JawaPos.com — Dalam rentang waktu hampir satu dekade, nama Aldo ‘Dodo’ Barreto telah menancap kuat dalam ingatan para pencinta sepak bola Indonesia, khususnya para pendukung PSM Makassar.
Pria berpaspor Paraguay ini tidak hanya dikenal sebagai ujung tombak yang tajam, tetapi juga sebagai salah satu pemain asing yang meninggalkan jejak berkesan di jagad sepak bola Tanah Air.
Kisah perjalanan karier Aldo Barreto di Indonesia dimulai pada 2006, ketika PSM Makassar di bawah arahan mendiang Henk Wullems mengajukan pinangan kepadanya.
Dodo, sapaan akrab Aldo Barreto, menerima tawaran tersebut dengan tulus hati. Dia datang ke Makassar setelah berkutat di Thailand Premier League bersama BEC Tero Sasana.
Bersamaan dengan kedatangannya, PSM Makassar juga mengorbitkan dua pemain asal Argentina, yaitu Luciano Olier dan Lucas Fernandez, untuk memperkuat lini serang.
Tidak butuh waktu lama bagi Aldo Barreto untuk beradaptasi dengan sepak bola Indonesia. Debutnya dalam balutan jersey merah PSM Makassar pada pertandingan melawan Persmin Minahasa pada 9 April 2006 langsung membuat publik Mattoanging terpikat.
Dalam pertandingan tersebut, Aldo Barreto mencatatkan namanya di papan skor, menambah kegembiraan para suporter dengan kemenangan 3-1 untuk PSM Makassar.
Kemampuan Aldo Barreto dalam mencetak gol segera menjadi sorotan utama. Dengan kerja sama yang apik bersama Ronald Fagundez, Aldo Barreto berhasil mengoleksi total 14 gol dalam 34 penampilannya di musim pertamanya bersama PSM Makassar. Kepiawaian Aldo Barreto tidak hanya terbatas pada Liga Indonesia, namun juga terbukti dalam ajang Piala Indonesia.
Namun, perjalanan Aldo Barreto di PSM Makassar tidak selalu mulus. Setelah kepergian Ronald Fagundez pada musim berikutnya, Aldo Barreto harus menghadapi tantangan baru dalam menemukan tandem yang sepadan.
Meskipun demikian, kontribusinya bagi tim tetap tak terbantahkan. Pada musim 2007, Aldo Barreto berhasil mencetak 16 gol dari 31 penampilannya, meskipun PSM Makassar tidak berhasil melaju jauh dalam kompetisi.
Tantangan terbesar bagi Aldo Barreto muncul pada musim 2008/2009. Tarik ulur antara manajemen dan pemain terkait pemotongan gaji para pemain asing menjadi momen krusial yang akhirnya memaksa Aldo Barreto untuk angkat kaki dari Makassar.
Persisam Samarinda akhirnya menjadi pilihan tempat berlabuh bagi sang striker, meskipun perjalanan menuju kesepakatan tidaklah mudah.
Meskipun hanya bermain setengah musim bersama Persisam, Aldo Barreto tetap menorehkan prestasi gemilang. Kontribusinya berhasil membantu Persisam meraih promosi ke Liga Super setelah menjadi juara Divisi Utama.
Selanjutnya, Aldo Barreto melanjutkan perjalanannya di kancah sepak bola Indonesia dengan membela beberapa klub lainnya, termasuk Bontang FC, Persiba Balikpapan, dan Persegres Gresik United.
Meskipun hanya satu trofi yang berhasil diraih, Aldo Barreto mampu menorehkan dua gelar individu yang menegaskan kualitasnya sebagai salah satu striker terbaik di Tanah Air.
Gelar Pemain Terbaik Divisi Utama pada musim 2008/2009 serta Top Skorer Liga Super pada musim 2009/2010 menjadi bukti konkret atas ketajaman Aldo Barreto di lapangan.
Kisah perjalanan Aldo ‘Dodo’ Barreto bersama PSM Makassar telah menjadi salah satu babak bersejarah dalam sejarah klub. Keterampilannya dalam mencetak gol dan dedikasinya bagi tim memberikan inspirasi bagi para pemain muda untuk mengejar mimpi mereka dalam dunia sepak bola.
Meskipun kini telah berpulang ke tanah kelahirannya, jejak Aldo Barreto akan tetap menginspirasi generasi mendatang dalam menggapai sukses di lapangan hijau.
Pencapaian Aldo Barreto selama berkarier di Liga Indonesia
Penghargaan Klub
Persisam Putra Samarinda | Liga Indonesia Premier Division (1): 2008/2009
Penghargaan Individu
Liga Indonesia Premier Division Best Player: 2008/2009
Indonesia Super League Top Goalscorer: 2009/2010