JawaPos.com — Setelah menjadi juara nasional pada 1976, prestasi Persebaya Surabaya menurun drastis. Pada kompetisi Perserikatan 1985, mereka hanya berhasil menempati posisi sembilan dari sepuluh kontestan.
Tak hanya Persebaya Surabaya, Niac Mitra, yang juga tim asal Surabaya, mengalami nasib serupa. Meski sempat berjaya di awal era Galatama, prestasi Niac Mitra ikut terpuruk pada 1985.
Melihat kondisi ini, Dahlan Iskan dan Wali Kota Surabaya saat itu, dr. Poernomo Kasidi, ikut turun tangan. Bersama dengan para pemangku kepentingan, mereka berdiskusi untuk mencari cara membangkitkan kejayaan sepak bola Surabaya.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, disepakati bahwa Jawa Pos akan ikut berperan dalam pemberitaan dan promosi. Awalnya, posisi Jawa Pos sebagai media justru sering mengkritik keras Persebaya Surabaya.
Namun, kritik tajam yang dilontarkan setiap hari tidak juga membawa perubahan signifikan. Kondisi tim tetap stagnan, bahkan semakin terpuruk.
“Awalnya posisi Jawa Pos itu menjadi pengkritik Persebaya. Apalagi, terjadi kekisruhan pengurus saat itu,” kata Dahlan Iskan dikutip dari koran Jawa Pos edisi 2 Oktober 2015. “Tapi, dikritik keras, digebuki setiap hari, tidak membuat Persebaya lebih baik,” lanjutnya.
Dahlan Iskan, yang saat itu menjabat sebagai pimpinan Jawa Pos, mencoba pendekatan yang berbeda. Berdasarkan teori pendidikan, dia percaya bahwa terlalu sering dimarahi justru membuat seseorang semakin tertekan.
“Lantas, saya ingat teori pendidikan. Orang itu kalau dimarahi terus tambah tertekan. Maka kita coba cara lain, diberi kebanggaan,” kata mantan menteri BUMN tersebut.
Akhirnya, Jawa Pos memutuskan untuk memberikan dukungan yang lebih positif. Mereka memulai kampanye besar-besaran untuk membangkitkan kebanggaan pendukung Persebaya Surabaya.
Sebenarnya, Jawa Pos bukanlah media pertama yang memberikan perhatian besar pada sepak bola. Pikiran Rakyat di Bandung dan Analisa di Medan sudah lebih dulu melakukannya saat Persib Bandung dan PSMS Medan berjaya pada Perserikatan 1983 dan 1985.
Namun, perbedaan yang mencolok adalah Jawa Pos tidak hanya memberitakan, tetapi juga terlibat langsung dalam mengoordinasi suporter. Mereka menjadi bagian penting dari gerakan Tret-tet-tet yang menjadi ikon suporter Persebaya Surabaya.
“Nilai plus Jawa Pos adalah kami tak hanya memberitakan, tapi ikut terlibat mengoordinasi suporter dan menjadi bagian internal dalam tim,” kata Slamet Oerip Prihadi, mantan redaktur senior olahraga Jawa Pos.
Dalam kurun waktu 1987–1991, Dahlan Iskan bahkan dipercaya untuk mengurusi Persebaya Surabaya secara langsung. Jawa Pos turut membesarkan nama Persebaya Surabaya hingga euforia masyarakat terhadap tim ini mencapai puncaknya pada akhir 1980-an.
“Euforia masyarakat Surabaya dan Jawa Timur terhadap Persebaya pada dasawarsa 1970-an tak seheboh apa yang terjadi pada akhir 1980-an,” kata Fajar Junaedi, dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang juga sempat menulis buku Bonek. “Faktor Jawa Pos yang tak henti memberitakan bisa jadi alasan utama,” tambah Fajar.
Salah satu langkah paling berani yang dilakukan Jawa Pos adalah memobilisasi ribuan suporter untuk mengikuti pertandingan tandang. Tradisi ini dikenal dengan nama Tret-tet-tet, yang dimulai pada 4 Maret 1987.
Pada edisi tersebut, Jawa Pos mengajak para pembaca untuk mendukung Persebaya Surabaya yang akan berlaga melawan PSMS Medan di Stadion Senayan. Inilah momen pertama kali istilah Tret tet tet diperkenalkan ke publik.
Namun, sebenarnya, lima hari sebelumnya, rombongan suporter Persebaya Surabaya sudah melakukan perjalanan ke Jakarta untuk melawan Persija. Sayangnya, perjalanan itu tidak diumumkan secara luas dan hanya melibatkan empat bus.
Meskipun begitu, inilah awal mula pengorganisasian suporter secara masif. Dengan biaya sebesar Rp30.000 (jika disetarakan berkisar Rp500.000), para suporter tidak hanya mendapatkan perjalanan pulang-pergi, tetapi juga tiket stadion dan empat kali makan.
Tak hanya itu, setiap peserta juga diwajibkan mengenakan ikat kepala hijau bertuliskan "Persebaya 87" dan membawa terompet untuk menambah semarak suasana. Meski banyak yang mengeluh perjalanan berangkat terlalu malam, Tret-tet-tet pertama ini tetap berjalan sukses.
Sayangnya, pada pertandingan melawan Persija, terompet yang sudah disiapkan tidak banyak ditiup. Banyak yang mengaku lelah dan akhirnya enggan meniup terompet yang telah dibawa.
Pada Tret-tet-tet kedua yang diadakan melawan PSMS Medan, jumlah peserta yang ikut serta meningkat drastis. Informasi yang disebarkan lewat koran dan subsidi biaya perjalanan membuat banyak orang tertarik.
Tak hanya disubsidi oleh Jawa Pos, pengusaha Bambang Wiyanto dari PT Sinar Galaxy juga ikut menyumbang dana. Ketika Persebaya Surabaya berhasil lolos ke final dan berjumpa PSIS Semarang, permintaan dari suporter semakin membludak.
Melalui surat pembaca, banyak yang meminta agar biaya perjalanan dikurangi lagi. Jawa Pos bahkan sampai mengalami kerugian karena terus mengurangi biaya perjalanan bagi suporter.
“Karena sudah ditakdirkan begitu. Ide ini lahir secara spontan. Bahkan, dalam penentuan biaya per orang pun tidak dihitung cukup atau tidak cukup. Tapi, dengan harga segitu, orang terjangkau atau tidak,” tulis Dahlan Iskan.
Meski mengalami kesulitan finansial, Jawa Pos tetap berkomitmen untuk mendukung Persebaya Surabaya. Semua karyawan koran tersebut dikerahkan untuk menangani administrasi ribuan suporter yang ingin ikut ke Jakarta.
Banyak karyawan perempuan yang sampai jatuh sakit karena harus bekerja lembur. Meskipun demikian, semangat untuk mendukung Persebaya Surabaya tidak surut.
Pada 10 Maret 1987, Jawa Pos bahkan memuat tiga halaman penuh yang mencantumkan nama-nama suporter yang akan berangkat ke Jakarta. Puluhan bus dan belasan gerbong kereta api berangkat membawa ribuan pendukung Persebaya Surabaya ke ibu kota.
“Tuhan, kami 3.000 orang berangkat ke Jakarta. Selamatkan, Tuhan”. Itulah judul berita keberangkatan suporter yang muncul pada edisi 10 Maret 1987.
Sayangnya, pada pertandingan final melawan PSIS Semarang, Persebaya Surabaya harus takluk dengan skor 0-1. Meskipun kalah, tidak ada kerusuhan atau tawuran antarsuporter.
Inilah momen bersejarah di mana Tret-tet-tet resmi menjadi tradisi yang melekat pada suporter Persebaya Surabaya. Pada musim Perserikatan 1987-1988, Jawa Pos semakin sering mengorganisasi perjalanan suporter dengan ciri khas ikat kepala dan kaos seragam.
Primordialisme dan etnosentrisme yang melekat di masyarakat Jawa Timur semakin memperkuat ikatan antarpendukung. Bahkan, Jawa Pos sempat mengadakan Tret-tet-tet khusus untuk kalangan jetset dengan mencarter pesawat.
Menurut Abdullah alias Cak Doel, semangat kebersamaan yang tercipta pada akhir 80-an hingga awal 90-an adalah puncak kejayaan Persebaya Surabaya. Dia juga menilai bahwa momen-momen tersebut akan sulit terulang kembali.
“Titik puncak semangat kebersamaan mendukung Persebaya saya pikir terjadi pada akhir 80-an hingga awal 90-an. Jawa Pos punya andil besar,” kata Abdullah atau yang akrab disapa Cak Doel.
Tradisi Tret-tet-tet yang dimulai dengan biaya Rp30.000 telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Persebaya Surabaya. Meskipun tantangan dan perubahan terus datang, semangat untuk mendukung Green Force tetap berkobar di hati para pendukung setianya.
Begitu besarnya peran Jawa Pos dalam memobilisasi dan mengoordinasi suporter, tak heran jika hingga saat ini nama koran tersebut masih dikenang sebagai pionir di balik kebangkitan Persebaya Surabaya.
Tradisi ini telah menjadi bagian dari identitas Bonek yang tidak hanya mendukung tim di lapangan, tetapi juga membawa nama besar Persebaya Surabaya ke seluruh penjuru negeri.
Dari masa ke masa, semangat Tret-tet-tet terus menyala, menjadi simbol kebersamaan dan loyalitas yang tak tergoyahkan. Sebuah tradisi yang dimulai dengan Rp30.000, tetapi memiliki nilai yang tak ternilai harganya dalam sejarah sepak bola Surabaya.