JawaPos.com — Manchester City kembali terjerat dalam kontroversi yang mengguncang dunia sepak bola. Sidang atas 115 dakwaan yang diajukan oleh Premier League terhadap The Citizens terkait dugaan pelanggaran peraturan Financial Fair Play (FFP) akhirnya resmi dimulai pada Senin (16/9) kemarin. Kasus ini telah menarik perhatian publik sejak Februari 2023, ketika Premier League pertama kali menjatuhkan dakwaan kepada tim asuhan Pep Guardiola. Namun, proses yang berjalan lambat membuat banyak penggemar dan pengamat sepak bola bertanya-tanya, mengingat kasus ini jauh lebih rumit dibanding pelanggaran yang dilakukan klub lain seperti Everton dan Nottingham Forest.
Dalam beberapa bulan terakhir, Premier League telah mengambil tindakan cepat terhadap klub lain yang melanggar aturan keuangan, seperti Everton, yang mendapat pengurangan 10 poin (yang kemudian dikurangi menjadi enam poin). Namun, berbeda dengan kasus Manchester City, Premier League menyatakan bahwa skala, kedalaman, dan kompleksitas dari 115 dakwaan terhadap mereka membuat proses hukum berjalan jauh lebih lambat.
Lantas, apa saja sebenarnya pelanggaran yang dituduhkan kepada Manchester City? Bagaimana skenario hukuman yang mungkin mereka hadapi jika terbukti bersalah? Mari kita bedah satu per satu.
Premier League mendakwa Manchester City melanggar aturan keuangan selama sembilan tahun, tepatnya dari musim 2009-2010 hingga musim 2017-2018. Tuduhan ini terkait dengan penyampaian informasi keuangan yang tidak akurat kepada otoritas liga, termasuk laporan terkait kompensasi pemain dan manajer.
Dalam kasus ini, Premier League mengklaim bahwa City gagal memberikan laporan yang transparan dan akurat, sesuatu yang menjadi inti dari sistem Financial Fair Play yang diterapkan UEFA dan Premier League.
54 Dugaan Pelanggaran Informasi Keuangan
Manchester City dituduh gagal memberikan laporan keuangan yang akurat dan terkini terkait keuangan klub selama sembilan tahun.
Pelanggaran ini melibatkan aspek penting seperti pendapatan, sponsor, dan pengeluaran yang berpotensi besar memengaruhi keputusan liga mengenai kepatuhan klub terhadap FFP.
14 Dugaan Pelanggaran Laporan Kompensasi Pemain dan Manajer
Selain itu, ada tuduhan bahwa City tidak menyampaikan laporan yang akurat mengenai kompensasi pemain dan manajer.
Hal ini dapat mencakup bonus, gaji, serta berbagai kompensasi lain yang diterima oleh para pemain dan staf manajerial dari 2009 hingga 2018.
5 Dugaan Pelanggaran Peraturan UEFA
Klub yang dimiliki oleh Abu Dhabi United Group ini juga didakwa melanggar lima peraturan yang diberlakukan UEFA, termasuk pelanggaran terhadap Peraturan Lisensi Klub dan Financial Fair Play.
Dugaan ini memperkuat kasus bahwa City telah melakukan pelanggaran pada tingkat domestik dan internasional.
7 Dugaan Pelanggaran Peraturan Premier League
Pelanggaran ini terkait dengan peraturan profitabilitas dan keberlanjutan yang diberlakukan Premier League, terutama dari 2015-2016 hingga 2017-2018.
Premier League memiliki regulasi ketat mengenai profitabilitas klub yang bertujuan menjaga keseimbangan finansial seluruh tim yang berpartisipasi.
35 Dugaan Pelanggaran Atas Ketidakpatuhan Terhadap Investigasi
Yang juga sangat penting, ada 35 dugaan pelanggaran yang diajukan kepada City terkait kegagalan mereka bekerja sama dengan investigasi Premier League sejak Desember 2018. Hal ini mencakup tuduhan bahwa klub tidak memberikan dokumen atau informasi yang diminta dalam penyelidikan. Sikap ini, jika terbukti, dapat semakin memberatkan posisi City di mata hukum.
Dengan skala dan kedalaman tuduhan yang begitu besar, Manchester City bisa menghadapi berbagai bentuk hukuman, mulai dari sanksi finansial hingga pengurangan poin, bahkan degradasi dari Liga Premier. Meski hukuman degradasi tampaknya ekstrem dan jarang diterapkan, Premier League tetap memiliki wewenang untuk menerapkannya jika pelanggaran yang dilakukan dianggap sangat serius.
Skenario hukuman yang paling ringan adalah pengenaan denda besar kepada Manchester City. Hukuman ini biasanya dijatuhkan kepada klub yang terbukti melanggar peraturan keuangan, seperti halnya yang dilakukan UEFA terhadap beberapa klub di masa lalu. Namun, denda saja mungkin tidak cukup untuk kasus sebesar ini, mengingat skala dakwaan terhadap City jauh lebih besar daripada kasus lainnya.
Pilihan hukuman lain yang lebih berat adalah pengurangan poin, seperti yang dialami Everton pada musim sebelumnya. Jika Premier League memutuskan untuk mengambil langkah ini, Manchester City bisa kehilangan poin penting, yang dapat memengaruhi posisi mereka di klasemen liga dan mengancam ambisi mereka untuk meraih gelar.
Namun, ancaman paling serius bagi City adalah pencabutan gelar. Meskipun peraturan Premier League tidak secara spesifik mencantumkan pencabutan gelar sebagai bentuk hukuman, banyak pihak berpendapat bahwa jika Manchester City terbukti melakukan pelanggaran selama periode mereka memenangkan gelar, maka gelar-gelar tersebut bisa saja dicabut. Hal ini akan menjadi pukulan besar bagi klub yang telah mendominasi sepak bola Inggris dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam kasus sebesar ini, pertanyaan yang sering muncul adalah apakah Manchester City akan mengajukan banding terhadap putusan yang akan dijatuhkan oleh Premier League. Jika City memutuskan untuk mengajukan banding, proses hukum bisa menjadi lebih panjang dan rumit. Banding dapat diajukan ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), seperti yang pernah dilakukan City dalam kasus larangan tampil di kompetisi Eropa yang mereka menangkan pada 2020 lalu.
Namun, banding juga berarti memperpanjang ketidakpastian, baik bagi klub itu sendiri maupun bagi seluruh kompetisi Premier League. Selama proses banding berlangsung, City kemungkinan masih akan bisa bermain di liga, tetapi nasib gelar mereka tetap akan menggantung hingga keputusan akhir dijatuhkan.
Kasus Manchester City bukan hanya soal satu klub, tetapi juga soal integritas sistem keuangan dan regulasi dalam sepak bola Inggris. Jika terbukti bersalah, kasus ini dapat menjadi preseden penting dalam penerapan aturan FFP dan bagaimana Premier League menangani pelanggaran keuangan di masa depan. Klub-klub lain yang memiliki ambisi besar dengan sokongan dana besar dari investor luar negeri tentu akan mengamati dengan seksama hasil dari kasus ini.
Dalam beberapa tahun terakhir, sepak bola Inggris telah melihat peningkatan jumlah investasi dari luar negeri, yang sering kali membawa dampak positif dalam hal pembangunan klub. Namun, kasus Manchester City menjadi pengingat bahwa ada batasan yang harus dihormati, dan melampaui batas tersebut dapat membawa konsekuensi serius.
Kasus 115 dakwaan pelanggaran yang diajukan terhadap Manchester City saat ini telah memasuki babak baru dengan dimulainya sidang resmi. Meski proses ini bisa memakan waktu lama, hasil akhirnya dapat memiliki dampak besar, tidak hanya bagi City, tetapi juga bagi seluruh sepak bola Inggris dan berpotensi tak perpanjang kontrak Pep Guardiola yang akan habis pada 30 Juni 2025 karena kasus akan berlangsung hingga 2027 untuk mencapai vonis.
Apakah City akan dijatuhi denda besar, pengurangan poin, pencabutan gelar, atau bahkan degradasi, semuanya tergantung pada bagaimana sidang ini berlangsung. Yang pasti, sepak bola Inggris sedang menghadapi salah satu kasus terbesarnya sepanjang sejarah.