← Beranda

Yakin Menang! Mourinho Tegas: Benfica Tak Butuh Keajaiban untuk Singkirkan Real Madrid

M Shofyan Dwi KurniawanRabu, 18 Februari 2026 | 01.21 WIB
Jose Mourinho percaya Benfica tak perlu keajaiban untuk mengalahkan Real Madrid di leg play-off Liga Champions. Duel panas di Estadio Da Luz dipastikan berlangsung sengit. (Instagram/@slbenfica)
 

JawaPos.com - Selasa (17/2) malam waktu setempat, lampu Estadio Da Luz kembali menyala untuk satu laga besar: Benfica vs Real Madrid. Atmosfernya? Sudah pasti panas. Taruhannya? Tiket ke babak berikutnya Liga Champions.

Pertemuan ini datang kurang dari sebulan sejak duel terakhir kedua tim di fase grup. Saat itu, Benfica racikan Jose Mourinho sukses bikin kejutan. Bukan cuma menang, tapi menang dengan cara yang benar-benar dramatis.

Gol penentuan lahir di menit ke-98. Dan bukan dari striker, bukan dari gelandang kreatif, tapi dari sang kiper, Anatoliy Trubin. Ya, kiper. Mourinho sendiri yang menyuruhnya maju saat situasi bola mati. 

Hasilnya? Sundulan yang mampu menggetarkan gawang dan memastikan kemenangan 4-2. Salah satu momen paling ikonik Benfica dalam satu dekade terakhir.

Gol tersebut juga krusial secara matematis. Selisih gol Benfica membaik menjadi -2 dan cukup untuk menggeser Marseille dari posisi ke-24 dengan selisih gol -3. Dari yang hampir tersingkir, langsung lolos ke fase gugur. Sepak bola memang kadang lebih dramatis dari sinetron jam prime time.

Namun, melansir Sports Illustrated, menjelang pertemuan ulang ini, Mourinho menegaskan satu hal: timnya tidak akan menggantungkan nasib pada “keajaiban” lagi.

"Saya rasa Benfica tidak membutuhkan keajaiban untuk menyingkirkan Real Madrid. Kita perlu berada dalam performa terbaik, hampir sempurna. Tentu saja, Real Madrid adalah Real Madrid. Sejarah, pengalaman, ambisi, tidak ada gunanya membandingkan," ungkap pelatih berjuluk The Special One tersebut.

"Satu-satunya hal yang bisa dibandingkan adalah Real Madrid sangat besar, dan Benfica juga sangat besar. Selain itu, tidak ada yang bisa dibandingkan. Tapi sepak bola memiliki kekuatan ini, dan kita bisa menang."

Mourinho tahu siapa lawannya. Ia pernah ada di sana. Ia paham betul DNA Madrid yang tak pernah menyerah. Tapi ia juga percaya pada kekuatan timnya sendiri.

Secara performa, Benfica memang datang dengan modal cukup solid. Setelah duel kontra Madrid, mereka sempat ditahan imbang Tondela, lalu bangkit dengan dua kemenangan beruntun atas Alverca dan Santa Clara di kompetisi domestik. Momentum mulai terbentuk, dan kepercayaan diri pun ikut naik.

Kembali ke panggung Eropa, Mourinho bahkan tidak menutup mata soal status lawannya.

"Saya memperkirakan akan menghadapi kandidat nomor satu untuk memenangkan Liga Champions."

Pengakuan yang realistis. Madrid tetap Madrid. Klub dengan sejarah dan mentalitas juara yang sulit ditandingi.

Namun Mourinho juga mengantisipasi perubahan dari kubu lawan. Ia menyadari bahwa kekalahan sebelumnya pasti sudah dianalisis habis-habisan.

"Jelas, saya mengharapkan lawan yang mirip dengan yang kita lihat setelah pertandingan Lisbon, di mana pelatih mampu memahami beberapa hal, mengubah struktur tim, dan mengubah kekalahan yang tak terduga menjadi tiga kemenangan beruntun di liga."

Artinya, duel ini bukan sekadar ulangan. Ini versi upgrade. Menariknya, di balik ambisi menyingkirkan Madrid, Mourinho tetap menunjukkan respek pada pelatih lawan, Alvaro Arbeloa. Ia bahkan mendoakan kesuksesan mantan anak asuhnya tersebut.

"Saya ingin sekali menyingkirkan Real Madrid, tetapi saya juga ingin melihat Alvaro memenangkan liga dan tetap berada di klub selama bertahun-tahun."

"Dia adalah pelatih yang sangat cakap, dengan semangat Madrid yang tinggi dan kepribadian yang dibutuhkan untuk mengelola Real Madrid, yang bukan pekerjaan untuk semua orang."

Ini gaya klasik Mourinho. Kompetitif di lapangan, tapi tetap menghargai hubungan personal.

Kini pertanyaannya sederhana: apakah Benfica bisa kembali menciptakan malam ajaib di Da Luz, atau Real Madrid yang akan membalas dengan mental juara khas mereka?

EDITOR: Edi Yulianto