JawaPos.com - Mantan manajer Manchester United, David Moyes, mengklaim bahwa klub tidak lagi berpegang teguh pada nilai-nilai yang ditanamkan oleh Sir Alex Ferguson.
Ia bersikeras bahwa hal ini telah menciptakan masalah yang memengaruhi kariernya di United lebih dari satu dekade lalu dan masih menjadi masalah bagi rezim saat ini.
Manajer legendaris Everton tersebut secara konsisten berprestasi bersama The Toffees selama 11 tahun di Goodison Park, bahkan sering membawa mereka ke kompetisi Eropa dengan anggaran yang sangat terbatas.
Baca Juga: Idrissa Gueye Kena Kartu Merah, David Moyes Beri Pembelaan
Namun, masa baktinya di Old Trafford hanya berlangsung kurang dari 11 bulan, karena ia dipecat menjelang akhir musim pertama dari kontrak berdurasi enam tahun.
Melansir Sports Illustrated, Moyes menyatakan bahwa Manchester United tidak memberinya cukup waktu untuk membangun skuadnya. Dan faktanya, tidak ada manajer United setelah Ferguson yang mampu menjabat lebih dari dua musim penuh. Moyes menyebut bahwa budaya klub tidak lagi dirancang untuk itu.
“Sejarah Manchester United bukanlah [sejarah perubahan],” kenang Moyes.
“Manchester United memiliki budaya yang hebat. Mereka berpegang teguh pada manajer mereka, mereka membawa pemain-pemain muda dari akademi mereka sendiri. Mereka benar-benar memiliki beberapa karakteristik terbaik yang Anda inginkan dari klub Anda: nilai-nilai yang baik.
“Sir Alex memiliki nilai-nilai luhur di Manchester United, dan selama bertahun-tahun, nilai-nilai yang ia tanamkan pun membutuhkan waktu untuk terwujud. Manchester United selalu menjadi klub dengan nilai-nilai brilian yang memahami pentingnya mengembangkan dan mendidik pemain muda dengan cara yang tepat.”
Mengingat konflik yang terjadi setelahnya, kesabaran tidak lagi dijamin oleh dewan Manchester United seperti yang dialami Moyes.
Moyes Membenarkan Kesulitan Man Utd
Waktu yang terbatas bukanlah satu-satunya faktor yang merugikan Moyes dua belas tahun lalu. Seperti yang ingin ditegaskan pelatih asal Skotlandia itu minggu ini, ia menghadapi persaingan yang sangat ketat.
“Saya selalu berpikir ketika saya menerima pekerjaan itu, masalahnya tidak akan bisa diselesaikan dengan cepat. Tak lama setelah saya mulai, saya menyadari bahwa itu akan memakan waktu,” kata Moyes.
Moyes juga mengisyaratkan bahwa dalam pengejaran gelar, penting untuk melihat kekuatan dari tim lainnya selain kekuatan tim sendiri. Hal itulah yang luput diperhatikan oleh manajemen klub Setan merah.
“Saya pikir kita juga harus ingat bahwa ini bukan hanya tentang kekuatan United. Ini tentang kekuatan tim-tim lain; Manchester City, Liverpool, Chelsea, dan Arsenal semuanya luar biasa kuat,” ucap Moyes.
“Mereka semua terus membangun kembali dan mendatangkan lebih banyak pemain. Saya pikir klub-klub tersebut memainkan peran yang sama besarnya dengan klub-klub lain, bahwa kualitas mereka telah meningkat atau terus meningkat,” tambahnya.
Moyes mewarisi tim yang menua ketika ia dipilih langsung oleh Sir Alex Ferguson untuk memimpin United menuju era baru.
Pemain-pemain kunci seperti Rio Ferdinand, Nemanja Vidić, Patrice Evra, dan Michael Carrick sudah berusia di atas 30 tahun. Robin van Persie mendekati usia 30 tahun, sementara Ryan Giggs hampir berusia 40 tahun.
Selain Ferguson yang pensiun, CEO David Gill juga memutuskan untuk mundur dan memulai era baru di pucuk pimpinan klub.
United khususnya kesulitan merekrut pemain, dengan Marouane Fellaini menjadi satu-satunya pemain baru. Itu pun dibeli dengan harga yang melambung setelah tenggat klausul pelepasan terlewati.
Ferguson sebenarnya telah menyiapkan kesepakatan untuk membawa Cristiano Ronaldo kembali sebelum ia pensiun. United juga menawarkan uang lebih besar daripada Real Madrid untuk Gareth Bale, sementara Cesc Fàbregas dan Toni Kroos turut diincar, tetapi semuanya tidak membuahkan hasil.