JawaPos.com - Senin tanggal 23 Juni lalu menjadi salah satu tonggak sejarah bagi Persebaya Surabaya.
Sejak hari itu, seluruh kegiatan latihan Skuad Green Force dipusatkan di kompleks Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), tepatnya lapangan ABC.
Pemilihan GBT sebagai pusat latihan menandai langkah awal Persebaya dalam membangun konsistensi dan fokus tim menyambut musim baru.
Tak hanya latihan, seluruh kegiatan Persebaya juga akan dipusatkan di stadion terbesar di Surabaya itu, termasuk pertandingan kandang dan juga kantor klub.
Hal ini tentu menjadi sebuah langkah strategis bagi Green Force karena mereka tidak perlu lagi berganti-ganti tempat latihan seperti musim sebelumnya, di mana Stadion Gelora 10 Nopember dan Lapangan Thor menjadi tempat latihan reguler tim.
Lebih penting lagi, bagi pelatih Persebaya, Eduardo Perez, kompleks Stadion GBT bukan sekadar lokasi ataupun kandang tim, tetapi sebagai ruang kerja kolektif untuk membentuk kembali fondasi tim di bawah komandonya.
“Kami pilih GBT karena ingin semuanya terpusat, mulai dari latihan fisik, pemulihan, sampai analisis taktik,” ujar pelatih asal Spanyol itu.
Sementara itu dari kacamata para pemain, menjadikan GBT sebagai pusat seluruh kegiatan tim mendapat tanggapan positif, baik pemain lokal maupun asing.
Misalnya kiper Andhika Ramadhani yang menurutnya bisa membuat chemistry seluruh elemen yang ada dalam tim makin kuat.
"Banyak positifnya karena semua jadi satu di sana. Setelah sesi meeting, kita jalan bersama di lapangan ABC itu memperkuat chemistry antar sesama. Mengobrol banyak hal," ujarnya seperti dikutip dari laman resmi Persebaya.
Tanggapan positif sekaligus kekaguman juga diutarakan dua pemain asing yang baru bergabung, Gali Freitas dan Risto Mitrevski. Bagi Gali Freitas, ini adalah pengalaman pertamanya bermain di klub dengan fasilitas lengkap.
"Jujur ini adalah pertama kali bagi saya bermain di klub yang dilengkapi fasilitas lengkap, ada lapangan latihan di depan stadion utama. Bagi saya, fasilitas yang dimiliki Persebaya ini sudah mantap!" puji pemain asal Timor Leste ini.
Sementara itu, menurut Risto Mitrevski, ini adalah wujud profesionalitas Persebaya sebagai sebuah klub sepak bola.
"Ini adalah bentuk profesionalitas sebuah tim sepak bola. Berlatih di lapangan yang bagus, lalu mandi, dan dilanjutkan makan bersama tim di satu kompleks stadion, segalanya begitu profesional," tutur Risto.
Langkah yang dilakukan Persebaya ini tentu merupakan sebuah progres yang positif dan layak dijadikan contoh bagi klub-klub lain di Liga 1.
Dampak positif hampir pasti akan dirasakan oleh Green Force. Sebagai gambaran, musim lalu saat masih berpindah-pindah tempat latihan, mereka bisa finish di peringkat empat.
Apalagi kini seluruh kegiatan tim termasuk latihan dipusatkan di GBT, maka pencapaian yang lebih prestisius bukan tidak mungkin akan dicapai oleh Persebaya.