JawaPos.com — Lima puluh satu tahun lalu, dunia menyaksikan Belanda memperkenalkan Total Football dalam final Piala Dunia 1974. Johan Cruyff dan rekan-rekannya mempersembahkan sepak bola yang mengalir, menyerang, dan menawan hati banyak orang.
Permainan mereka bukan hanya tentang mencetak gol. Namun, juga tentang bagaimana cara menciptakan peluang dengan pergerakan yang dinamis dan kerja sama tim yang luar biasa.
Namun, keindahan itu tak cukup untuk meraih gelar juara. Jerman Barat menang 2-1. Orang-orang berteriak tidak adil, tetapi Cruyff menenangkan mereka dengan satu kalimat: "Keindahan akan selalu dikenang, bahkan melebihi kemenangan."
Pernyataan itu menjadi warisan abadi yang terus dipegang oleh generasi berikutnya. Bagi banyak orang, sepak bola lebih dari sekadar hasil akhir di papan skor.
Ucapan Cruyff itu menjadi pijakan bagi banyak pecinta sepak bola. Mereka memandang permainan ini sebagai seni. Sepak bola bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi juga tentang cara permainan itu disajikan.
Gerakan yang indah, penguasaan bola yang sempurna, dan skema permainan yang atraktif adalah elemen-elemen yang menjadikan sepak bola sebagai tontonan yang memikat.
Di sisi lain, ada mereka yang berpegang teguh pada pragmatisme kemenangan. Fabio Capello dan Jose Mourinho adalah contoh pelatih yang lebih mengutamakan hasil ketimbang keindahan.
Mereka percaya taktik yang efektif jauh lebih penting daripada gaya permainan yang enak ditonton.
Milan pada 1994 menjadi bukti pendekatan pragmatis mampu menghancurkan sepak bola indah. Barcelona yang kala itu dikenal sebagai "Dream Team" tak berkutik ketika dilumat 4-0 oleh Milan yang menerapkan strategi disiplin tinggi.
Milan bermain rapat, menutup ruang gerak lawan, dan memaksimalkan serangan balik yang cepat dan mematikan.
Tahun 2010, Internazionale Milan asuhan Mourinho kembali membuktikan bertahan adalah kunci kesuksesan. Mereka menyingkirkan Barcelona dengan permainan defensif sempurna dalam semifinal Liga Champions.
Meskipun dicap negatif oleh sebagian orang, Mourinho tidak peduli selama timnya bisa meraih kemenangan.
Banyak yang menyebut kemenangan itu sebagai "seni bertahan". Namun, bagi penggemar sepak bola menyerang, taktik seperti itu lebih layak disebut sebagai perusak keindahan permainan.
Perdebatan ini terus berlanjut hingga hari ini. Ini memisahkan pecinta sepak bola ke dalam dua kubu besar.
Sebenarnya, apa yang bisa dikategorikan sebagai seni dalam sepak bola? Apakah hanya permainan menyerang yang indah, atau pertahanan solid juga memiliki nilai estetika tersendiri?
Sepanjang sejarah sepak bola, banyak momen yang membuat orang bertanya-tanya. Apakah permainan ini lebih dekat ke seni atau sekadar kompetisi olahraga biasa?
Dalam dunia seni, keindahan sering kali ditentukan oleh otoritas tertentu. Sebuah kanvas kosong bisa disebut sebagai mahakarya jika dikurasi oleh orang yang tepat di tempat yang tepat.
Begitu juga dengan sepak bola, di mana gaya permainan tertentu bisa dianggap sebagai seni jika mendapat pengakuan luas.
Total Football Belanda diterima sebagai seni. Ini karena dimainkan dengan harmonisasi yang memanjakan mata. Pergerakan pemain yang saling bertukar posisi tanpa kehilangan keseimbangan adalah bukti dari seni dalam sepak bola.
Namun, bagaimana dengan Catenaccio? Apakah strategi bertahan mati-matian tak layak disebut sebagai seni?
Catenaccio, yang berasal dari Italia, mengandalkan pertahanan yang kokoh dan disiplin tinggi. Strategi ini memang tidak menghibur seperti Total Football, tetapi efektivitasnya telah terbukti.
Apakah seni harus selalu indah? Atau apakah seni juga bisa berupa efektivitas dalam mencapai tujuan?
Dalam logika, ada dua pendekatan dalam menentukan sesuatu sebagai seni. Pendekatan ontologi (sepak bola meliputi aspek sosial, emosional, dan estetika) mengatakan jika sesuatu berada dalam institusi seni, maka ia adalah seni.
Dengan kata lain, jika sepak bola menyerang dianggap lebih sering diapresiasi, maka ia otomatis menjadi seni.
Sementara itu, pendekatan epistemologi (menelusuri jejak bagaimana seni di sepak bola dibentuk, dikembangkan, dan diterapkan) lebih terbuka untuk mempertanyakan keabsahan sesuatu sebagai seni.
Dengan pendekatan ini, perdebatan tentang sepak bola sebagai seni masih bisa terus berlanjut. Tidak ada jawaban mutlak, karena setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda.
Xavi Hernandez, legenda Barcelona, memiliki pandangan tegas tentang sepak bola sebagai seni. Baginya, sepak bola bukan sekadar mencetak gol.
Namun, soal orkestra pergerakan bola yang melibatkan sebelas pemain. Setiap sentuhan bola, setiap operan, dan setiap pergerakan harus memiliki tujuan dan harmoni.
Menurutnya, seni dalam sepak bola terletak pada pemahaman taktik dan kontrol permainan. Ia menyebut perbedaan utama dalam sepak bola modern adalah talenta.
Pemain yang bisa memahami permainan lebih baik memiliki keunggulan besar dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan fisik semata.
"Talenta bukan sekadar kemampuan mengolah bola, tetapi bagaimana mengontrol permainan," kata Xavi. Ia percaya sepak bola harus dimainkan dengan kepala, bukan hanya dengan kaki.
Pemikiran yang cepat dan pengambilan keputusan yang tepat adalah kunci keberhasilan di lapangan.
Xavi selalu bertanya pada dirinya sendiri tentang apa yang terjadi di lapangan. Ia ingin memahami mengapa sesuatu terjadi, bagaimana cara mengatasinya, dan di mana letak pergerakan terbaik.
Sikap ini yang membuatnya menjadi salah satu gelandang terbaik dalam sejarah sepak bola.
Namun, tidak semua pemain memiliki pemikiran yang sama seperti Xavi. Banyak pemain yang hanya menjalankan instruksi tanpa memahami esensi permainan itu sendiri.
Mereka hanya menjadi bagian dari sistem, tanpa benar-benar mengerti apa yang mereka lakukan.
Baginya, pemain yang tidak memahami apa yang terjadi di lapangan tidak akan pernah mencapai potensi terbaiknya. Mereka hanya menjadi alat dalam sistem, bukan seniman di atas lapangan.
Itulah mengapa Xavi selalu menekankan pentingnya berpikir dalam bermain sepak bola.
Perdebatan tentang sepak bola sebagai seni akan terus berlangsung. Sepanjang sejarah, selalu ada perlawanan antara keindahan dan pragmatisme dalam dunia sepak bola.
Tidak ada yang benar-benar salah atau benar, karena sepak bola adalah permainan yang bisa dinikmati dari berbagai perspektif.
Dari Total Football hingga Catenaccio, dari Cruyff hingga Mourinho, semuanya memiliki tempat dalam sejarah permainan ini.
Setiap era memiliki gaya permainan yang mendominasi, dan setiap pelatih memiliki filosofi tersendiri dalam melihat sepak bola.
Pada akhirnya, apakah sepak bola adalah seni, tergantung dari sudut pandang siapa yang melihatnya. Bagi sebagian orang, keindahan adalah segalanya. Bagi yang lain, kemenangan adalah satu-satunya hal yang penting.
Apapun itu, sepak bola tetap menjadi permainan yang penuh gairah dan emosi. Baik itu permainan menyerang atau bertahan, selama ada orang yang menikmati, maka sepak bola akan selalu menjadi bagian dari seni dalam kehidupan.