← Beranda
Kebiasaan Paul Munster Koleksi Kartu Bikin Persebaya Surabaya Tanpa Pelatih Kepala di Laga Penentu, Bakal Berpengaruh?
Moch. Rizky Pratama PutraRabu, 14 Mei 2025 | 18.08 WIB
Paul Munster sangat menggebu-gebu saat menemani Persebaya Surabaya di pinggir lapangan. (Media Persebaya)

JawaPos.com — Persebaya Surabaya harus menanggung konsekuensi atas sikap emosional pelatih mereka, Paul Munster, yang kembali berurusan dengan kartu dari wasit. Setelah mengoleksi empat kartu kuning, Munster kini mendapat kartu merah yang membuatnya absen di laga krusial pekan depan.

Insiden itu terjadi usai pertandingan pekan ke-32 Liga 1 Indonesia 2024/2025 melawan Semen Padang di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Minggu (11/5/2025).

Laga berakhir imbang 1-1 dan memunculkan ketegangan tinggi di pengujung pertandingan. Paul Munster terlibat cekcok dengan staf pelatih Semen Padang usai wasit membatalkan gol Persebaya Surabaya yang dicetak Dejan Tumbas di menit ke-84.

Gol dianulir usai wasit meninjau VAR dan menyatakan Tumbas berada dalam posisi offside. Keputusan itu memancing protes keras dari bangku cadangan Persebaya Surabaya dan Semen Padang, yang memicu keributan. Munster terlihat meninggalkan area teknis dan mendatangi kubu lawan, memanaskan suasana.

Wasit utama asal Yordania, Adham Mohammed Tumah Makhadmeh, akhirnya mengusir Munster dan salah satu pelatih Semen Padang dari lapangan. Keputusan itu memperburuk catatan disiplin Munster musim ini.

Kartu merah tersebut membuat Munster dipastikan absen saat Persebaya Surabaya menghadapi Borneo FC pada pekan ke-33, Minggu (18/5/2025). Pertandingan itu sangat penting karena berpengaruh langsung terhadap posisi Persebaya Surabaya di papan atas klasemen.

Paul Munster memang dikenal emosional saat mendampingi timnya dari pinggir lapangan. Musim ini saja, ia sudah mengantongi empat kartu kuning sebelum akhirnya diusir wasit pada laga terakhir.

Empat kartu kuning itu didapatkan saat menghadapi PSS Sleman (11 Agustus 2024), Madura United (2 Desember 2024), dan Persis Solo. Dua di antaranya membuatnya sempat tidak mendampingi tim karena akumulasi.

Kini, kartu merah memperpanjang daftar absensinya yang merugikan tim di momen-momen penting. Absennya pelatih kepala sangat memengaruhi strategi dan motivasi para pemain.

Setelah pertandingan, Munster mengungkapkan kekecewaannya terhadap keputusan wasit. Namun, ia mengaku menerima sanksi tersebut dan berjanji tetap fokus mempersiapkan tim untuk laga berikutnya.

Sayangnya, absennya Munster datang di saat yang sangat tidak ideal bagi tim Green Force. Persebaya Surabaya sedang berjuang menjaga peluang juara di tengah ketatnya persaingan papan atas Liga 1.

Musim ini, Persebaya tampil apik di paruh pertama dengan mencatat 11 kemenangan, 4 imbang, dan hanya 2 kali kalah. Catatan tersebut sempat membawa mereka ke posisi dua klasemen sementara.

Namun performa mereka menurun di paruh kedua musim. Dalam 15 pertandingan terakhir, Persebaya Surabaya hanya menang 4 kali, imbang 6 kali, dan kalah 5 kali.

Kini mereka berada di posisi ketiga klasemen sementara dan berpotensi tergeser jika tidak konsisten. Laga melawan Borneo FC akan sangat menentukan, apalagi lawan mereka merupakan salah satu tim kuat musim ini.

Kehilangan Munster membuat Persebaya Surabaya harus cermat menata strategi tanpa arahan langsung dari sang pelatih di pinggir lapangan. Beban kini berada di pundak para asisten pelatih dan pemain senior.

Suporter juga mulai mempertanyakan konsistensi tim dan kepemimpinan di dalam manajemen teknis. Kedisiplinan menjadi faktor utama yang perlu segera dibenahi.

Tanpa sosok pelatih di laga penting, Persebaya Surabaya harus menunjukkan karakter kuat dan kekompakan. Tim harus beradaptasi cepat dalam situasi sulit agar tidak kehilangan momentum.

Di sisi lain, Munster diharapkan bisa belajar dari pengalaman ini dan mengendalikan emosinya di sisa musim. Sebab, satu kesalahan kecil bisa berdampak besar bagi ambisi klub.

Ketika semua tim sedang berjuang mati-matian di akhir musim, Persebaya Surabaya tidak boleh kehilangan fokus karena hal-hal non-teknis. Profesionalisme harus dikedepankan agar peluang menjadi juara tetap terjaga.

Persebaya Surabaya punya potensi untuk bersaing hingga akhir musim, tapi harus dibarengi dengan stabilitas dari segala aspek. Konsistensi performa dan kontrol emosi jadi kunci untuk mengakhiri musim dengan prestasi.

Dukungan dari Bonek dan Bonita juga dibutuhkan lebih dari sebelumnya. Di tengah ujian besar ini, soliditas seluruh elemen tim akan sangat menentukan nasib Persebaya Surabaya di pentas Liga 1 Indonesia 2024/2025.

Jika tim mampu melewati laga melawan Borneo FC dengan hasil positif, itu akan menjadi sinyal kebangkitan. Sebaliknya, jika kehilangan poin, harapan mereka bisa sirna di pekan-pekan terakhir.

Paul Munster harus mengevaluasi diri dan memberi contoh baik bagi para pemain. Sebab, sebagai pemimpin tim, setiap tindakannya memberi pengaruh besar dalam dan luar lapangan.

Persebaya Surabaya tak bisa terus terganggu oleh masalah disiplin dari pelatih kepala. Saatnya fokus, bekerja keras, dan membuktikan mereka layak berada di jalur juara.

EDITOR: Edy Pramana