JawaPos.com - Super League 2025/2026 segera dimulai pada 8 Agustus 2025, mempertemukan 18 tim terbaik dari seluruh penjuru Indonesia. Pertarungan akan semakin panas, bukan hanya di atas lapangan, tetapi juga dari segi atmosfer stadion yang menjadi markas masing-masing tim.
Dari daftar tersebut, Persija Jakarta keluar sebagai klub dengan stadion kandang terbesar musim ini. Bermarkas di Jakarta International Stadium (JIS), tim Ibu Kota ini memiliki daya tampung mencapai 82.000 penonton.
Di posisi kedua ada Persebaya Surabaya yang bermarkas di Gelora Bung Tomo dengan kapasitas 46.806 penonton.
Sementara itu, Gelora Bandung Lautan Api milik Persib Bandung menjadi yang terbesar ketiga dengan kapasitas 38.000 penonton.
Tim-tim seperti Dewa United, Bhayangkara Presisi, dan PSBS Biak, menjadi sorotan karena memilih menggunakan kandang baru di musim ini.
Ketiganya disebut sebagai klub “rantau” karena berpindah markas jauh dari kota asal mereka.
Dewa United
Dewa United yang sebelumnya bermarkas di Tangerang Selatan kini mengincar Banten International Stadium (BIS) sebagai rumah barunya.
Stadion megah di Kota Serang ini memiliki kapasitas 30.000 penonton dan diharapkan menjadi simbol baru kebanggaan warga Banten.
Presiden klub Dewa United, Ardian Satya Negara, menegaskan langkah ini bagian dari niat menjadikan timnya sebagai representasi Banten.
Ia menyebut proses verifikasi dari operator liga masih berjalan dan berharap masyarakat bisa turut mendukung kelancaran proses tersebut.
"Niat kami memang ingin menjadi representasi dari provinsi Banten di kompetisi Liga 1, maka langkah ini perlahan kami wujudkan. Mengenai hal tersebut, semua masih butuh tahap-tahap yang harus dilewati, seperti proses verifikasi dari operator Liga 1 (kini bernama Super League) serta hal-hal lainnya," ujar Ardian, Kamis (20/5/2025).
"Jadi mohon doanya untuk seluruh masyarakat pecinta sepak bola Banten agar proses tersebut bisa cepat selesai dan kami bisa bermarkas di sini," tambahnya.
Latihan perdana tim di BIS bahkan disambut antusias oleh ratusan warga Serang. Hal ini menjadi sinyal positif klub ini bisa diterima oleh masyarakat lokal sebagai klub daerahnya sendiri.
Bhayangkara FC
Sementara itu, Bhayangkara FC juga membuat gebrakan dengan relokasi ke Lampung.
Klub ini secara resmi berganti nama menjadi Bhayangkara Presisi Lampung FC dan akan menggunakan Stadion Sumpah Pemuda sebagai markas barunya.
Stadion yang terletak di Bandar Lampung ini tengah direnovasi dan akan rampung pada Juni 2025. Dengan kapasitas 25.000 penonton, stadion ini menjadi simbol semangat baru bagi tim berjuluk The Guardian.
CEO Bhayangkara, Agus Suryonugroho, optimis Lampung bisa menjadi rumah baru yang membawa kesuksesan bagi klubnya. Ia bahkan menargetkan Bhayangkara untuk langsung bersaing di tiga besar musim ini.
"Atas seizin Pak Kapolri, kami bersama-sama membesarkan Bhayangkara Presisi Lampung FC. Saya punya keyakinan besar ketika kami bermarkas di Lampung," ujar CEO Bhayangkara FC, Agus Suryonugroho, Selasa (22/4/2025).
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, mengaku bangga bisa menyambut klub Liga 1 kembali ke daerahnya. Ia berjanji akan memastikan stadion menjadi tempat yang nyaman dan layak bagi Bhayangkara Presisi Lampung FC.
"Saya senang sekali pada hari ini karena Bhayangkara FC resmi berlabih ke Lampung. Sebuah kebanggaan bagi Lampung dan langkah besar bagi masyarakat kami dan sepak bola di provinsi kami," kata Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal.
"Pesan kami, mewakili masyarakat Lampung, dengan hadirnya Bhayangkara FC di Lampung, kami mempersiapkan stadion supaya enak, nyaman, dan tempat yang baik untuk Bhayangkara FC.”
PSBS Biak
Berbeda dengan dua klub tersebut, PSBS Biak memilih kandang sementara di luar Papua, yakni di Stadion Maguwoharjo, Sleman.
Stadion ini juga digunakan oleh PSIM Yogyakarta, sehingga akan berbagi fungsi untuk dua tim dalam satu musim.
PSBS telah melakukan launching tim dan jersey di Yogyakarta, menandai awal petualangan mereka sebagai tim “perantauan”. Pelatih kepala Divaldo Alves menyebut target utama PSBS adalah bertahan di Super League.
Pelatih asal Portugal ini menambahkan meski tidak harus bermain cantik, PSBS akan berupaya bermain efisien dan mengejar hasil maksimal. Ia percaya, dengan kerja keras, timnya bisa mengejutkan banyak pihak musim ini.
"Tapi kita harus realistis dengan kekuatan tim yang ada sekarang," ujar Divaldo, Kamis (31/7/2025).
Menariknya, PSBS juga menjadi salah satu tim yang mendatangkan tujuh pemain asing untuk memperkuat skuad. Nama-nama seperti Aldo Monteiro, Sandro Embalo, hingga Mochine Nader jadi bagian penting dari rencana Divaldo Alves.
Adaptasi Berat Tim Rantau
Adaptasi dari tim-tim yang memilih kandang baru tentu bukan perkara mudah.
Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, mulai dari logistik, dukungan suporter, hingga faktor psikologis para pemain yang harus berpisah dari atmosfer kandang lama.
Sebuah riset yang dipublikasikan pada 2022 berjudul "Home Advantage in Football After Moving to a New Stadium" menyimpulkan pergantian stadion tidak secara signifikan mengubah keuntungan bermain di kandang.
Meski demikian, perpindahan biasanya mampu mendongkrak jumlah penonton dan potensi pemasukan klub secara keseluruhan.
Dalam riset tersebut, 98 klub Eropa dari 25 liga dianalisis dalam enam musim—tiga sebelum dan tiga sesudah perpindahan stadion.
Hasilnya menunjukkan tidak ada perbedaan mencolok dalam keuntungan kandang, meski ada peningkatan jumlah penonton sebesar 51,6% setelah pindah.
Artinya, meski atmosfer berubah, adaptasi yang tepat bisa menghindarkan klub dari kehilangan performa saat bermain kandang. Justru tantangan sebenarnya ada pada bagaimana klub membangun ikatan baru dengan masyarakat lokal.
Langkah Dewa United, Bhayangkara Presisi, dan PSBS Biak adalah contoh nyata bagaimana klub mencoba bertahan sekaligus tumbuh lewat perubahan besar.
Bagi ketiganya, kandang baru bukan hanya tempat bertanding, tapi juga peluang memperluas basis penggemar.
Namun, semua itu tetap harus diuji lewat performa. Dukungan masyarakat lokal tidak bisa langsung datang begitu saja, apalagi jika hasil pertandingan tak memuaskan sejak awal musim.
Sementara itu, stadion-stadion dengan kapasitas kecil seperti Gelora B.J. Habibie milik PSM dan Gelora Bumi Kartini milik Persijap tetap jadi bagian menarik dari kompetisi.
Meski hanya mampu menampung di bawah 9.000 penonton, atmosfer khas stadion kecil bisa memberikan tekanan besar bagi lawan.
PSM, misalnya, tetap menjadi salah satu tim dengan sejarah besar di sepak bola Indonesia. Meski kapasitas stadion kecil, klub ini dikenal punya basis suporter fanatik yang bisa memberikan tekanan tinggi.
Persijap pun akan menjadikan musim ini sebagai pembuktian ukuran stadion bukan segalanya. Kedekatan dengan suporter bisa menjadi kekuatan tersendiri, meskipun jumlahnya terbatas.
Kondisi stadion klub-klub Super League musim ini memperlihatkan jurang yang cukup lebar, dari stadion supermegah hingga stadion mini.
Tapi itulah cermin nyata dari persebaran infrastruktur sepak bola nasional yang masih berkembang.
Dengan 18 klub yang berasal dari berbagai daerah, Super League 2025/2026 menjadi kompetisi yang penuh warna. Mulai dari stadion bertaraf internasional hingga stadion sederhana, semua siap jadi saksi drama sepak bola Tanah Air.
Persaingan musim ini tak hanya akan terjadi dalam 90 menit pertandingan. Tapi juga dalam perjuangan klub memperjuangkan identitas dan loyalitas dari rumah baru mereka.
Kini tinggal kita lihat siapa yang benar-benar bisa memaksimalkan kandangnya. Dan siapa yang justru tersesat di tempat baru yang belum jadi “rumah”.