi, peringkat FIFA Indonesia saat itu," pungkasnya.
Momen Bersejarah
Rabu, 30 November 2011, suatu momen bersejarah terjadi di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), di mana Indonesia Selection bertemu dengan LA Galaxy yang diperkuat oleh bintang-bintang sepak bola dunia seperti David Beckham, Robbie Keane, dan Landon Donovan.
Pertandingan itu tidak hanya menjadi sorotan karena kehadiran para bintang tersebut, tetapi juga karena insiden menegangkan antara David Beckham dan Andik Vermansyah.
Andik Vermansah, mantan pemain muda Persebaya Surabaya, yang saat itu membela Indonesia Selection, menjadi pusat perhatian saat dia ditekel dengan keras oleh David Beckham dalam pertandingan tersebut. Meskipun David Beckham terkenal dengan teknik dan kelembutannya, momen itu menunjukkan sisi lain dari pemain legendaris Inggris dan dunia tersebut.
Pada menit kedelapan pertandingan, Andik Vermansyah mencoba mengecoh bek LA Galaxy, dan hal itu tampaknya memancing reaksi dari David Beckham. Tanpa ragu, David Beckham melancarkan tekel keras yang membuat Andik Vermansyah terguling-guling. Wasit langsung memberikan kartu kuning kepada Beckham sebagai hukuman atas tekel kerasnya.
Namun, momen itu tidak berakhir kecewa begitu saja. Saat sedang diwawancarai oleh salah satu stasiun televisi setelah pertandingan, David Beckham memanggil Andik Vermansyah untuk bertukar seragam dengannya. Tindakan ini dianggap sebagai upaya David Beckham untuk menebus kesalahannya dan memberikan penghormatan kepada Andik.
Andik Vermansyah, yang merasa bangga dan terhormat, menerima jersey David Beckham dengan senang hati. Kala itu dia bahkan mengaku bahwa dia tidak bisa tidur malam itu karena kegembiraannya atas hadiah istimewa itu. Baginya, memiliki jersey dari salah satu pemain legendaris sepak bola dunia adalah suatu kehormatan yang luar biasa.
David Beckham sendiri tidak ragu untuk memberikan pujian kepada Andik Vermansyah. Dia mengakui kecepatan dan bakat Andik Vermansyah, sambil menyatakan penyesalannya atas tekel keras yang dia lakukan. Pujian dari salah satu pemain terbaik dalam sejarah sepak bola menjadi penghargaan luar biasa bagi Andik Vermansyah.
Momen tekel David Beckham terhadap Andik Vermansyah tidak hanya menjadi perbincangan di kalangan penggemar sepak bola Indonesia, tetapi juga menunjukkan sikap sportivitas dan penghargaan antara pemain dari berbagai belahan dunia.
Meskipun itu adalah momen yang menegangkan, itu juga menjadi momen yang mengesankan dan bersejarah bagi Andik Vermansyah serta sepak bola Indonesia secara keseluruhan.
Saat ini Andik Vermansyah tengah berjuang membawa Persiraja Banda Aceh untuk bisa lolos ke Liga 1 Indonesia 2024/2025. Berdasarkan data dari Transfermarkt, Andik Vermansyah telah bermain lebih dari 120 pertandingan selama kariernya, baik di Liga Indonesia maupun di luar negeri seperti DC United Reserves, Kedah Darul Aman FC, dan Selangor FC.
Dari 120 lebih pertandingan tersebut, Andik Vermansyah mencatatkan 8 gol dan 19 assists, selain itu 10 kartu kuning dan 1 kartu merah pernah dikantonginya ketika berlaga di lapangan selama 7.328 menit. Sungguh catatan yang luar biasa panjang dan bersejarah dari pria bertinggi 1,62 m yang berposisi asli di sayap kanan tersebut.
Lahir dari Akar Rumput Kota Surabaya
Di balik gemerlap sepak bola Surabaya, terdapat sebuah tempat yang menjadi sarang bagi bakat-bakat muda yang bersemangat untuk meraih mimpi.
Itulah Indonesia Muda, sekolah sepak bola yang telah melahirkan sejumlah pemain legenda, memberikan kontribusi besar bagi perkembangan sepak bola Surabaya, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang olahraga kota ini.
Andik Vermansyah, salah satu bintang terang sepak bola Indonesia, merupakan salah satu bukti gemilang dari hasil binaan Indonesia Muda. Bersama dengan pemain lain seperti Yusuf Ekodono dan Bejo Sugiantoro, Andik adalah contoh nyata bagaimana sekolah sepak bola ini mampu mencetak pemain-pemain berkualitas tinggi yang mampu bersinar di level nasional maupun internasional.
Statistik Andik selama kariernya di klub Indonesia maupun Malaysia berdasarkan data Transfermarkt:
Baca Juga: Drama Dynamite Kiss Bagikan Potongan Spoiler, Jang Ki Yong Menolak Melepaskan Tangan Ahn Eun Jin
Penampilan 123
Gol 8
Assists 19
Kartu Kuning 10
Kartu Kuning + Merah 0
Kartu Merah 1
Menit Bermain 7.328
“Semua klub internal mempunyai ambisi yang sama, yaitu melestarikan bakat bawaan klub untuk menjadi pemain hebat," kata bos Indonesia Muda kala itu, Saleh Hanifah, dilansir dari Jawa Pos Koran edisi 2 Oktober 2015.
Tidak hanya Indonesia Muda, klub Mitra Surabaya juga menjadi bagian penting dari sejarah sepak bola kota ini. Didirikan oleh mantan pemain dari Niac Mitra dan Persebaya Surabaya, klub ini memiliki misi yang sama dengan Indonesia Muda, yaitu mengembangkan bakat-bakat muda menjadi pemain hebat yang dapat mengharumkan nama Surabaya di kancah sepak bola nasional dan internasional.
Mursyid Effendi yang pernah menjabat sebagai ketua umum Mitra Surabaya kala itu, yang juga merupakan mantan kapten Persebaya Surabaya, memiliki visi yang jelas dalam mengembangkan potensi anak-anak muda. Dengan rajin menyalurkan pemain-pemain berkualitas ke tim utama Persebaya Surabaya dan timnas Indonesia, Mitra Surabaya telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi kemajuan sepak bola Surabaya.
Dalam setiap turnamen, baik itu turnamen besar maupun antar RT, Mitra Surabaya selalu berpartisipasi dengan tekad yang kuat untuk memajukan bakat-bakat muda. Semua ini dilakukan demi kemajuan mereka menjadi aset berharga bagi Persebaya dan bangsa Indonesia secara keseluruhan.
"Kami memiliki misi untuk mengembangkan bakat anak-anak tidak terbatas dengan beberapa turnamen saja. Setiap turnamen, sekalipun itu antar RT, tetap akan kami usahakan untuk berpartisipasi. Semua demi kemajuan mereka yang nantinya bisa juga berguna bagi Persebaya,” ucap Mursyid Effendi kala itu.
Sejarah panjang Indonesia Muda dan Mitra Surabaya telah membuktikan bahwa investasi pada pengembangan bakat-bakat muda adalah investasi yang bernilai tinggi bagi masa depan sepak bola Surabaya. Dari sarang-sarang ini lahirlah para pemain legenda yang mengukir sejarah bagi kota ini, dan semangat mereka akan terus membara untuk menyulam bakat-bakat baru menuju kebesaran sepak bola Surabaya.