← Beranda
Mengenang Syamsul Arifin, Arek Malang Legenda Persebaya Surabaya Berjuluk si Kepala Emas
Moch. Rizky Pratama PutraKamis, 21 Maret 2024 | 01.02 WIB
LEGENDA: Meskipun berasal dari Malang, Syamsul Arifin telah menunjukkan dedikasinya bagi sepak bola Kota Surabaya dengan menjadi legenda bagi Persebaya Surabaya dan Niac Mitra.

 

JawaPos.com — Sepak terjang Syamsul Arifin sebagai seorang striker dengan sundulan maut telah mengukir sejarah dalam kompetisi sepak bola Tanah Air. Pemain yang akrab disapa Syamsul Arifin ini membawa warna tersendiri dalam arena pertandingan, terutama saat membela Niac Mitra dan Persebaya Surabaya.

Pada era Galatama, Syamsul Arifin berhasil meraih trofi juara sebanyak dua kali bersama Niac Mitra, yakni pada musim 1980-1982 dan 1982-1983. Di samping itu, ia juga mencatatkan diri sebagai top skorer dalam kompetisi tersebut pada periode yang sama.

"Alhamdulillah, saya masih kerap mendapat undangan dari teman-teman di Persebaya Oldstars untuk tur daerah. Tapi, mainnya hanya sebentar sudah nggak kuat," ungkap Syamsul Arifin dalam channel youtube Pinggir Lapangan.

Keberhasilan Syamsul Arifin tak berhenti di situ. Ketika membela Persebaya Surabaya, ia menjadi salah satu pilar utama dalam meraih gelar Perserikatan pada musim 1987-1988. Prestasi tersebut tidak lepas dari kontribusi besar Syamsul Arifin sebagai top skorer Perserikatan pada tahun yang sama.

Meskipun telah mengukir prestasi gemilang dalam karier sepak bolanya, Syamsul Arifin tidak pernah melupakan asal-usulnya. Ia tetap setia membela Niac Mitra dan Persebaya, klub yang telah membesarkan namanya, dan tidak pernah meninggalkan kota Surabaya walaupun mendapat tawaran dari klub-klub elit Galatama lainnya.

Keputusan tersebut tidak terlepas dari prioritas utamanya, yaitu menjaga kedekatan dengan keluarga. Bagi Syamsul Arifin, keluarga merupakan hal yang paling penting, sehingga ia memilih untuk tetap berada di Surabaya bersama orang-orang yang dicintainya.

"Istri saya kan berprofesi sebagai guru. Jadi tidak bisa kemana-mana. Bagi saya, dekat dengan keluarga adalah prioritas utama," terang Syamsul Arifin.

Dalam perjalanan kariernya, Syamsul Arifin tidak hanya berkiprah sebagai seorang pemain, tetapi juga sebagai seorang karyawan di sebuah bioskop yang dimiliki oleh manajemen Niac Mitra. Setiap malam, ia bertugas memeriksa tiket dan mengantar pelanggan bioskop ke tempat duduk mereka. Pagi harinya, waktu luangnya digunakan untuk berlatih sendiri guna meningkatkan kemampuannya sebagai seorang pemain sepak bola.

"Tanpa pikir panjang saya mengiyakan tawaran Niac Mitra dengan alasan utang budi," ungkapnya.

"Rutinitas latihan itu terus saya lakukan tiap hari diluar latihan reguler tim. Saya tak ingin keputusan meninggalkan Malang sia-sia," tegas Syamsul Arifin.

Perjalanan karier Syamsul Arifin juga tidak luput dari momen-momen menarik. Pernah suatu ketika, ia diberi kesempatan untuk menjadi pegawai di lingkungan Pemkot Surabaya setelah membawa Persebaya meraih gelar juara Perserikatan 1987/1988. Namun, Syamsul Arifin lebih memilih untuk menerima tawaran dari manajemen Niac Mitra sebagai bentuk balas budi atas dukungan mereka.

Kehadiran Syamsul Arifin dalam skuad Niac Mitra pada musim Galatama 1988/1989 menjadi momen penting bagi klub tersebut. Meskipun sudah tidak muda lagi, Syamsul Arifin mampu membawa kembali performa tim yang sedang terpuruk dan mencetak 12 gol, sehingga Niac Mitra berhasil naik ke papan atas klasemen.

Pada awalnya, Syamsul Arifin lebih sering bermain sebagai penyerang sayap yang kerap masuk ke tengah menjadi gelandang. Namun, kemampuannya sebagai striker baru dipatenkan ketika Niac Mitra berlaga di Aga Khan Gold Cup, Bangladesh pada tahun 1979. Dan sejak itu, ia dinilai sangat produktif sebagai seorang striker.

Tak hanya sebagai seorang striker, Syamsul Arifin juga pernah bermain di posisi-posisi lain di lapangan hijau, termasuk menjadi bek. Pada suatu kesempatan, ia bahkan dipercaya menjadi stoper dan libero di kompetisi resmi, menunjukkan fleksibilitas dan kemampuan yang luar biasa.

"Ketika Joko absen karena cedera, saya diplot jadi striker. Ternyata saya dinilai bagus dan produktif sebagai striker," kenang Syamsul Arifin.

Meskipun memiliki pengalaman yang cukup dalam dunia sepak bola, Syamsul Arifin tidak tertarik untuk melanjutkan karier sebagai pelatih. Ia merasa bahwa menjadi pelatih tidak sesuai dengan karakternya yang tidak suka banyak omong dan tidak tegas. Oleh karena itu, ia memilih untuk mengakhiri karier sebagai pemain sekaligus asisten pelatih pada akhir musim.

"Ketika saya terpaksa absen lama karena cedera. Om Basri pun meminta saya mendampinginya. Khususnya menangani latihan tim pada pagi hari," kata Syamsul Arifin.

"Saya orangnya tak suka banyak omong dan tidak tegaan. Ketika memimpin latihan, saya melihat banyak pemain tak serius menjalankan program dan malah bercanda. Karena tak tega, saya enggan menegur," imbuhnya.

"Saya merasa tidak cocok jadi pelatih. Akhirnya pada akhir musim, saya pensiun sebagai pemain sekaligus asisten pelatih," pungkas Syamsul Arifin.

Meskipun telah gantung sepatu, nama Syamsul Arifin tetap dikenang sebagai salah satu legenda sepak bola Indonesia. Ia adalah sosok yang tidak hanya berprestasi di lapangan hijau, tetapi juga menjadi contoh dalam menjaga kesetiaan dan dedikasi terhadap klub dan keluarga. Syamsul Arifin, sosok dengan julukan "Si Kepala Emas", akan selalu dikenang sebagai salah satu pahlawan sepak bola Indonesia yang telah mengharumkan nama Tanah Air di kancah internasional.

 

EDITOR: Estu Suryowati