JawaPos.com–Pertandingan La Liga antara Elche CF dan RCD Espanyol diwarnai insiden serius. Laga yang berlangsung sengit itu sempat dihentikan selama tiga menit setelah muncul dugaan tindakan rasisme di lapangan.
Wasit Iosu Galech Apezteguia mengambil keputusan menghentikan pertandingan pada menit ke-78. Dalam laporan resminya, dia menjelaskan bahwa penghentian dilakukan setelah bek Espanyol Omar El Hilali melaporkan komentar bernada rasial yang diduga diucapkan penyerang Elche Rafa Mir.
Sesuai protokol anti-rasisme UEFA, wasit berhak menghentikan laga ketika ada laporan dari pemain terkait dugaan diskriminasi. Setelah berdiskusi dengan ofisial keempat, pertandingan akhirnya dilanjutkan kembali.
Insiden ini langsung mendapat respons dari berbagai pihak. Espanyol menunjukkan dukungan kepada El Hilali lewat unggahan media sosial dengan pesan singkat bersamamu.
Sementara pihak La Liga menegaskan komitmen mereka untuk memerangi segala bentuk rasisme, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Di sisi lain, Elche menyatakan sikap menolak segala bentuk diskriminasi. Namun klub juga meminta semua pihak untuk menunggu kejelasan dan bukti sebelum menarik kesimpulan lebih jauh.
Terlepas dari kontroversi tersebut, pertandingan tetap berjalan panas hingga menit akhir. Rafa Mir menjadi sorotan setelah sukses mengeksekusi penalti pada menit ke-90. Gol itu memastikan duel berakhir imbang 2-2 dan kedua tim harus puas berbagi poin.
Kasus ini kembali mengingatkan bahwa isu rasisme masih menjadi pekerjaan rumah besar di sepak bola Eropa. Protokol penghentian pertandingan menjadi salah satu langkah konkret untuk menunjukkan bahwa tindakan diskriminatif tidak bisa ditoleransi.
Sebelumnya, penerapan protokol serupa juga terjadi di kompetisi Eropa yang melibatkan Real Madrid dan penyerangnya, Vinicius Junior, yang beberapa kali menjadi korban pelecehan rasial.
Peristiwa di laga Elche kontra Espanyol menegaskan bahwa pengawasan dan ketegasan perangkat pertandingan sangat dibutuhkan. Sepak bola seharusnya menjadi ruang kompetisi yang sehat, bukan panggung kebencian.