← Beranda

Eks Kiper Paraguay Chilavert Bikin Geger! Bela Prestianni dalam Insiden Rasisme Vinicius

M Shofyan Dwi KurniawanJumat, 20 Februari 2026 | 21.06 WIB
Presiden FIFA Gianni Infantino mengecam insiden rasisme terhadap Vinicius dalam laga Benfica vs Real Madrid dan memuji tindakan tegas wasit Francois Letexier yang langsung mengaktifkan protokol.

JawaPos.com - Insiden panas dalam laga Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid terus berbuntut panjang. Setelah Vinicius Junior menuduh Gianluca Prestianni melakukan pelecehan rasial, perdebatan pun meluas hingga ke berbagai sudut dunia sepak bola.

Rekan setim Vinicius, Kylian Mbappe, langsung memberikan dukungan terbuka. Ia mengaku mendengar Prestianni menyebut pemain Brasil tersebut sebagai "monyet" beberapa kali. 

Situasi sempat memanas hingga pertandingan dihentikan sementara selama 10 menit mengikuti protokol UEFA, sebelum akhirnya dilanjutkan kembali.

Di tengah gelombang solidaritas untuk Vinicius, sejumlah tokoh sepak bola turut angkat suara. Namun, komentar yang paling mengejutkan datang dari mantan kiper Paraguay, Jose Luis Chilavert.

Chilavert Bela Prestianni

Chilavert, yang dikenal sebagai kiper produktif dengan 67 gol sepanjang kariernya, kembali menjadi sorotan bukan karena prestasinya di lapangan, melainkan karena pernyataannya yang kontroversial.

Melansir Give Me Sport, dalam wawancara radio, ia justru membela Prestianni dan menyalahkan Vinicius.

"Saya bersimpati kepada Prestianni karena Vinicius adalah orang pertama yang menghina semua orang. Jika Anda melihat ke kamera, sebelum dia mengatakan 'cagon' [pengecut]. Penghinaan pertama datang dari pemain berkulit hitam," katanya.

Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras. Apalagi, kasus ini masih dalam penyelidikan dan Prestianni berpotensi mendapatkan larangan bermain hingga 10 pertandingan jika terbukti bersalah.

Namun Chilavert tidak berhenti di situ. Ia juga melontarkan komentar lain yang semakin memperkeruh suasana.

"Itu bisa membuat komunitas gay, lesbian, dan lainnya sebagai contoh yang harus diikuti. Dan tidak, sepak bola adalah lapangan persegi panjang tempat para pria bermain dan tempat kami biasa mengatakan segalanya satu sama lain. Sejak mereka memasang mikrofon dan video itu, itu dianggap gay."

Ia bahkan menambahkan, "Masalahnya sangat mendalam: dunia tempat kita hidup saat ini memiliki sedikit ingatan. Ada pertandingan antara Brasil dan Spanyol di mana kamera Netflix merekam Vinicius dan dia menangis sambil mengatakan bahwa dia menginginkan sepak bola di mana orang kulit hitam dapat hidup lebih baik. Dia sendiri melakukan diskriminasi. Apakah dia ingin orang kulit putih hidup dalam kemiskinan?"

Serangan ke Mbappe

Tak hanya Vinicius, Chilavert juga menyasar Mbappe setelah sang penyerang Prancis menyatakan dukungannya terhadap rekan setimnya.

"Apa yang bisa dia katakan? Mbappe berbicara tentang nilai-nilai dan semua itu, tetapi dia tinggal bersama seorang waria. Itu tidak normal. Setiap orang dapat melakukan apa pun yang mereka inginkan dalam hidup mereka, tetapi tidak normal bagi seorang pria untuk tinggal bersama seorang banci. Hal terbaik yang dapat Anda miliki di samping Anda adalah seorang wanita."

Komentar-komentar tersebut memicu kemarahan luas di media sosial. Banyak penggemar menilai pernyataan Chilavert tidak hanya tidak pantas, tetapi juga memperburuk situasi yang sudah sensitif.

Seorang penggemar menulis: "Ini benar-benar menjijikkan. Tidak ada alasan untuk membela apa yang dikatakan José Luis Chilavert. Bahasa rasis, komentar homofobik, dan menyeret identitas ke dalam perdebatan sepak bola sama sekali tidak dapat diterima."

Yang lain menambahkan: "Pernyataan seperti ini menunjukkan mengapa pendidikan dan akuntabilitas dalam olahraga sangat penting."

Kasus ini kini bukan lagi sekadar soal satu insiden di lapangan, melainkan juga tentang bagaimana figur publik menyikapi isu sensitif seperti rasisme dan diskriminasi. Sementara UEFA masih menyelidiki dugaan insiden yang terjadi, polemik di luar lapangan tampaknya belum akan mereda dalam waktu dekat.

EDITOR: Banu Adikara