← Beranda

Javier Tebas Ungkap Alasan Vinicius Junior Sering Jadi Korban Rasisme

M Shofyan Dwi KurniawanMinggu, 14 Desember 2025 | 01.23 WIB
Liga Arab Saudi masih bermimpi mendatangkan Vinicius Jr. (ig @vinijr)

JawaPos.com - Presiden La Liga, Javier Tebas, memberikan pembelaan terbuka dan tegas terhadap Vinicius Junior di tengah maraknya kasus rasisme yang menimpa bintang Real Madrid tersebut. 

Menurut Tebas, gelombang kritik dan pelecehan yang diarahkan kepada pemain asal Brasil itu tidak lepas dari kualitasnya yang terlalu menonjol di lapangan.

Melansir Madrid Universal, pernyataan ini disampaikan Tebas saat berbicara dalam acara LaLiga dan Parlemen Eropa bertajuk 'Kekuatan Semua Melawan Kebencian'. 

Dalam forum tersebut, ia memanfaatkan momentum untuk mengecam keras perilaku diskriminatif yang masih menghantui dunia olahraga, khususnya sepak bola Spanyol. 

Komentar Tebas muncul di saat para pemain top terus menghadapi pelecehan rasial, baik secara langsung di stadion maupun melalui media daring.

Menilai situasi Real Madrid

Dalam kesempatan yang sama, Tebas juga diminta menanggapi situasi terkini Real Madrid. 

Klub ibu kota itu sedang berada di bawah sorotan, dengan Xabi Alonso menghadapi fase penting musim ini, termasuk soal arah tim dan masa depannya sebagai pelatih. Namun Tebas menyoroti daya tahan Madrid dalam menghadapi tekanan.

“Saya sudah melihat film ini berkali-kali sebelumnya. Real Madrid adalah tim yang tahu bagaimana bangkit dari ketertinggalan,” ungkapnya.

“Xabi Alonso memiliki Real Madrid dalam DNA-nya, dan saya pikir dia, para pemain, dan klub akan keluar sebagai pemenang. Mereka memiliki mentalitas itu sejak kecil, dan Xabi telah menghayatinya di rumah.”

Saat diminta memberi saran langsung kepada Alonso, Tebas tetap menunjukkan dukungan penuh.

“Untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Dia adalah pelatih yang sukses, dan itu bukan hal mudah di Bundesliga dengan tingkat persaingan yang tinggi di sana,” tambahnya.

“Dia sudah sangat siap untuk mewujudkan ini. Saya mendoakan yang terbaik untuknya dan Real Madrid, karena mereka selalu keluar sebagai pemenang dalam situasi seperti ini,” ujarnya.

Sorotan soal rasisme di Spanyol

Pembahasan kemudian mengerucut pada laporan terbaru dari Observatorium tentang Rasisme dan Xenofobia di Spanyol, yang menegaskan bahwa masalah diskriminasi masih menjadi pekerjaan rumah besar di dunia olahraga.

Menanggapi hal itu, Tebas menekankan perlunya perlindungan institusional yang lebih kuat bagi para pemain.

“Kami akan terus berupaya untuk memastikan para pemain tidak menerima perlakuan buruk. Biasanya, pemain yang menonjol justru yang paling sering diserang,” jelasnya.

“Hal itu terjadi pada Vinicius: jika dia tidak begitu hebat dan seorang pemimpin yang luar biasa, dia mungkin tidak akan menerima begitu banyak serangan. Meskipun begitu, kita harus mencegah setiap agresi.”

“Dan jika seorang pemain menjadi sasaran khusus, kita harus lebih dekat dengannya untuk memberantas segala penghinaan atau ungkapan kebencian,” pungkasnya.

Bagi Tebas, kasus Vinicius bukan sekadar persoalan individu, melainkan cermin dari tantangan besar sepak bola Spanyol dalam memberantas rasisme.

Pesannya jelas: bakat besar tidak boleh dibayar dengan kebencian, dan perlindungan terhadap pemain harus menjadi prioritas bersama. 

EDITOR: Banu Adikara