JawaPos.com — Persebaya Surabaya dikenal sebagai salah satu klub legendaris di Indonesia. Tim kebanggaan Bonek ini memiliki sejarah panjang dalam kompetisi sepak bola nasional.
Salah satu momen paling membanggakan dalam perjalanan klub ini terjadi pada 2004, ketika Persebaya Surabaya meraih gelar juara Liga Indonesia.
Musim 2004 adalah musim yang dramatis. Persebaya Surabaya, yang baru saja kembali ke kasta tertinggi setelah menjuarai Divisi Satu pada 2003, berhasil memukau publik sepak bola Indonesia dengan performa luar biasa.
Mengandalkan kombinasi pemain-pemain berlabel bintang dan manajerial yang solid di bawah asuhan Jacksen F Tiago, Persebaya Surabaya mengukir sejarah sebagai salah satu klub elite di Indonesia.
Pada musim itu, Persebaya Surabaya berhasil merebut gelar juara Liga Indonesia untuk kedua kalinya setelah kemenangan pertama mereka pada 1996/1997.
Kompetisi tersebut semakin menantang karena sudah berubah format menjadi satu wilayah, berbeda dari musim-musim sebelumnya. Tak hanya itu, kompetisi musim 2004 juga diwarnai oleh persaingan ketat antara tiga tim besar: Persebaya Surabaya, PSM Makassar, dan Persija Jakarta, yang hanya berselisih tipis di papan klasemen hingga pekan terakhir.
Momen penentuan terjadi pada laga terakhir saat Persebaya Surabaya harus menghadapi Persija Jakarta di Stadion Gelora 10 November, Tambaksari. Sebelum laga, kondisi di Surabaya sedang hujan deras hingga menyebabkan garis lapangan harus dicat ulang sembilan kali.
Namun, pertandingan tetap berlangsung tepat waktu dan menjadi salah satu laga paling dikenang dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Persebaya Surabaya unggul cepat lewat gol Danilo Fernando pada menit kelima, tetapi Persija berhasil menyamakan kedudukan di babak kedua menit ke-50 lewat gol bunuh diri Mat Halil.
Ketika hasil imbang sudah cukup bagi Persija untuk meraih gelar, Persebaya Surabaya kembali unggul hanya tiga menit kemudian lewat sundulan Luciano Souza yang memastikan kemenangan 2-1.
Pesta kemenangan pun pecah di Tambaksari, dan Persebaya Surabaya memastikan gelar juara dengan koleksi 61 poin, sama dengan PSM Makassar, tetapi unggul dalam selisih gol. Persija, yang sempat memimpin klasemen, harus puas di posisi ketiga.
Namun, meskipun menjadi juara pada 2004, performa Persebaya Surabaya setelahnya mengalami pasang surut. Klub ini belum pernah lagi merasakan manisnya gelar juara hingga saat ini. Kini, setelah 20 tahun berlalu, harapan besar kembali membuncah di kalangan suporter setia Persebaya Surabaya, Bonek, karena Green Force berada di jalur yang tepat untuk kembali meraih kejayaan.
Di bawah asuhan pelatih Paul Munster, Persebaya Surabaya menunjukkan performa yang solid dalam kompetisi Liga 1 Indonesia musim 2024/2025. Kemenangan-kemenangan penting berhasil diraih, salah satunya ketika Persebaya Surabaya berhasil mengamankan tiga poin dalam dua laga berturut-turut di Bali, yang masing-masing berakhir dengan skor 1-0.
Pada laga terakhir melawan PSBS Biak di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Persebaya Surabaya menunjukkan pertahanan kukuh meskipun mendapat gempuran bertubi-tubi dari lawan.
Dalam pertandingan tersebut, meski sempat tertekan di babak kedua, solidnya lini belakang Persebaya Surabaya yang digawangi oleh Kadek Raditya, Slavko Damjanovic, Mikael Tata, dan Ardi Idrus berhasil mementahkan setiap serangan PSBS. Aksi heroik kiper Andhika Ramadhani juga menjadi kunci dalam mempertahankan keunggulan 1-0, terutama ketika dia berhasil menghalau tendangan keras dari Arganaraz.
Paul Munster, yang dikenal dengan pendekatan taktisnya, memilih untuk bermain lebih bertahan setelah unggul di babak pertama. Dengan memasukkan pemain-pemain seperti Riswan Lauhin dan Kasim Botan, Persebaya Surabaya mampu memperkuat lini belakang dan mempertahankan kemenangan hingga peluit akhir berbunyi. Kemenangan ini membawa Persebaya Surabaya menggeser Borneo FC dari puncak klasemen dan kini berada di posisi teratas dengan 16 poin.
Keberhasilan ini tentu memberikan harapan besar bagi Persebaya Surabaya untuk mengakhiri penantian panjang gelar juara sejak 2004. Selain itu, kompetisi Liga 1 Indonesia musim ini juga diwarnai oleh fakta bahwa tiga klub besar era perserikatan sudah lebih dahulu meraih gelar di era Liga 1 Indonesia.
Persija Jakarta meraih juara pada 2018, disusul oleh PSM Makassar pada musim 2022/2023, dan Persib Bandung yang menjuarai musim 2023/2024.
Kini, giliran Persebaya Surabaya yang berada di posisi kuat untuk menambah daftar klub besar perserikatan yang meraih juara di era Liga 1 Indonesia.
Kinerja Paul Munster dalam memimpin Green Force sangat menjanjikan, dan para suporter berharap bahwa musim 2024/2025 ini akan menjadi titik balik bagi Persebaya Surabaya untuk kembali ke puncak kejayaan.
Namun, perjalanan masih panjang. Konsistensi dan fokus menjadi kunci utama bagi Persebaya Surabaya untuk tetap berada di jalur juara hingga akhir musim. Tantangan berat masih menanti di sisa kompetisi, dan setiap pertandingan akan menjadi ujian apakah Green Force mampu menjaga performa positif ini hingga mengangkat trofi di akhir musim.
Satu hal yang pasti, dukungan Bonek akan terus mengalir untuk tim kebanggaannya. Mereka percaya bahwa dengan semangat, kerja keras, dan dukungan penuh, Persebaya Surabaya akan mampu mengulangi kesuksesan 20 tahun lalu dan kembali meraih gelar juara Liga Indonesia, kali ini di era Liga 1 Indonesia.
Dan, siapa tahu, musim ini bisa menjadi penanda dimulainya era kejayaan baru bagi Green Force di kancah sepak bola nasional.