JawaPos.com — Galatama 1979/1980, atau dikenal sebagai Galatama I, menandai awal dari era sepak bola semi-profesional di Indonesia. Musim pertama kompetisi ini tidak hanya diwarnai oleh persaingan sengit di lapangan, tetapi juga oleh regulasi unik yang mengatur administrasi dan pemain dalam kompetisi tersebut.
Sebagai badan yang mengelola Galatama, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menetapkan sejumlah regulasi yang harus dipatuhi oleh klub peserta. Dalam hal administrasi, PSSI mensyaratkan agar setiap klub memiliki badan hukum yang sah dengan modal kerja minimum Rp25.000.000 (atau sekarang sekitar Rp800.292.369). Selain itu, setiap klub diwajibkan memiliki minimal dua tim, yakni tim senior dan junior.
Tidak hanya itu, klub juga harus membayar uang muka sebesar Rp100.000 (sekarang sekitar Rp3.201.169) dan iuran bulanan sebesar Rp25.000 (sekarang sekitar Rp800.292) kepada PSSI. Regulasi ini bertujuan untuk memastikan kelangsungan dan keberlangsungan kompetisi Galatama serta mengutamakan kepentingan nasional dalam pengembangan sepak bola di Indonesia.
Selain regulasi terkait administrasi, terdapat juga regulasi yang mengatur pemain dalam kompetisi Galatama. Seorang pemain Galatama harus berusia minimal 18 tahun, memiliki surat keterangan dokter yang menyatakan keadaan kesehatannya yang baik, serta berkelakuan baik. Meskipun demikian, PSSI dapat memberikan dispensasi bagi pemain di bawah umur jika dianggap perlu.
Setiap pemain juga harus terdaftar secara resmi di klubnya dan memiliki naskah perjanjian dengan klub tersebut. Mereka diwajibkan untuk mentaati semua peraturan yang berlaku di klub dan PSSI serta memberikan segala kemampuannya dalam sepak bola kepada klub dan PSSI.
Status pemain Galatama pada saat itu masih sebagai pemain amatir, meskipun mereka memiliki nilai kontrak dan menerima bayaran sesuai kesepakatan dengan klub.
Regulasi ini juga mengizinkan klub Galatama untuk mempergunakan pemain asing, asalkan pemain tersebut telah mendapatkan izin dari pemerintah Republik Indonesia dengan rekomendasi dari PSSI serta persetujuan dari federasi sepak bola negara asalnya.
Hal ini menunjukkan bahwa Galatama tidak hanya mengakomodasi pemain lokal, tetapi juga membuka peluang bagi pemain asing untuk berkompetisi di Indonesia.
Dalam edisi pertama Galatama, terdapat 14 klub peserta yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. Klub-klub tersebut antara lain berasal dari Bandung, Bogor, Magelang, Medan, Surabaya, Tanjungkarang, dan Jakarta. Dengan jumlah peserta yang cukup besar, Galatama I menjadi kompetisi yang menarik perhatian pencinta sepak bola Tanah Air.
Daftar klub peserta edisi pertama Galatama 1979/1980 diikuti oleh 14 klub, seperti:
Bandung:
PS Sari Bumi Raya
Bogor:
Perkesa '78
Magelang:
Tidar Sakti
Medan:
Pardedetex
Surabaya:
NIAC Mitra
Tanjungkarang:
Jaka Utama
Jakarta:
Arseto FC
BBSA Tama
Buana Putra
Cahaya Kita
Indonesia Muda
Jayakarta
Tunas Inti
Warna Agung
Dengan regulasi yang unik dan beragamnya klub peserta, Galatama 1979/1980 berhasil menciptakan sebuah kompetisi yang menarik dan berpengaruh dalam sejarah sepak bola Indonesia. Meskipun telah berlalu puluhan tahun, kenangan akan regulasi-regulasi unik tersebut tetap menggema dalam ingatan para penggemar sepak bola Tanah Air.